PSI Tanggapi Survei Poltracking, Elektabilitas Hanya 2,3 Persen
Jakarta — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) buka suara setelah lembaga survei Poltracking Indonesia merilis data elektabilitas partai politik terbaru. Dal
Jakarta — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) buka suara setelah lembaga survei Poltracking Indonesia merilis data elektabilitas partai politik terbaru. Dalam rilis yang disampaikan pada Rabu (23/9/2026), PSI tercatat hanya meraih 2,3 persen — angka yang menempatkan partai berlambang banteng moncong putih itu di posisi kelima terbawah dari 13 partai yang berada di bawah ambang batas parlemen. Ketua DPP PSI Bestari Barus menanggapi temuan itu dengan nada tenang: hasil survei diterima sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai vonis politik.
Survei Dirilis, PSI Peroleh 2,3 Persen
Poltracking Indonesia menggelar survei nasional pada 14–20 Agustus 2026 dengan metode wawancara tatap muka. Data dikumpulkan dari 1.220 responden yang tersebar di 38 provinsi, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Peneliti Poltracking Yoki Alvetro menyebut hasil ini merupakan potret terbaru persepsi publik terhadap partai politik menjelang kontestasi politik berikutnya.
- Partai Gerindra memimpin dengan elektabilitas 23,2 persen.
- PDI-P berada di posisi kedua dengan 11,6 persen.
- PKB (6,2 persen) dan Demokrat (6,1 persen) mengisi posisi berikutnya.
- NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, dan PKS 3,3 persen menyusul.
- PSI 2,3 persen dan PPP 1,9 persen menutup kelompok di bawah 3 persen.
Bestari Barus: Sudah Lumrah, Banyak Partai Alami Hal Serupa
Bestari menilai angka 2,3 persen bukan hal yang luar biasa. Ia menunjuk pengalaman sejumlah partai politik yang kini duduk di parlemen, yang pada masa lalu juga pernah mencatat survei serendah itu. "Ya 2,3 persen banyak dialami oleh bahkan partai-partai parlemen pada masa-masa yang lalu itu, sehingga ini sebagai informasi lah bagi kami," kata Bestari saat dihubungi, Rabu (23/9).
Ia kemudian menyinggung komunikasinya dengan Dewan Pembina PSI sekaligus mantan Presiden RI Joko Widodo. Menurut Bestari, Jokowi rutin menerima pembaruan dari berbagai lembaga survei dengan hasil yang beragam. "Pak Jokowi itu mendapat update dari banyak survei dan hasilnya memang macam-macam," ujarnya.
Metode Berbeda, PSI Pakai Ukuran Internal
Bestari menegaskan PSI memiliki indikator pengukuran sendiri yang belum bisa dipublikasikan. Perbedaan metodologi antarlembaga survei, menurutnya, menjelaskan mengapa hasilnya tidak selalu sama. Karena itu, ia menempatkan rilis Poltracking sebagai masukan untuk evaluasi internal partai, terutama terkait strategi penguatan messaging dan kerja lapangan.
- PSI menerima data sebagai masukan evaluasi, bukan penilaian mutlak.
- Partai menyiapkan ukuran internal yang tidak dipublikasikan.
- Perbedaan metode survei disebut sebagai penyebab hasil variatif.
Optimisme di Tengah Ancaman Ambang Batas 5 Persen
Ketika ditanya soal prospek ke depan, Bestari tidak berubah sikap. "Kalau ditanya tentang optimisme, sampai hari ini kami optimis," katanya. Optimisme itu diuji oleh rencana kenaikan parliamentary threshold dari 4 persen menjadi 5 persen dalam RUU Pemilu. Dengan angka 2,3 persen, PSI termasuk kelompok partai yang berpotensi gagal masuk DPR bila ambang batas dinaikkan. Namun Yoki Alvetro mencatat persepsi publik masih bisa berubah, bergantung pada isu dan langkah strategis yang dijalankan masing-masing partai. PSI kini dipimpin Kaesang Pangarep, putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo, dan tantangan utamanya adalah mengubah tren survei menjadi dukungan nyata di bilik suara.
Comments (0)