Spanyol Juara Dunia 2026, Fabian Ruiz Cium Trofi Usai Kalahkan Argentina
Stadion New York New Jersey bergemuruh ketika Fabian Ruiz, gelandang andalan Spanyol, mengecup erat trofi emas Piala Dunia. Momen itu menjadi penutup sempurna bagi La Roja yang baru saja menumbangkan ...
Stadion New York New Jersey bergemuruh ketika Fabian Ruiz, gelandang andalan Spanyol, mengecup erat trofi emas Piala Dunia. Momen itu menjadi penutup sempurna bagi La Roja yang baru saja menumbangkan Argentina dengan skor 3-1 pada laga puncak Piala Dunia 2026, Minggu (20/7) malam waktu setempat. Ribuan suporter Spanyol yang memadati tribun menyaksikan langsung bagaimana tim asuhan Luis de la Fuente tampil dominan selama 90 menit, mengukuhkan gelar juara dunia kedua dalam sejarah mereka.
Pertandingan yang digelar di East Rutherford, New Jersey, itu langsung menyajikan tensi tinggi sejak peluit awal dibunyikan. Argentina, sang juara bertahan dari edisi 2022, mencoba mengontrol tempo lewat kaki Lionel Messi yang tampil dalam laga terakhirnya di pentas Piala Dunia. Namun, Spanyol justru tampil lebih efektif dengan penguasaan bola mencapai 59 persen sepanjang babak pertama. Pressing tinggi yang diterapkan membuat La Albiceleste kesulitan keluar dari tekanan.
Gol Pembuka yang Memecah Kebuntuan
Menit ke-23 menjadi titik balik ketika Fabian Ruiz sendiri membuka keunggulan Spanyol. Berawal dari skema sepak pojok yang dieksekusi Pedri, bola liar jatuh di kaki Ruiz yang berdiri bebas di luar kotak penalti. Tanpa berpikir panjang, gelandang Paris Saint-Germain itu melepaskan tendangan voli keras yang menghujam sudut kiri bawah gawang Emiliano Martínez. Skor 1-0 untuk Spanyol. Gol tersebut sekaligus menjadi gol keempat Ruiz sepanjang turnamen, menjadikannya salah satu pemain paling produktif dari lini tengah.
Argentina merespons dengan meningkatkan intensitas serangan. Messi beberapa kali mengirim umpan berbahaya ke kotak penalti, tetapi duet bek tengah Spanyol, Pau Torres dan Aymeric Laporte, tampil sangat solid. Hingga turun minum, skor 1-0 bertahan. Spanyol mencatatkan enam tembakan dengan tiga tepat sasaran, sedangkan Argentina hanya mampu melepaskan dua tembakan yang seluruhnya melenceng.
Babak Kedua: Dominasi dan Drama Kartu
Memasuki babak kedua, Argentina melakukan perubahan taktik dengan memasukkan Paulo Dybala untuk menambah daya gedor. Hasilnya, menit ke-57, Dybala mengirim umpan terobosan yang berhasil diselesaikan Julián Álvarez menjadi gol penyeimbang. Gol itu sempat dicek VAR karena dianggap offside, tetapi tayangan ulang menunjukkan posisi Álvarez masih sejajar dengan garis pertahanan terakhir Spanyol. Skor berubah 1-1.
Kedudukan imbang tak berlangsung lama. Hanya berselang tujuh menit, Spanyol kembali unggul melalui aksi gemilang Nico Williams di sisi sayap. Williams menusuk dari kiri, melewati dua bek Argentina, lalu mengirimkan umpan tarik yang disambut sundulan Yéremy Pino. Gol itu membawa Spanyol memimpin 2-1 pada menit ke-64. Tensi laga kian memanas ketika Rodrigo De Paul mendapat kartu kuning kedua pada menit ke-78 setelah melakukan pelanggaran keras terhadap Pedri. Bermain dengan 10 orang, Argentina makin kehilangan struktur permainan.
Penalti Penentu dan Momen Bersejarah
Menit ke-85, drama VAR kembali terjadi. Pelanggaran di kotak penalti yang dilakukan Nicolás Otamendi terhadap Álvaro Morata awalnya hanya dianggap sebagai kontak biasa oleh wasit. Namun, setelah meninjau monitor lapangan, wasit menunjuk titik putih. Morata yang maju sebagai eksekutor sukses memperdaya Martínez dan mengubah skor menjadi 3-1. Gol tersebut memastikan kemenangan Spanyol sekaligus memastikan Fabian Ruiz dan rekan-rekannya mengangkat trofi paling bergengsi di dunia.
Saat peluit panjang berbunyi, seluruh pemain dan staf Spanyol berlarian ke tengah lapangan. Momen paling emosional terjadi ketika Fabian Ruiz—yang terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan berkat satu gol dan 92 persen akurasi operan—mengambil trofi, menciumnya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan puluhan ribu pasang mata. Aksi itu langsung menjadi ikon kemenangan Spanyol malam itu.
Statistik Kunci: Penguasaan bola Spanyol 54% vs Argentina 46%; total tembakan 14 (7 tepat sasaran) vs 9 (3 tepat sasaran); umpan sukses 487 vs 378; pelanggaran 11 vs 17; kartu kuning 1 vs 4; kartu merah 0 vs 1. Fabian Ruiz mencatatkan 8 tembakan sepanjang turnamen, tertinggi keempat di timnya, dengan empat di antaranya berujung gol—sebuah deklarasi bahwa gelandang serang bisa menjadi pembeda di laga puncak.
Pelatih Luis de la Fuente, dalam konferensi pers usai laga, menyebut kemenangan ini sebagai hadiah bagi generasi emas Spanyol yang sudah bekerja keras sejak kegagalan di Piala Eropa 2024. "Kami membangun tim ini dengan keyakinan bahwa penguasaan bola dan transisi cepat bisa mengalahkan siapa pun. Malam ini, itu terbukti," ujarnya. Laga ini sekaligus menandai pensiunnya Lionel Messi dari pentas internasional dengan catatan 108 gol dan dua trofi Piala Dunia. Meski kalah, Messi menerima standing ovation saat meninggalkan lapangan, menunjukkan respek abadi dari dunia sepak bola untuk sang legenda.
Comments (0)