Psikiater Ungkap Terdakwa Pembunuh Federico Aramburu Alami Kemarahan Narsistik

Sidang lanjutan kasus pembunuhan mantan atlet rugbi internasional asal Argentina, Federico Martín Aramburú, di Pengadilan Paris menghadirkan dinamika baru

Sep 18, 2026 - 03:03
0 0
Psikiater Ungkap Terdakwa Pembunuh Federico Aramburu Alami Kemarahan Narsistik

Sidang lanjutan kasus pembunuhan mantan atlet rugbi internasional asal Argentina, Federico Martín Aramburú, di Pengadilan Paris menghadirkan dinamika baru yang mematahkan strategi pembelaan terdakwa utama. Kesaksian ahli psikiatri forensik mementahkan narasi trauma militer yang selama ini dibangun oleh kubu terdakwa, Loïk Le Priol, guna meringankan jerat hukum.

Dalam persidangan hari kesembilan tersebut, psikiater forensik Isabelle Teillet memaparkan hasil pemeriksaan mendalam terhadap kondisi kejiwaan Le Priol. Teillet, yang menyusun laporan kontra-keahlian bersama Dr. Roland Coutanceau, secara tegas membantah klaim bahwa mantan anggota komando militer tersebut bertindak di bawah pengaruh gangguan stres pascatrauma (PTSD) saat menembak mati Aramburú.

Runtuhnya Pembelaan Gangguan Mental

Selama berbulan-bulan, tim kuasa hukum Le Priol berupaya menggambarkan kliennya sebagai veteran perang yang mengalami kepanikan akut ketika berhadapan dengan sekelompok mantan atlet rugbi. Namun, analisis psikiatris independen justru menemukan fakta yang bertolak belakang terkait stabilitas mental dan kesadaran terdakwa saat peristiwa terjadi.

"Apa yang dia alami adalah narcissistic rage (kemarahan narsistik). Kami sama sekali tidak menemukan adanya gangguan pada daya pertimbangan atau kemampuan membedakan benar dan salah saat tindakan itu dilakukan," tegas Isabelle Teillet di hadapan majelis hakim.

Teillet menggambarkan terdakwa sebagai sosok yang secara sadar memanipulasi, meminimalkan, dan merekayasa riwayat medisnya sendiri demi kepentingan pembelaan di pengadilan. Tidak adanya indikasi penurunan kesadaran (alteration of discernment) memastikan bahwa tindakan penembakan tersebut dilakukan dalam keadaan sadar penuh.

Profil Psikologis dan Riwayat Terdakwa

Keterangan Teillet memperkuat analisis psikiater terkemuka Daniel Zagury yang memberikan kesaksian pada sesi sebelumnya. Zagury membedah profil psikologis mantan aktivis sayap kanan ekstrem tersebut melalui sejumlah indikator perilaku yang menonjol:

  • Kebutuhan ekspresi diri yang berlebihan: Terdakwa cenderung mendominasi narasi dan mencari validasi moralitas sepihak atas tindakannya.
  • Minimnya kapasitas introspeksi: Ketidakmampuan mengevaluasi kesalahan diri sendiri secara objektif serta kecenderungan bersikap grandios.
  • Rasa malu atas kegagalan komitmen militer: Kerentanan emosional akibat ketidakmampuan mempertahankan karier di kesatuan elit.

Secara ironis, persidangan juga mengungkap bahwa satu-satunya kegiatan olahraga yang pernah ditekuni Le Priol saat menempuh pendidikan di sekolah swasta adalah rugbi—cabang olahraga yang sama yang membesarkan nama korban yang ia renggut nyawanya di jalanan kota Paris pada Maret 2022 lalu.

Implikasi Yuridis bagi Putusan

Secara analitis, gugurnya argumen PTSD ini memperberat posisi hukum Loïk Le Priol. Dalam sistem peradilan pidana Prancis, pembuktian hilangnya daya nilai rasional dapat menjadi faktor mitigasi yang signifikan untuk mereduksi ancaman hukuman penjara seumur hidup.

Dengan konfirmasi bahwa penembakan berakar dari respons kemarahan egoistik dan narsistik, jaksa penuntut umum kini memiliki landasan medis yang solid untuk membuktikan unsur kesengajaan penuh tanpa adanya pembelaan berbasis gangguan kejiwaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User