Oct 14, 2026
Olahraga

Scaloni Evaluasi Argentina Usai Kalah di Final Piala Dunia 2026

New York — Peluit panjang wasti di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7/2026) malam waktu setempat, menjadi momen kelam bagi Timnas Argentina. Spanyol keluar sebagai juara Pial...

Scaloni Evaluasi Argentina Usai Kalah di Final Piala Dunia 2026

New York — Peluit panjang wasti di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7/2026) malam waktu setempat, menjadi momen kelam bagi Timnas Argentina. Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Albiceleste dengan skor akhir 2-1 dalam laga final yang berlangsung dramatis selama 120 menit. Pelatih kepala Argentina, Lionel Scaloni, terlihat berdiri di pinggir lapangan dengan tatapan kosong, memperhatikan anak-anak asuhnya yang tumbang di partai puncak untuk pertama kalinya sejak 2014.

Jalannya Pertandingan: Spanyol Lebih Efisien

Sejak menit awal, Scaloni menurunkan formasi 4-3-3 dengan starting XI yang mengandalkan trisula lini depan. Namun, Spanyol yang diasuh Luis de la Fuente tampil lebih dominan dalam penguasaan bola. Statistik menunjukkan La Roja mencatatkan penguasaan bola 58 persen berbanding 42 persen milik Argentina. Menit ke-23, Spanyol membuka keunggulan melalui tendangan kaki kiri dari luar kotak penalti yang tidak mampu dijangkau kiper Emiliano Martínez. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Argentina merespons di babak kedua. Menit ke-58, Scaloni memasukkan pemain sayap tambahan untuk mengubah formasi menjadi 4-2-3-1. Perubahan itu membuahkan hasil pada menit ke-67. Umpan terobosan matang dari lini tengah diselesaikan dengan sepakan first-time ke sudut kanan gawang Spanyol. Skor imbang 1-1, dan stadion bergemuruh oleh suporter Argentina yang memadati tribun utara.

Namun, petaka datang di menit ke-104, babak tambahan pertama. Wasit memberikan penalti setelah meninjau VAR terkait pelanggaran di kotak terlarang. Spanyol mengeksekusi dengan tenang, membawa skor menjadi 2-1. Hingga peluit akhir berbunyi, Argentina gagal menciptakan gol balasan meski mencatatkan shots on target 5 berbanding 6 milik Spanyol.

Statistik Kunci dan Catatan Taktis

Secara keseluruhan, laga final ini menyuguhkan duel taktik yang ketat. Spanyol unggul dalam jumlah umpan sukses (612 berbanding 489) dan akurasi umpan mencapai 89 persen. Argentina memang lebih agresif dalam duel udara, memenangkan 54 persen, tetapi kurang efektif dalam penyelesaian akhir. Kartu kuning dikeluarkan sebanyak empat kali, dua untuk masing-masing tim. Tidak ada kartu merah, meski beberapa pelanggaran keras mewarnai babak tambahan.

Gol penalti Spanyol menjadi satu-satunya gol dari titik putih sepanjang turnamen bagi mereka. Clean sheet yang diraih kiper Spanyol di babak kedua dan babak tambahan kedua menjadi kunci. Sementara bagi Argentina, ini menjadi final Piala Dunia ketiga dalam sejarah yang harus berakhir dengan kekalahan setelah 1930 dan 2014.

Reaksi Scaloni: "Kami Kehilangan Momen Kecil"

Dalam konferensi pers usai laga, Scaloni tampak tenang meski jelas kecewa. Ia menolak menyalahkan pemain dan menekankan bahwa detail kecil menjadi pembeda di laga sebesar final.

"Kami bermain melawan tim yang luar biasa. Spanyol lebih baik dalam menjaga bola dan memanfaatkan peluang. Kami kehilangan momen kecil di babak tambahan. Penalti itu mengubah segalanya, tapi saya bangga dengan perjuangan para pemain. Mereka memberikan segalanya sampai menit terakhir," ujar Scaloni.

Ia juga menyoroti kontribusi pemain muda yang tampil menonjol sepanjang turnamen. "Beberapa pemain baru telah menunjukkan kualitas. Ini pahit, tetapi masa depan tim ini masih cerah," tambahnya.

Dampak Jangka Panjang dan Masa Depan Albiceleste

Kekalahan ini menutup babak baru dalam era kepemimpinan Scaloni yang dimulai sejak 2018. Setelah membawa Argentina juara Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022, kegagalan di final 2026 memunculkan pertanyaan tentang regenerasi skuad. Sejumlah pemain kunci sudah memasuki usia 35 tahun lebih, sementara Spanyol tampil dengan rata-rata usia starting XI 24,7 tahun.

Scaloni dikabarkan masih memiliki kontrak hingga 2027. Namun, federasi akan melakukan evaluasi menyeluruh dalam beberapa pekan ke depan. Apa pun keputusannya, laga final di East Rutherford akan dikenang sebagai pertarungan sengit yang ditentukan oleh efisiensi dan pengalaman di babak tambahan. Argentina harus menerima kenyataan pahit: trofi Piala Dunia 2026 melayang ke tangan Spanyol, dan Scaloni hanya bisa memperhatikan dari pinggir lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User