Sepp Blatter dan Michel Platini Kembali Bebas dari Kasus Korupsi

Peluit panjang akhirnya berbunyi di ruang sidang Swiss. Mantan presiden FIFA Sepp Blatter dan eks ketua UEFA Michel Platini resmi dibebaskan untuk kedua kalinya pada Selasa, 25 Maret 2025, setelah maj...

Aug 26, 2026 - 08:51
0 0
Sepp Blatter dan Michel Platini Kembali Bebas dari Kasus Korupsi

Peluit panjang akhirnya berbunyi di ruang sidang Swiss. Mantan presiden FIFA Sepp Blatter dan eks ketua UEFA Michel Platini resmi dibebaskan untuk kedua kalinya pada Selasa, 25 Maret 2025, setelah majelis hakim banding menolak seluruh dakwaan korupsi yang digugurkan Kejaksaan Agung Swiss terhadap keduanya. Putusan ini menegaskan vonis pembebasan yang telah diraih duo tersebut pada Juli 2022 lalu.

Suasana haru menyelimuti halaman gedung pengadilan di Muttenz, dekat Basel. Blatter, yang kini menginjak usia 89 tahun, tampak tersenyum saat melangkah keluar dan sempat berbicara singkat kepada para wartawan yang menunggu. Sang mantan bos FIFA itu menilai putusan hari ini sebagai bukti bahwa ia tidak pernah melakukan kesalahan dalam urusan keuangan federasi yang dipimpinnya selama 17 tahun. Di sisinya, Platini, 69 tahun, ikut merasakan bebannya terangkat setelah hampir satu dekade hidup di bawah bayang-bayang penyidikan.

Akar Persoalan: Bayaran 2 Juta Franc Swiss

Seluruh drama hukum ini berawal dari satu transaksi. Pada Februari 2011, FIFA mentransfer 2 juta franc Swiss ke rekening Platini. Dana tersebut diklaim sang legenda Prancis sebagai gaji konsultan yang tertunda atas kerja advisornya bagi Blatter pada periode 1998 sampai 2002. Namun Kejaksaan Agung Swiss membaca cerita lain: mereka mendakwa kedua pria ini atas tuduhan penipuan, penggelapan, serta pengelolaan keuangan yang tidak sah, dengan dalih pembayaran itu tidak memiliki dasar kontrak yang jelas.

Tim kuasa hukum Blatter dan Platini menghadirkan pembelaan yang sederhana namun kokoh. Mereka berargumen bahwa kesepakatan honor tahunan 300 ribu franc Swiss memang pernah disepakati, hanya saja baru dicairkan belakangan karena keterbatasan finansial FIFA pada awal 2000-an. Majelis hakim, baik di tingkat pertama maupun banding, menilai dakwaan jaksa tidak cukup meyakinkan untuk menjatuhkan vonis bersalah.

Duel Panjang yang Sudah Memasuki Babak Kesepuluh

Kronologi perkara ini layak disebut salah satu saga hukum terpanjang dalam sejarah sepak bola modern. Semuanya pecah pada musim gugur 2015, ketika gelombang skandal korupsi FIFA meledak dan menumbangkan Blatter dari kursi kepresidenan. Komite Etik FIFA kemudian menjatuhkan larangan aktivitas sepak bola selama delapan tahun kepada Blatter, dipangkas menjadi enam tahun, sementara Platini menerima sanksi empat tahun. Keduanya juga kehilangan posisi masing-masing: Blatter meninggalkan FIFA pada 2015, Platini mundur dari UEFA pada Januari 2016.

Di arena pidana, persidangan pertama berlangsung di Pengadilan Pidana Federal di Bellinzona. Hasilnya, pada 8 Juli 2022, hakim memvonis keduanya bebas dari semua tuduhan. Kejaksaan tidak menyerah dan mengajukan banding, membawa perkara ini ke babak baru yang dimenangkan kembali oleh Blatter dan Platini pada 25 Maret 2025. Secara total, proses hukum ini telah berjalan hampir satu dekade sejak penyidikan resmi dimulai.

Warisan Dua Raksasa Sepak Bola Dunia

Rekam jejak kedua pria ini sulit dibantah. Blatter memimpin FIFA sejak 1998 hingga 2015 dengan empat masa jabatan penuh plus satu pemilihan tambahan pada 2015. Di bawah komandonya, Piala Dunia diselenggarakan berkali-kali, mulai dari Korea-Jepang 2002, Jerman 2006, Afrika Selatan 2010, hingga Brasil 2014. Ia juga dikenal sebagai motor ekspansi sepak bola ke Asia dan Afrika yang mengubah wajah kompetisi internasional.

Platini sendiri adalah ikon lapangan hijau sebelum menjadi birokrat. Tiga kali juara Ballon d'Or pada 1983, 1984, dan 1985, kapten Prancis juara Euro 1984 dengan rekor sembilan gol dalam satu edisi turnamen, lalu memimpin UEFA dari 2007 sampai 2015. Format Euro dengan 24 tim negara yang pertama kali dipakai pada Euro 2016 merupakan salah satu warisan administratifnya di Eropa.

Babak Berikutnya: Peluang Kasasi Masih Terbuka

Meski kalah di dua instansi, Kejaksaan Agung Swiss secara teori masih bisa membawa perkara ini ke Pengadilan Federal Tertinggi lewat jalur kasasi. Namun para pengamat hukum menilai peluang dakwaan diterima semakin tipis mengingat dua majelis hakim berbeda telah menilai bukti jaksa tidak memadai. Bagi Blatter dan Platini, putusan Selasa ini ibarat membersihkan nama di catatan sejarah, meskipun bekas larangan etik dan dekade persidangan tak akan mudah dihapus dari ingatan publik dunia sepak bola.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User