Spanyol Bantai Prancis, Digne dan Olise Dapat Nilai 2 dari Media
Prancis mengakhiri langkah di Piala Dunia 2026 dengan cara yang menyakitkan. Langkah Les Bleus terhenti di semifinal setelah dihajar Spanyol tiga gol tanpa balas di Stadion MetLife, New Jersey, Rabu (...
Prancis mengakhiri langkah di Piala Dunia 2026 dengan cara yang menyakitkan. Langkah Les Bleus terhenti di semifinal setelah dihajar Spanyol tiga gol tanpa balas di Stadion MetLife, New Jersey, Rabu (8/7) waktu setempat. Skor akhir 3-0 untuk La Furia Roja bukan hanya memupus mimpi mempertahankan gelar juara dunia, tetapi juga membongkar dua titik lemah utama di kubu Didier Deschamps: bek kiri Lucas Digne dan penyerang sayap Michael Olise. Keduanya menjadi sasaran kritik paling tajam di media Prancis keesokan harinya dengan nilai 2 dari skala maksimal 10.
Dominasi Spanyol sejak Peluit Awal
Pertandingan berjalan timpang sejak menit pertama. Spanyol yang turun dengan formasi 4-3-3 mengandalkan trio Pedri, Rodri, dan Gavi di lini tengah. Mereka menguasai bola hingga 64 persen sepanjang 90 menit dan melepaskan delapan tembakan tepat sasaran, tiga di antaranya berbuah gol. Sebaliknya, Prancis hanya mampu mencatatkan dua tembakan mengarah ke gawang Unai Simón. Statistik penguasaan bola tersebut menjadi cerminan betapa buruknya organisasi permainan tim asuhan Deschamps.
Gol pembuka lahir pada menit ke-23. Sebuah serangan cepat dari sisi kanan pertahanan Prancis yang dijaga oleh Digne berujung kemelut. Umpan silang Lamine Yamal tak mampu dihalau dengan sempurna oleh mantan pemain Everton itu. Bola justru jatuh ke kaki Pedri yang tanpa kesulitan menaklukkan Mike Maignan dari dalam kotak penalti. Menit ke-23, Pedri melepaskan tembakan first-time yang tak terjangkau. Digne yang seharusnya menutup ruang tembak malah terlambat bereaksi.
Spanyol menggandakan keunggulan tepat sebelum turun minum. Kali ini lewat skema sepak pojok pada menit ke-45+1. Nico Williams yang lepas dari kawalan Digne menyundul bola ke sudut atas gawang. Kesalahan posisi Digne dalam situasi bola mati kembali menjadi sorotan. Hingga babak pertama usai, Prancis tak sekalipun menciptakan peluang berbahaya. Data mencatat xG (expected goals) mereka hanya 0,12 pada 45 menit awal.
Neraka di Sisi Olise
Jika Digne menjadi biang keladi di lini belakang, Michael Olise tak kalah buruk di depan. Pemain milik Bayern Munich itu ditempatkan sebagai penyerang sayap kanan dalam starting XI yang mengandalkan formasi 4-2-3-1. Namun, sepanjang laga ia hanya mampu melepas satu tembakan yang melebar dan mencatatkan akurasi umpan di bawah 70 persen. Beberapa kali ia kehilangan bola di area berbahaya yang nyaris dihukum oleh serangan balik cepat Spanyol.
Puncaknya terjadi pada menit ke-67 saat Spanyol mencetak gol ketiga. Olise gagal mengontrol bola di tengah lapangan setelah menerima umpan pendek dari Aurélien Tchouaméni. Bola direbut Pedri yang langsung mengirim terobosan kepada Lamine Yamal. Pemain muda Barcelona itu melewati Digne yang sudah mati langkah dan melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti. Menit ke-67, Yamal mencatatkan namanya di papan skor lewat aksi individu setelah memanfaatkan blunder Olise. Gol tersebut sekaligus memastikan kemenangan telak Spanyol dan tiket ke final.
Sepanjang 70 menit sebelum ditarik keluar, Olise hanya mencatatkan 18 sentuhan bola dan dua kali berhasil melewati lawan. Ia juga tak sekalipun menciptakan key pass atau umpan kunci ke lini depan. Padahal, di atas kertas ia diproyeksikan menjadi motor kreativitas serangan bersama Kylian Mbappé yang juga tampil di bawah performa terbaiknya.
Penilaian Media yang Telak
Sehari setelah kekalahan memalukan tersebut, surat kabar olahraga ternama Prancis tanpa ampun memberi nilai 2 untuk Digne dan Olise. Dalam skala penilaian mereka yang ketat, hanya pemain yang melakukan blunder fatal berulang kali yang mendapatkan nilai serendah itu. Bahkan, kiper Maignan yang kebobolan tiga gol masih mendapat nilai 4 berkat beberapa penyelamatan penting.
“Kami tidak bisa memaafkan kesalahan individu di level ini. Dua pemain itu benar-benar mengalami mimpi buruk,” tulis analis sepak bola senior. Rekan setim tak luput dari kritik, tetapi sorotan utama tetap pada Digne dan Olise. Clean sheet yang gagal diraih dan minimnya kontribusi ofensif menjadi alasan kuat di balik penilaian tersebut. Data statistik lanjutan menunjukkan Digne hanya memenangi satu dari enam duel udara dan kalah dalam tiga situasi dribel lawan. Sementara Olise mencatatkan expected assists (xA) sebesar 0,03, angka yang sangat rendah untuk pemain dengan peran kreator.
Pelatih Didier Deschamps dalam konferensi pers pascapertandingan tak menunjuk individu tertentu, namun nada bicaranya menyiratkan kekecewaan mendalam. “Kami kalah dari tim yang lebih baik malam ini. Beberapa pemain tidak berada di level yang seharusnya. Saya tidak akan menyalahkan satu atau dua nama, tapi kami harus jujur mengevaluasi semua,” ujarnya. Deschamps juga mengakui bahwa formasi 4-2-3-1 yang ia terapkan gagal menetralkan keunggulan teknis lini tengah Spanyol.
Catatan Kelam di Buku Sejarah
Kekalahan ini menjadi yang terbesar bagi Prancis di fase gugur Piala Dunia sejak 2002. Bagi Digne, yang tampil menggantikan posisi Theo Hernández yang cedera, malam di New Jersey akan menjadi kenangan pahit sepanjang karier. Sementara Olise, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai bintang masa depan, kini harus menghadapi tekanan publik yang meragukan kapasitasnya di turnamen besar.
Media Prancis menutup catatan mereka dengan kalimat pedas: “Ketika Anda mengenakan jersey Les Bleus, Anda tidak bisa hanya berlari. Anda harus berpikir, bertarung, dan tampil dengan harga diri.” Kalimat itu sepertinya tepat ditujukan kepada dua pemain yang menjadi bulan-bulanan usai laga. Kini, Prancis harus pulang dengan kepala tertunduk sementara Spanyol melenggang ke final untuk menantang Argentina. Skor akhir 3-0 menjadi pengingat bahwa di level tertinggi, sepak bola bisa sangat kejam.
Comments (0)