Sarawut Treephan: Kemenangan 2-0 Atas PSMS Medan Belum Cukup
Port FC memulai perjalanan mereka di Piala Presiden 2026 dengan kemenangan 2-0 atas PSMS Medan, namun euforia yang biasanya menyelimuti sebuah kemenangan justru absen dari raut wajah pelatih Sarawut T...
Port FC memulai perjalanan mereka di Piala Presiden 2026 dengan kemenangan 2-0 atas PSMS Medan, namun euforia yang biasanya menyelimuti sebuah kemenangan justru absen dari raut wajah pelatih Sarawut Treephan. Alih-alih memuji anak asuhnya, juru taktik asal Thailand itu justru melontarkan kritik dan rasa kecewa yang mendalam terhadap performa timnya di laga pembuka Grup A yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Selasa malam. Hasil akhir yang tampak meyakinkan di papan skor ternyata menyimpan banyak catatan merah yang membuat Treephan tidak bisa tidur dengan tenang.
Pertandingan sejak menit awal memang berjalan dalam kendali Port FC. Dengan formasi 4-3-3 ofensif, mereka langsung menekan lini pertahanan PSMS yang dikomandoi oleh duet bek senior. Namun, meski dominasi penguasaan bola mencapai 63 persen dan total 14 tembakan dilepaskan, hanya separuhnya yang mengarah tepat ke gawang. Ketidakmampuan menyelesaikan peluang inilah yang menjadi pangkal kekecewaan sang pelatih. "Kami menciptakan banyak momen, tetapi seperti kehilangan ketajaman di sepertiga akhir. Ini tidak bisa diterima untuk level turnamen seperti ini," keluh Treephan dalam sesi jumpa pers pascapertandingan.
Gol Pembuka dan Momen Krusial Babak Pertama
Keunggulan Port FC baru tercipta pada menit ke-34 melalui sosok tak terduga. Berawal dari sepak pojok yang dieksekusi gelandang kreatif asal Jepang, Ryo Takahashi, bola melambung ke tiang jauh dan disundul oleh bek tengah naturalisasi, Mahdi Al-Fayed, yang naik membantu serangan. Sundulan kerasnya sempat membentur tanah sebelum meluncur deras ke sudut bawah gawang PSMS yang dikawal penjaga gawang veteran, Muhamad Ridwan. Proses gol ini lebih banyak didasari oleh situasi bola mati ketimbang skema open play yang selama ini digadang-gadang Treephan.
Setelah gol pembuka, intensitas permainan Port FC justru menurun. Mereka mulai kehilangan ritme dan kerap melakukan umpan-umpan pendek tanpa progresi yang membahayakan. PSMS, yang dilatih oleh Rudy Keltjes, mencoba memanfaatkan celah ini dengan beberapa serangan balik cepat, meski selalu gagal menembus barisan belakang Port FC yang digalang oleh sang kapten, Andriano. Babak pertama berakhir 1-0, dan di ruang ganti, atmosfer dikabarkan tidak sepenuhnya positif. Treephan sudah menunjukkan sinyal-sinyal kegeramannya.
Babak Kedua dan Gol Penutup yang Gagal Meyakinkan
Memasuki babak kedua, Treephan langsung melakukan dua perubahan. Penyerang sayap lincah, Supachok Sarachat, ditarik masuk untuk menambah daya tusuk sisi kiri. Dampaknya mulai terasa pada menit 60-an ketika Port FC kembali mendominasi, namun lagi-lagi peluang emas dari kaki penyerang utama, Carlos Eduardo, melambung di atas mistar setelah ia berhasil melewati dua pemain bertahan. Ekspresi frustrasi Treephan di tepi lapangan menjadi tontonan kamera sepanjang sisa pertandingan.
Gol kedua akhirnya hadir pada menit ke-73, itu pun lewat titik putih. Setelah pemain muda PSMS, Ilham Maulana, melakukan handball konyol di kotak terlarang, wasit langsung menunjuk titik penalti tanpa perlu campur tangan VAR. Kapten Andriano yang maju sebagai eksekutor berhasil menaklukkan Ridwan dengan sepakan rendah ke pojok kanan gawang. Skor 2-0 membuat ribuan pendukung Port FC yang hadir bersorak, namun Treephan tetap bergeming. Ia tidak merayakan gol itu. Fokusnya tertuju pada catatan di lapangan: hanya 4 dari 10 tembakan tepat sasaran di babak kedua, dan terlalu banyak turnover di area yang seharusnya aman.
Analisis Pelatih: Bukan Soal Hasil, Melainkan Proses
Dalam wawancara eksklusif setelah laga, Treephan menjelaskan dengan detil sumber kekecewaannya. "Target saya bukan sekadar tiga poin. Ini turnamen pramusim, tetapi saya ingin melihat mentalitas, konsistensi, dan eksekusi taktikal yang jelas. Hari ini, kami bermain seperti tim yang baru pertama kali bertemu. Koneksi antara lini tengah dan depan putus. Transisi bertahan juga terlalu lambat. Jika bukan karena keberuntungan dan kualitas individu, hasilnya bisa berbeda," ungkapnya panjang lebar. Ia menyoroti statistik akurasi umpan 78 persen yang di bawah standar timnya sendiri, dan hanya 1 assist dari open play sepanjang 90 menit.
Treephan bahkan tak segan menyebut nama pemain yang tampil di bawah performa. "Eduardo harus lebih mobile. Dia terlalu statis menunggu bola. Dan lini tengah, kita terlalu mudah di-
Meski demikian, Treephan menegaskan bahwa kekecewaan ini tidak bersifat destruktif, melainkan sebagai alarm dini. "Piala Presiden adalah panggung pemanasan yang ideal untuk menemukan kelemahan sebelum musim reguler. Saya puas kita tidak kebobolan dan dapat clean sheet, tapi puas hanya sampai di situ. Masih banyak pekerjaan rumah," tutupnya. Kini Port FC akan bersiap menghadapi laga kedua melawan tuan rumah Persebaya Surabaya, dan Treephan menjanjikan perubahan signifikan, baik dari sisi komposisi pemain maupun pendekatan taktikal yang lebih agresif dan presisi. Kemenangan 2-0 ini, bagi Sarawut Treephan, hanyalah sebuah kemenangan statistik yang belum layak dirayakan.
Comments (0)