Reijnders Tinggalkan City demi Proyek Finansial Arab Saudi
Skor akhir karier Tijjani Reijnders di Manchester City ditutup dengan satu pengakuan blak-blakan: uang adalah salah satu variabel terbesar dalam keputusannya hengkang ke Arab Saudi. Gelandang timnas B...
Skor akhir karier Tijjani Reijnders di Manchester City ditutup dengan satu pengakuan blak-blakan: uang adalah salah satu variabel terbesar dalam keputusannya hengkang ke Arab Saudi. Gelandang timnas Belanda itu memilih jalur yang selama ini kerap dianggap tabu oleh pundit Eropa, dan kali ini datang langsung dari mulut pemainnya sendiri, bukan dari rumor transfer yang beredar di bursa musim panas.
Reijnders tiba di Etihad Stadium dengan status salah satu gelandang paling produktif di Serie A. Statistik pergerakannya musim sebelumnya mencatat kontribusi gol dan assist yang sekelas dengan pemain top lima besar Eropa. Namun dalam 12 bulan di bawah asuhan Pep Guardiola, perannya lebih sering dirotasi. Starting XI di lini tengah City selalu penuh pilihan: Rodri, Kevin De Bruyne, Mateo Kovacic, sampai Phil Foden yang didorong lebih dalam. Penguasaan bola memang menjadi senjata utama The Citizens, tetapi menit bermain Reijnders tidak pernah benar-benar stabil.
Alasan Finansial, Bukan Alasan Sportif
Dalam wawancara terbarunya, Reijnders tidak lagi berputar-putar. Ia menyebut faktor finansial sebagai salah satu alasan utama kepindahan, sekaligus menepis anggapan bahwa kepergiannya semata-mata karena kalah bersaing memperebutkan posisi di starting XI. Kontrak baru yang ditawarkan klub Arab Saudi berada di luar kisaran gaji Premier League untuk pemain rotasi. Selisihnya bukan tipis-tipis, melainkan berkali-kali lipat dari yang ia terima di Manchester.
Menit ke-45 masa depannya seolah menjadi titik putar. Setelah jeda kompetisi, Reijnders diketahui mulai berdiskusi dengan agennya soal proyek jangka panjang di Timur Tengah. Klub Arab Saudi yang mendekatinya menawarkan kontrak berdurasi tiga tahun dengan klausul nilai pelepasan yang fleksibel, plus bonus performa yang dihitung per laga. Untuk pemain yang pada fase usia emas kariernya ingin mengamankan masa depan finansial keluarganya, angka-angka tersebut terlalu sulit untuk ditolak.
Guardiola dalam jumpa pers sebelum laga pekan ke-28 sempat ditanya soal kepergian Reijnders. "Kami menghormati keputusan setiap pemain," ujar manajer asal Spanyol itu singkat. Kutipan pendek tersebut menyimpan banyak makna: City tidak berencana menahan siapa pun yang sudah menunjukkan sinyal ingin pergi, terutama ketika proyek tim sudah terasa lengkap dengan kedatangan beberapa rekrutan anyar di lini tengah.
Statistik yang Ditinggalkan di Etihad
Secara angka, kontribusi Reijnders selama berseragam biru langit terbilang solid namun tidak spektakuler. Ia mencatat rata-rata sentuhan bola per pertandingan di kisaran 55 hingga 60, dengan akurasi umpan panjang yang stabil di atas 80 persen. Penguasaan bola City sendiri sepanjang musim bertahan di kisaran 64 persen, dan Reijnders kerap menjadi opsi transisi dari fase build-up menuju sepertiga akhir lapangan.
Namun catatan gol dan assistnya tidak setinggi ekspektasi awal. Ia hanya mengemas sejumlah gol dari liga domestik, dengan kontribusi assist yang lebih banyak datang dari situasi set-piece daripada permainan terbuka. Dibandingkan statistiknya di liga Italia sebelumnya, angka tersebut memang mengalami penurunan. Shots on target per 90 menit juga tidak pernah menembus angka dua, sebuah indikator bahwa perannya di sistem Guardiola lebih condong ke peran mezzala defensif ketimbang finisher dari lini kedua.
Di skuad timnas Belanda, posisi Reijnders tetap terjaga. Ronald Koeman menjadikannya bagian penting dari sistem formasi 4-3-3 yang dipakai Oranje, terutama karena kemampuannya menjaga ritme tempo dan membaca ruang antara lini. Kepergian ke luar Eropa tentu memunculkan pertanyaan soal intensitas kompetisi yang akan ia hadapi, mengingat Arab Saudi Pro League masih berada di peringkat yang jauh di bawah Premier League dalam hal kedalaman kualitas.
Reaksi Pundit dan Pelajaran bagi City
Reaksi dari para pundit beragam. Sebagian menilai keputusan Reijnders sebagai langkah pragmatis yang wajar, mengingat jendela karier profesional hanya terbuka sekali. Sebagian lainnya mempertanyakan timing, terutama ketika City masih berada di jalur persaingan gelar dan Reijnders berpotensi mendapat menit bermain lebih banyak di fase akhir musim.
Bagi Manchester City, kehilangan Reijnders bukan pukulan telak, namun tetap mengurangi opsi di lini tengah. Rotasi yang biasanya tersedia untuk laga Piala Liga dan pertandingan grup Liga Champions kini harus diisi pemain akademi atau gelandang yang belum teruji. Kartu kuning dan akumulasi suspensi pemain inti musim lalu sempat membuat Guardiola kesulitan menyusun susunan pemain, dan kondisi serupa bisa terulang jika cedera menghantam pada fase padat jadwal.
Reijnders sendiri menutup sesi wawancara dengan nada tenang. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut sudah melalui pertimbangan matang bersama keluarga, dan bahwa ia tidak menyesal. Skor akhir dari transfer ini baru akan terlihat dua atau tiga musim ke depan: apakah ia menemukan kebahagiaan bermain di luar Eropa, atau justru melewatkan puncak kariernya di panggung paling kompetitif. Yang pasti, uang sudah bicara, dan satu gelandang Belanda memilih untuk mendengarkannya.
Comments (0)