[SWEDIA] — Suara Partai Sayap Kanan Merosot untuk Pertama Kali Sejak 2010
Perolehan suara kelompok sayap kanan di Swedia mengalami penurunan mengejutkan dalam pemilihan umum terbaru. Berdasarkan penghitungan lebih dari 90 persen
Perolehan suara kelompok sayap kanan di Swedia mengalami penurunan mengejutkan dalam pemilihan umum terbaru. Berdasarkan penghitungan lebih dari 90 persen suara, blok sayap kiri dan sayap kanan bersaing sangat ketat, dengan kubu kiri memimpin tipis sebanyak tiga kursi parlemen. Hasil ini menandai kemunduran elektoral pertama bagi partai ekstrem kanan, Sweden Democrats (Demokrat Swedia), sejak mereka pertama kali menembus parlemen pada 2010.
Partai anti-imigran garis keras berakar neo-Nazi tersebut mencatatkan penurunan dukungan sebesar tiga poin persentase dibandingkan pemilu 2022, melorot dari 20,5 persen menjadi 17,6 persen. Penurunan ini sekaligus memaksa mereka melepaskan predikat sebagai kekuatan politik terbesar kedua di negara Nordik tersebut.
"Kami belum memiliki hasil pemilu yang final, tetapi jelas terlihat bahwa kami kehilangan beberapa poin persentase dibandingkan capaian kami empat tahun lalu," ujar pemimpin partai Jimmie Åkesson pada malam pemilu.
Melawan Arus Tren Sayap Kanan Eropa
Kekalahan elektoral Sweden Democrats terbilang anomali di panggung politik regional. Ketika partai-partai nasionalis sayap kanan mencatat lonjakan popularitas signifikan di berbagai negara Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Italia, Swedia justru menunjukkan arah yang berlawanan. Para analis politik menilai ada pergeseran struktural dalam strategi isu dan preferensi pemilih di negara tersebut.
Pengamat politik dari Universitas Lund, Anders Sannerstedt dan Annicka Freden, menjelaskan bahwa partai-partai arus utama Swedia kini telah mengadopsi sikap yang jauh lebih ketat terhadap para pencari suaka—sebuah isu yang sebelumnya dimonopoli oleh sayap kanan sejak krisis migran 2015.
"Dahulu, banyak warga memilih sayap kanan semata-mata karena menyukai ketegasan mereka terkait pengungsi, tanpa memandang mereka sebagai partai terbaik secara keseluruhan. Kini, hampir semua partai menerapkan kebijakan pembatasan serupa, sementara Sweden Democrats gagal mendominasi isu lain," jelas Freden.
Konsekuensi Aliansi dengan Ulf Kristersson
Faktor lain yang menggerus elektabilitas sayap kanan adalah keterlibatan mereka dalam lingkaran kekuasaan. Pada pemilu 2022, kemenangan Sweden Democrats mendorong Perdana Menteri Ulf Kristersson dari Partai Moderat membuat kesepakatan kontroversial demi membentuk pemerintahan minoritas.
Dalam kesepakatan tersebut, Sweden Democrats diberi pengaruh besar dalam penyusunan kebijakan publik, khususnya penanganan kriminalitas dan pengetatan imigrasi. Bahkan dalam kampanye terakhir, Kristersson menjanjikan kursi kabinet strategis bagi sayap kanan. Keterikatan erat ini memicu reaksi balik dari pemilih moderat yang ingin mengakhiri hegemoni pemerintahan Kristersson.
Secara analitis, ada beberapa faktor utama di balik merosotnya elektabilitas sayap kanan di Swedia:
- Normalisasi Isu Imigrasi: Partai arus utama (kiri maupun kanan) telah mengadopsi kontrol perbatasan yang ketat, menghilangkan daya tawar utama sayap kanan.
- Kegagalan Diversifikasi Isu: Sweden Democrats tidak berhasil membangun kredibilitas pada sektor ekonomi, kesejahteraan sosial, dan iklim.
- Sentimen Negatif terhadap Pemerintahan: Hubungan formal dengan koalisi berkuasa membuat partai sayap kanan ikut menanggung beban ketidakpuasan publik terhadap performa kabinet.
Comments (0)