Scaloni Pede, Argentina Hajar Spanyol di Final Piala Dunia 2026
Skor akhir 2-1 untuk Argentina di final Piala Dunia 2026. Malam di Lusail Stadium berubah menjadi panggung kejeniusan Lionel Scaloni. Pelatih Argentina itu membuktikan ucapannya: dia benar-benar tahu ...
Skor akhir 2-1 untuk Argentina di final Piala Dunia 2026. Malam di Lusail Stadium berubah menjadi panggung kejeniusan Lionel Scaloni. Pelatih Argentina itu membuktikan ucapannya: dia benar-benar tahu cara membuat Spanyol menderita. Dengan strategi pressing tinggi dan eksploitasi sayap, Argentina mematahkan dominasi Spanyol yang selama turnamen tak terkalahkan.
Babak Pertama: Argentina Agresif, Spanyol Tertekan
Menit ke-12, Spanyol sudah menunjukkan ciri khas mereka: penguasaan bola mencapai 62% di 10 menit awal. Namun Scaloni menyusun formasi 4-3-3 dengan tiga gelandang pekerja keras — De Paul, Enzo Fernandez, dan Mac Allister — yang langsung menekan lini tengah Spanyol. Hasilnya, umpan-umpan Rodri dan Pedri sering terputus. Menit ke-23, Argentina membuka keunggulan. Umpan terobosan De Paul menembus garis pertahanan tinggi Spanyol. Lionel Messi menerima bola di sisi kanan kotak penalti, dan dengan satu sentuhan dingin, dia melepaskan tembakan melengkung ke tiang jauh. Skor 1-0. Shots on target Argentina 3-1 pada babak pertama, meskipun penguasaan bola hanya 44%. Scaloni memaksa Spanyol bermain di luar ritme mereka.
Babak Kedua: Spanyol Balas, Argentina Pukul Balik
Memasuki babak kedua, pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 dengan memasukkan Gavi untuk menambah kreativitas. Hasilnya langsung terlihat. Menit ke-67, kombinasi satu-dua antara Pedri dan Gavi di tepi kotak penalti membuka ruang. Pedri, tanpa pengawasan, melepaskan tembakan kaki kiri yang tak bisa dijangkau Emiliano Martinez. Skor imbang 1-1. Suasana stadion berubah tegang. Namun Scaloni tidak panik. Dia memasukkan Angel Di Maria di menit ke-70 untuk menggantikan Julian Alvarez. Keputusan itu brilian. Di Maria langsung aktif di sayap kiri, merepotkan bek kanan Spanyol Carvajal. Penguasaan bola Argentina naik menjadi 52% di 20 menit terakhir. Menit ke-89, Di Maria menusuk dari sayap kiri, lalu mengirim umpan silang mendatar ke kotak penalti. Lautaro Martinez, yang baru masuk di menit ke-75, menyambarnya dengan tendangan voli pertama. Gol! Argentina memimpin 2-1. Spanyol mencoba menekan di waktu tambahan 6 menit, namun clean sheet ketiga Argentina di turnamen ini pupus sejak gol Pedri. Kartu kuning: Argentina 2 (Cuti Romero, De Paul), Spanyol 1 (Rodri). Tidak ada kartu merah. VAR sempat meninjau duel di kotak penalti Spanyol pada menit ke-80, tetapi tak ada penalti.
Faktor Kunci: Scaloni Membaca Kelemahan Spanyol
Seperti dikatakannya sebelum laga, Scaloni memang tahu cara membuat Spanyol menderita. "Spanyol adalah tim penguasaan bola terbaik di dunia, tapi mereka lemah saat kehilangan bola dan diserang balik cepat," ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan. "Kami tahu mereka akan dominan di lini tengah, jadi kami pasang tiga gelandang pekerja yang bisa memutus rantai umpan mereka."
"Saya sudah mempelajari Spanyol sejak semifinal melawan Jerman. Kelemahan mereka ada di transisi. Untungnya pemain kami eksekusi dengan sempurna," tambah Scaloni dengan senyum puas.Statistik membuktikan: Argentina hanya melakukan 48% penguasaan bola, tetapi 5 shots on target vs 4 milik Spanyol. Efisiensi jadi kunci. Selain itu, pressing tinggi Argentina menghasilkan 3 offside Spanyol, yang memutus banyak serangan mereka. Starting XI Argentina: Martinez; Molina, Romero, Otamendi, Tagliafico; De Paul, Enzo, Mac Allister; Messi, Alvarez, Lautaro (sub). Formasi 4-3-3 dinamis. Spanyol memulai dengan formasi 4-3-3 juga: Simon; Carvajal, Laporte, Le Normand, Grimaldo; Rodri, Pedri, Olmo; Yamal, Morata, Williams. Namun Morata tidak mendapat suplai bola yang cukup berkat duet Romero-Otamendi yang tangguh.
Gelar Ketiga Argentina: Warisan Scaloni
Kemenangan ini menjadi gelar Piala Dunia ketiga Argentina setelah 1978, 1986, dan 2022 — sekaligus pertama kalinya Argentina juara dua edisi beruntun sejak Brasil 1958-1962. Scaloni mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai pelatih dengan taktik paling cerdik di turnamen ini. "Dia seperti bermain catur dengan de la Fuente," kata komentator ESPN Deportes. Argentina pulang dengan trofi, dan Scaloni telah membuktikan bahwa terkadang, kunci kemenangan bukanlah penguasaan bola, melainkan bagaimana membuat lawan menderita dengan kelemahan mereka sendiri.
Comments (0)