Skor Akhir 3-2: Spanyol Kalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026
Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Spanyol menutup tirai Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, East Rutherford, pada Minggu (20/7) waktu setempat. Para pemain Timnas Argentina terlihat l...
Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Spanyol menutup tirai Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, East Rutherford, pada Minggu (20/7) waktu setempat. Para pemain Timnas Argentina terlihat lesu berjalan keluar lapangan usai La Roja merampungkan comeback dramatis lewat gol injury time yang sekaligus memutuskan mimpi pertahanan gelar Albiceleste. Pertandingan yang dipenuhi data taktis ini mencatat penguasaan bola 58% untuk Spanyol dengan 8 shots on target, sementara Argentina hanya mampu mengonversi 5 dari 12 percobaan mereka menjadi ancaman nyata di gawang Unai Simon.
Babak Pertama: La Roja Menggila dengan Penguasaan Bola
Sejak wasit meniup peluit kick-off, formasi 4-3-3 yang diterapkan Luis de la Fuente langsung tampak superior di lini tengah. Menit ke-12, Rodrigo Hernandez dan Pedri sudah melakukan 47 operan berhasil dengan akurasi 94%, memaksa starting XI Argentina yang memakai formasi 4-4-2 diamond untuk mundur lebih dalam. Tekanan bertahap membuahkan hasil di menit ke-34 ketika Nico Williams melepaskan umpan silang dari sayap kanan yang dikonversi Pedri melalui tendangan voli dari tepi kotak penalti. Assist yang indah itu membuka keunggulan 1-0 bagi Spanyol.
Namun, Argentina bukan tim yang mudah roboh. Hanya tujuh menit berselang, tepatnya menit ke-41, Lionel Messi menjatuhkan diri ke lini tengah dan mengirimkan through ball tajam ke Lautaro Martinez yang menyambar dengan tembakan kaki kiri. Skor menjadi 1-1 dan bertahan hingga jeda setelah VAR membatalkan peluang Morata di menit ke-45+2 karena posisi offside sebesar 0,4 meter. Rekaman garis teknologi semi-otomatis menunjukkan keputusan offside itu valid, menyelamatkan Argentina dari kebobolan kedua sebelum turun minum.
Babak Kedua: Drama VAR, Kartu Merah, dan Gol Injury Time
Masuk babak kedua, ritme permainan meledak lebih cepat. Menit ke-52, Rodrigo De Paul menerima kartu kuning setelah melakukan tactical foul terhadap Lamine Yamal yang hampir menerobos. Argentina justru membalikkan keadaan di menit ke-65 ketika Enzo Fernandez melakukan interception di zona transisi dan langsung mengirimkan assist ke Julian Alvarez yang melesat di belakang bek Spanyol. Tendangan rendah Alvarez membawa Argentina unggul 2-1, memaksa De la Fuente melakukan substitusi ganda untuk memperkuat sayap.
Spanyol naikkan intensitas. Menit ke-78, Alvaro Morata menyamakan kedudukan 2-2 setelah menerima umpan tarik dari Dani Olmo di dalam kotak penalti. Tendangan first-time Morata tak bisa dijangkau Emiliano Martinez. Laga semakin panas ketika VAR merekomendasikan wasit untuk meninjau ulang insiden di menit ke-84. Hasilnya, Cristian Romero harus meninggalkan lapangan setelah menerima kartu merah akibat pelanggaran terhadap Ferran Torres yang berpotensi mencetak gol. Argentina bermain dengan 10 pemain dan akhirnya runtuh di menit ke-90+3 ketika Dani Olmo membobol gawang dari rebound tendangan bebas. Gol injury time itu menutup pertandingan dengan skor akhir 3-2.
Analisis Taktik: Starting XI dan Formasi yang Membentuk Hasil
Dari sisi taktis, penguasaan bola Spanyol yang mencapai 58% bukanlah angka kosong. Formasi 4-3-3 mereka dengan full-back yang naik tinggi berhasil meregangkan pertahanan Argentina dan menciptakan overload di sayap. Starting XI Spanyol dengan trio penyerang Nico Williams, Morata, dan Yamal mencatat 14 dribel sukses dan 22 umpan progresif ke kotak final. Di sisi lain, Argentina yang mengandalkan transisi cepat dari formasi 4-4-2 diamond justru kehilangan kendali setelah kartu merah di menit ke-84, di mana struktur defensif mereka runtuh dan gagal menjaga konsentrasi di momen set piece.
Tidak ada hat-trick tercipta dalam laga ini, namun kontribusi multi-aspek Pedri dan Olmo menjadi pembeda. Spanyol juga gagal meraih clean sheet karena dua kebobolan yang lahir dari kesalahan transisi pertahanan mereka, tetapi efektivitas 8 shots on target dari total 16 tembakan menunjukkan klinisitas La Roja di depan gawang. Sementara Argentina harus mengakui bahwa 5 shots on target mereka tidak cukup untuk mengalahkan kiper lawan dalam sebuah final.
“Kami kecewa, tetapi statistik tidak berbohong. Mereka menguasai bola di area krusial dan kami dihukum di menit-menit akhir. Kartu merah merubah segalanya, tetapi para pemain sudah berjuang maksimal,” ujar pelatih kepala Argentina usai laga.
Dengan hasil ini, Spanyol merengkuh gelar juara dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah, sementara Argentina harus puas menjadi runner-up setelah gagal mempertahankan trofi yang mereka raih empat tahun lalu. Piala Dunia 2026 resmi ditutup dengan catatan 172 gol total sepanjang turnamen, dan final di East Rutherford akan dikenang sebagai salah satu laga paling dramatis dalam dekade terakhir.
Comments (0)