Rupiah Anjlok ke Rp17.722, Tertekan Risiko Fiskal dan Geopolitik
Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Senin sore. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dit
Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Senin sore. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.722 per dolar AS, melemah 0,62% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan sentimen geopolitik global yang meningkat serta kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih belum jelas.
Sepanjang hari, rupiah bergerak fluktuatif antara Rp17.650 hingga Rp17.750. Pelaku pasar tampak cenderung melakukan aksi lindung nilai (hedging) karena ketidakpastian yang tinggi. Kondisi ini diperparah oleh data ekonomi domestik yang belum menunjukkan perbaikan signifikan, terutama terkait defisit fiskal dan kenaikan utang pemerintah.
Faktor Eksternal: Geopolitik dan Kebijakan AS
Dari sisi eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah dan ketegangan antara AS-Tiongkok kembali memanas. Sentimen risk-off mendominasi pasar keuangan global, mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Selain itu, data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan pada pekan lalu memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Pasar masih menunggu keputusan The Fed pada pertemuan November mendatang. Jika suku bunga tetap tinggi, tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah akan semakin besar,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Faktor Domestik: Risiko Fiskal dan Defisit APBN
Di dalam negeri, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan melebar seiring meningkatnya belanja subsidi energi dan program sosial. Rasio utang pemerintah terhadap PDB juga terus naik, menimbulkan kekhawatiran investor terhadap kemampuan Indonesia membayar utang.
Beberapa poin kunci yang menjadi perhatian pasar:
- Defisit APBN 2025 diperkirakan mencapai 3,2% PDB, lebih tinggi dari target semula 2,8%.
- Utang pemerintah tercatat Rp8.500 triliun, naik 12% dari tahun lalu.
- Cadangan devisa menurun menjadi $135 miliar, menekan kemampuan intervensi Bank Indonesia.
- Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik ke 7,2%, menandakan meningkatnya risiko premium.
Respons BI dan Pemerintah
Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk menstabilkan rupiah. Namun, tekanan yang terus berlanjut membuat efektivitas intervensi terbatas. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa bank sentral akan terus memantau pergerakan rupiah dan siap mengambil langkah lebih lanjut jika diperlukan.
Di sisi fiskal, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin anggaran. Namun, realitas politik dan kebutuhan belanja sosial membuat pengendalian defisit menjadi tantangan besar. “Kami akan mengoptimalkan penerimaan negara dan memprioritaskan belanja produktif,” ujarnya dalam konferensi pers pekan lalu.
Prospek Rupiah ke Depan
Analis memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah menuju level Rp17.800–Rp18.000 dalam jangka pendek, tergantung pada perkembangan global dan kebijakan domestik. Sentimen positif bisa datang jika The Fed memberikan sinyal pelonggaran moneter atau jika defisit fiskal Indonesia berhasil ditekan.
Namun, risiko terbesar adalah jika konflik geopolitik meluas dan harga komoditas impor melonjak, sehingga memperburuk neraca perdagangan Indonesia. Keseimbangan antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci stabilitas rupiah ke depan.
Comments (0)