[RUTENG] — Jumlah Korban Meninggal Gempa Flores Terus Bertambah

Langit di atas Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih kelam diselimuti awan tebal saat kabar menyedihkan kembali datang dari tim gabungan

[RUTENG] — Jumlah Korban Meninggal Gempa Flores Terus Bertambah

Langit di atas Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih kelam diselimuti awan tebal saat kabar menyedihkan kembali datang dari tim gabungan yang bertugas di lokasi bencana. Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada dini hari tadi tak hanya meninggalkan trauma mendalam bagi warga, tetapi juga mencatatkan kembali daftar duka dengan bertambahnya jumlah korban jiwa. Setiap jam berlalu, papan data di posko pengendali operasi terus diperbarui, menambah beban pilu di pundak keluarga yang menunggu dalam ketidakpastian.

Dahsyatnya Guncangan di Dini Hari

Guncangan terasa sangat keras. Rak-rak berisi perabot rumah tangga roboh, dinding berkeret, dan atap genteng berjatuhan seperti hujan lebat. Warga yang tertidur pulas terbangun dalam keadaan panik, berlarian keluar rumah dengan pakaian yang masih bertumpuk debu dan reruntuhan. Suara jeritan bayi, teriakan orang tua mencari anak-anaknya, serta dentuman bangunan yang ambruk menciptakan simfoni mengerikan yang tidak akan terlupakan oleh penduduk Ruteng.

Pusat guncangan diduga berada di daratan Kabupaten Manggarai dengan kedalaman dangkal yang memperkuat dampak kehancuran di permukaan. Tim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana langsung mengerahkan personel untuk melakukan survei cepat dan penanganan darurat. Namun, medan yang berbukit dan infrastruktur jalan yang rusak akibat longsor menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat yang berusaha masuk ke beberapa desa terisolir.

"Kami merasa seperti digoncang oleh tangan raksasa. Tidak ada waktu untuk menyelamatkan barang berharga. Yang ada di pikiran hanya menyelamatkan anak-anak dan orang tua. Suami saya harus menendang pintu karena sudah miring dan tidak bisa dibuka," ujar Maria Kristina Lado, warga Desa Wae Belang, dengan suara masih bergetar saat ditemui di pengungsian sementara.

Pencarian dan Evakuasi Berlangsung Dramatis

Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung dalam kondisi yang sangat menguras emosi. Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, dan relawan lokal berlomba dengan waktu untuk menemukan korban yang masih tertimbun di antara puing-puing bangunan. Beberapa struktur rumah tradisional dan bangunan permanen mengalami kerusakan berat hingga rata dengan tanah, terutama di wilayah-wilayah yang berada tepat di atas sesar lokal. Alat berat didatangkan secara bertahap, namun di banyak titik, penyelamatan harus dilakukan secara manual menggunakan tangan kosong dan peralatan sederhana.

Semakin sore, semakin terasa getaran kepedihan di dada para keluarga yang berkumpul di sekitar area terdampak. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas, beberapa membawa foto kerabat yang belum juga ditemukan. Petugas medis dari Dinas Kesehatan setempat dan relawan PMI berdiri siaga di garis depan, membawa keluar korban satu per satu dengan kondisi yang memilukan. Beberapa korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, sementara yang lain selamat namun mengalami luka berat dan trauma akut.

Duka Mendalam Menyelimuti Manggarai

Kabupaten Manggarai kini berduka. Di setiap sudut pengungsian, terlihat warga yang saling memeluk, menangis, atau diam termenung menatap reruntuhan yang ditinggalkan gempa. Jumlah korban meninggal dunia terus bertambah seiring dengan meluasnya jangkauan tim pencari ke desa-desa yang sebelumnya terputus komunikasi akibat kabel listrik dan jaringan telepon yang putus. Data sementara yang masih berkembang menunjukkan bahwa angka kematian tidak lagi bisa dihitung dengan jari, melainkan telah mencapai puluhan jiwa dan diprediksi masih akan naik.

Sebuah tenda darurat di halaman gereja setempat berubah menjadi rumah duka impromptu, di mana jenazah korban disemayamkan sebelum dibawa keluarga mereka. Suara tangis dan doa-bersama menggema di malam yang dingin, menciptakan atmosfer kelam yang menusuk hati. Banyak korban yang tewas akibat tertimpa bangunan tua yang tidak mampu menahan guncangan, sementara beberapa lainnya menjadi korban longsor yang terjadi pascagempa di lereng-lereng perbukitan yang rapuh.

Tanggap Darurat dan Bantuan Mengalir

Pemerintah daerah dan pusat tidak tinggal diam. Gubernur Nusa Tenggara Timur telah menyatakan siaga darurat bencana dan memerintahkan seluruh jajaran BPBD di wilayah Flores untuk membuka posko pengendali di setiap kecamatan terdampak. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan tenda mulai didistribusikan menggunakan kendaraan taktis maupun heli ke daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh mobil biasa.

Sementara itu, tim kesehatan lapangan terus berupaya menangani korban luka di rumah sakit darurat dan fasilitas kesehatan tersisa yang masih berdiri. Vaksinasi antitetanus, perawatan luka terbuka, dan penanganan trauma psikologis menjadi fokus utama agar korban selamat tidak mengalami penderitaan berkepanjangan. Warga juga diimbau untuk tetap waspada terhadap gempa susulan yang masih berpotensi terjadi di wilayah dengan aktivitas sesar aktif ini.

Dalam situasi genting seperti ini, kekuatan solidaritas masyarakat Flores kembali teruji. Warga yang rumahnya masih aman membuka pintu bagi tetangga yang kehilangan tempat tinggal, berbagi makanan, dan saling menopang dalam keterpurukan. Namun, tantangan besar masih menanti: membangun kembali rumah, menyelamatkan sisa korban yang tertimbun, dan menghadapi realitas pahit bahwa daftar nama di balik kain putih terus bertambah seiring perjalanan waktu.