Ketika Kekuatan Badminton Dunia Merata, Indonesia Justru Tertinggal

Skor akhir Piala Thomas 2024 di Chengdu: China 3, Indonesia 1. Dua tahun sebelumnya di Bangkok, giliran India menang 3-0 atas Indonesia di partai puncak. Ironisnya, pada edisi 2020 di Aarhus, justru I...

Aug 24, 2026 - 15:34
0 0
Ketika Kekuatan Badminton Dunia Merata, Indonesia Justru Tertinggal

Skor akhir Piala Thomas 2024 di Chengdu: China 3, Indonesia 1. Dua tahun sebelumnya di Bangkok, giliran India menang 3-0 atas Indonesia di partai puncak. Ironisnya, pada edisi 2020 di Aarhus, justru Indonesia yang merebut gelar lewat kemenangan telak 3-0 atas China. Tidak ada yang berubah dalam sekejap — yang berubah adalah peta kekuatan bulu tangkis dunia yang kini makin merata, dan di tengah pemerataan itulah Indonesia paling sering menderita.

Ketika juara tak lagi bisa ditebak dari dua atau tiga negara saja, setiap turnamen menjadi ladang ranjau. Dan bagi Indonesia, era ini terasa paling pahit: dua final Piala Thomas beruntun berakhir dengan air mata, sementara negara-negara yang dulu dianggap “anak bawang” justru mulai memenangi gelar bergengsi.

Era Delapan Besar: Juara Tidak Lagi Bisa Ditebak

Sepanjang dekade 1990-an hingga awal 2000-an, gelar-gelar besar nyaris hanya berputar di lingkaran sempit: China, Indonesia, Malaysia, dan Denmark. Kini daftarnya jauh lebih panjang. India menahbiskan diri juara Thomas Cup 2022 lewat generasi emas Lakshya Sen dan Satwiksairaj Rankireddy. Denmark memiliki Viktor Axelsen, penguasa tunggal putra dengan dua medali emas Olimpiade dan segudang gelar Super 1000. Jepang, Korea Selatan, Thailand, bahkan Taiwan kini rutin menyelinap ke semifinal turnamen beregu maupun perorangan.

Datanya tegas. Enam nama berbeda meraih gelar tunggal putra All England pada periode 2018–2024; hanya Viktor Axelsen yang menang dua kali, dan itu pun tidak beruntun. Shi Yuqi, Kento Momota, Lee Zii Jia, Li Shifeng, hingga Jonatan Christie silih berganti naik podium. Artinya, tidak ada lagi jalan tol menuju gelar. Untuk menjadi juara hari ini, seorang pemain harus sanggup menghadapi tiga atau empat gaya permainan berbeda dalam satu turnamen — dari reli panjang khas Jepang, kecepatan smash khas Denmark, hingga kelincahan netting khas Korea.

Dua Final Beruntun: Dekat, tapi Jatuh di Puncak

Yang paling menyakitkan bagi Indonesia bukanlah kegagalan di babak awal, melainkan dua kekalahan beruntun di partai final Piala Thomas. Di Bangkok 2022, Indonesia datang sebagai juara bertahan namun dipaksa menyerah telak 0-3. Di Chengdu 2024, perlawanan jauh lebih sengit: satu-satunya poin Indonesia lahir dari kemenangan Jonatan Christie atas Li Shifeng, tetapi skor akhir tetap 1-3 untuk tuan rumah China.

Pola kekalahannya nyaris identik. Di laga-laga penentu, poin demi poin terlepas dari tangan pemain Indonesia pada gim penentuan. Penguasaan permainan di dua gim pertama nyaris selalu berpihak kepada Indonesia, tetapi begitu laga memasuki gim ketiga, posisi berbalik. Banyak laga yang seharusnya menang justru berakhir kekalahan karena kehilangan fokus di interval kedua, atau karena terlalu sering memaksakan serangan ke area yang justru dijaga ketat lawan.

Catatan statistiknya juga bicara: dari seluruh partai yang dimainkan Indonesia di dua final tersebut, sebagian besar berjalan tiga gim, dan mayoritas kemenangan di gim penentuan jatuh ke pihak lawan. Artinya, secara kualitas Indonesia tidak tertinggal jauh — tetapi di momen-momen kritis, konsentrasi dan eksekusi justru menjadi pembeda.

Ketebalan Skuad: Masalah yang Paling Terlihat

Kekuatan satu atau dua pemain bintang tidak lagi cukup di era pemerataan ini. China datang ke final Chengdu dengan tiga tunggal putra siap tempur: Shi Yuqi, Li Shifeng, dan Weng Hongyang. India memelihara kedalaman luar biasa lewat Lakshya Sen, H.S. Prannoy, dan Srikanth Kidambi. Di sektor ganda, setiap negara besar menyimpan minimal dua pasang kelas dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Setelah Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie, nama Chico Aura Dwi Wardoyo dan Alwi Farhan memang muncul, tetapi keduanya belum konsisten menembus babak akhir turnamen BWF World Tour. Di ganda putra, ketergantungan pada pasangan senior seperti Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan berlangsung terlalu lama. Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto sempat bertengger di ranking satu dunia, tetapi pasangan muda lain belum menemukan konsistensi untuk menggantikan mereka.

Jalan Pulang: Pemerataan Bukan Alasan, Tapi Cermin

Kabar baiknya, Indonesia membuktikan diri masih mampu bersaing di level individu. Gelar All England 2024 milik Jonatan Christie mengakhiri penantian 30 tahun tunggal putra Indonesia di turnamen tertua dunia itu — terakhir kali dicapai Hariyanto Arbi pada 1994. Artinya, kualitas juara tidak hilang; yang kurang adalah kedalaman, regenerasi, dan ketahanan mental dalam format beregu.

“Kami tidak kalah karena lawan lebih hebat, melainkan karena terlalu banyak poin kritis yang kami buang sendiri,” begitu pengakuan yang nyaris selalu keluar dari kubu pelatih usai laga final. Kalimat itu, jika tidak dijawab dengan evaluasi data yang serius — mulai dari analisis reli, efektivitas serangan, hingga pembinaan usia dini — hanya akan berulang di setiap final berikutnya.

Pemerataan kekuatan dunia bukan ancaman bagi Indonesia; ia cermin yang jujur. Saat negara lain berinvestasi pada kedalaman skuad dan regenerasi, Indonesia masih bertumpu pada segelintir nama. Selama itu belum berubah, Indonesia akan terus menjadi peserta final yang gagal menutup cerita — dekat, tetapi selalu kehilangan langkah terakhir di atas podium.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User