SUMEDANG — Silaturahmi Adat MASL Dongkrak Ekonomi Budaya Sumedang

SUMEDANG — Majelis Adat Sumedang Larang (MASL) menggelar silaturahmi akbar bersama warga dan perwakilan masyarakat adat dari Bogor, Sukabumi, Bandung, dan

Jul 09, 2026 - 06:27
0 0

SUMEDANG — Majelis Adat Sumedang Larang (MASL) menggelar silaturahmi akbar bersama warga dan perwakilan masyarakat adat dari Bogor, Sukabumi, Bandung, dan sejumlah daerah lainnya di Kompleks Makam Keramat Prabu Geusan Ulun, Dayeuh Luhur, Sumedang, Sabtu (4/7/2027). Kegiatan yang dipusatkan di Saung Gajebo ini bukan sekadar forum diskusi sejarah dan budaya, melainkan juga membuka ruang potensi ekonomi berbasis kearifan lokal yang selama ini belum tergarap maksimal.

Ketua MASL, Susane Febriaty, S.H., menegaskan bahwa pertemuan ini menjadi katalisator untuk menyusun strategi pelestarian budaya yang berdampak pada penguatan ekonomi masyarakat adat. "Temu hari ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga kekayaan Nusantara bersama-sama. Dari Sumedang untuk Indonesia," ujarnya. Kehadiran lebih dari 150 peserta dari berbagai daerah menunjukkan tingginya minat terhadap revitalisasi ekonomi berbasis adat yang berkelanjutan.

Narasumber utama, Pak Tri, memaparkan materi tentang pemetaan kekayaan Nusantara yang mencakup aset budaya tak benda, situs bersejarah, hingga potensi ekowisata adat. Para peserta tampak antusias menyimak, mengingat Sumedang memiliki lebih dari 20 situs budaya utama yang tersebar di beberapa kecamatan, dengan estimasi potensi kunjungan wisata budaya mencapai 50.000 orang per tahun jika dikelola secara profesional. Diskusi semakin hidup ketika sesepuh adat dan kuncen setempat berbagi pengalaman tentang bagaimana ritus tradisional mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Analisis Dampak Ekonomi Silaturahmi Adat

Kegiatan silaturahmi adat semacam ini memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan. Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, sektor wisata budaya di wilayah Priangan Timur, termasuk Sumedang, berkontribusi sekitar 12–15% terhadap total kunjungan wisatawan lokal. Dengan adanya konsolidasi adat melalui MASL, potensi ini bisa ditingkatkan menjadi 20–25% dalam tiga tahun ke depan. Menurut Dr. Rinaldi, ekonom budaya dari Universitas Padjadjaran, "Pertemuan adat lintas daerah seperti ini menciptakan jaringan ekonomi informal yang kuat, mulai dari UMKM kuliner, homestay, hingga kerajinan tangan. Ini aset yang sering luput dari perhitungan PAD."

Dari sisi investasi sosial, silaturahmi ini juga memperkuat modal sosial (social capital) yang menjadi fondasi ekonomi kolektif. Biaya logistik kegiatan yang diperkirakan mencapai Rp75 juta bersumber dari swadaya dan donasi peserta, menandakan adanya kemampuan ekonomi komunitas yang mandiri. Dana tersebut berputar di sektor lokal: penyediaan konsumsi, transportasi, dan akomodasi sederhana yang seluruhnya melibatkan pelaku usaha mikro di sekitar Dayeuh Luhur.

Perbandingan Indikator Ekonomi Budaya Sumedang: Sebelum vs Proyeksi Pasca Konsolidasi MASL
Indikator Kondisi Saat Ini Proyeksi 2–3 Tahun
Kunjungan Wisata Budaya per Tahun 35.000 orang 50.000–60.000 orang
Jumlah UMKM Terkait Wisata Adat 80 unit 150 unit
Estimasi Transaksi Ekonomi Langsung Rp2,8 miliar/thn Rp5,2 miliar/thn
Event Adat Tahunan Terjadwal 4 acara 8–10 acara

Salah satu peserta dari Bogor mengungkapkan, "Kami datang jauh-jauh karena ingin belajar langsung di sumbernya. Di sini kami melihat bagaimana tradisi bisa hidup berdampingan dengan ekonomi modern." Apresiasi ini mencerminkan bahwa pertemuan adat tidak lagi dipandang sekadar seremoni, melainkan sebagai laboratorium ekonomi kreatif berbasis komunitas. Regenerasi pengetahuan adat yang dibahas dalam diskusi juga menjamin keberlanjutan SDM pengelola situs budaya—sebuah investasi jangka panjang yang sering diabaikan dalam perhitungan ekonomi formal.

MASL berencana menjadikan silaturahmi ini sebagai agenda rutin dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Jika terwujud, model kolaborasi adat-swasta-pemerintah ini bisa menjadi blueprint bagi daerah lain dalam mengonversi kearifan lokal menjadi produk ekonomi berdaya saing tanpa menghilangkan akar budayanya. Sumedang hari ini memberi contoh: adat bukan beban ekonomi, melainkan mesin pertumbuhan yang inklusif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User