Scaloni Renungkan Kekalahan Final Piala Dunia 2026
Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, 20 Juli 2026, menjadi penutup drama panjang Piala Dunia 2026. Peluit panjang wasit memicu selebrasi La Roja...
Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, 20 Juli 2026, menjadi penutup drama panjang Piala Dunia 2026. Peluit panjang wasit memicu selebrasi La Roja, sementara di sisi bench Argentina, pelatih kepala Lionel Scaloni hanya terdiam memandang lapangan. Kekalahan ini menjadi luka kedua bagi Scaloni setelah final 2022, tetapi kali ini rasa getir datang dengan cara berbeda.
Pertandingan berjalan sesuai ekspektasi publik: dua tim dengan formasi 4-3-3 saling jegal sejak menit awal. Spanyol memulai dengan penguasaan bola 61 persen di babak pertama, memaksa Argentina bertahan lebih dalam. Scaloni tampak menginstruksikan pressing tinggi hanya di area tengah, mengandalkan transisi cepat lewat sayap kanan.
Babak Pertama: Dominasi Spanyol dan Gol Pembuka
Menit ke-23, Spanyol membuka keunggulan. Umpan terobosan dari lini tengah menemukan striker mereka yang lolos dari jebakan offside, lalu melepaskan tendangan datar ke sudut kiri gawang. Kiper Argentina tak berkutik. Skor 1-0. Statistik sementara: shots on target Spanyol 4, Argentina 1, dengan penguasaan bola 64 persen untuk La Roja.
Argentina mencoba merespons. Menit ke-38, Lionel Messi muda? Tidak, ini 2026—generasi baru Argentina di bawah Scaloni mengandalkan kombinasi pemain muda dan veteran. Satu tendangan keras dari luar kotak masih membentur mistar. Hingga turun minum, Argentina belum mampu menyamakan kedudukan. Kartu kuning pertama keluar untuk gelandang Argentina pada menit ke-44 akibat pelanggaran taktis menghentikan serangan balik.
Babak Kedua: Semangat Argentina dan Kontroversi VAR
Scaloni melakukan perubahan taktik di paruh kedua. Ia menarik satu gelandang bertahan, memasukkan pemain sayap untuk menambah daya gedor. Formasi bergeser ke 4-2-3-1, dengan instruksi umpan silang lebih agresif. Hasilnya, Argentina meningkatkan penguasaan bola menjadi 52 persen di 15 menit pertama babak kedua.
Menit ke-67, Argentina menyamakan kedudukan. Berawal dari korner, bola disundul ke tiang jauh dan diselesaikan dengan tendangan voli. Skor 1-1. Stadion bergemuruh. Assist tercatat dari pemain pengganti yang baru masuk lima menit sebelumnya. Shots on target Argentina kini menyamai Spanyol, 5-5.
Namun, drama belum usai. Menit ke-78, Spanyol mencetak gol kedua melalui serangan balik cepat. Wasit sempat meninjau VAR karena dugaan offside, tetapi gol disahkan. Skor 2-1. Scaloni terlihat mengangkat tangan, memprotes, tetapi keputusan tak berubah. Kartu kuning kedua bagi pemain Argentina pada menit ke-85 memperburuk situasi.
Statistik Akhir dan Refleksi Scaloni
Hingga peluit panjang, penguasaan bola berakhir 55 persen untuk Spanyol, 45 persen Argentina. Shots on target: Spanyol 7, Argentina 6. Spanyol mencatat 3 kartu kuning, Argentina 2. Clean sheet tidak tercipta untuk kedua kiper. Spanyol mencatat 12 pelanggaran, Argentina 14.
Scaloni dalam konferensi pers usai laga menyatakan,
"Kami kalah dari tim yang lebih efisien. Anak-anak sudah memberikan segalanya. Sepak bola memang kadang kejam, tetapi kami akan bangkit."Pelatih berusia 48 tahun itu menegaskan tidak akan mengubah filosofi tim. Ia menyebut generasi baru Argentina tetap memiliki masa depan cerah.
Kekalahan ini menambah catatan pahit bagi Scaloni di final Piala Dunia. Namun, perjalanan Argentina di turnamen 2026—dengan 5 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kalah—tetap menunjukkan kualitas. Scaloni kini dihadapkan pada tugas membangun ulang mental tim menjelang Copa America 2027. Bagi publik Argentina, sosok Scaloni tetap dianggap arsitek kebangkitan, meski trofi terakhir harus direnggut Spanyol di tanah Amerika.
Comments (0)