Protes Darah di Pandeglang: 59 Warga Cap Jari Pakai Darah Tuntut Jalan Layak

Pandeglang - Mencapai puncak keputusasaan setelah puluhan tahun terisolasi oleh jalan rusak, 59 warga dari lima kampung di Desa Cijaralang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, melakukan aksi ya

Jul 08, 2026 - 05:49
0 0
Protes Darah di Pandeglang: 59 Warga Cap Jari Pakai Darah Tuntut Jalan Layak

Pandeglang - Mencapai puncak keputusasaan setelah puluhan tahun terisolasi oleh jalan rusak, 59 warga dari lima kampung di Desa Cijaralang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, melakukan aksi yang mengiris hati. Dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, mereka membubuhkan cap jempol menggunakan darah segar di atas kertas petisi putih, menciptakan dokumen tuntutan yang berlumuran simbol darurat.

Aksi ini merupakan klimaks dari penderitaan warga yang harus hidup dengan akses jalan penghubung antar-kampung yang hancur parah selama lebih dari dua puluh tahun. Perwakilan warga, Sujana, dengan getir menuturkan bahwa menggunakan darah adalah pilihan terakhir setelah seluruh jalur formal untuk menyampaikan aspirasi hanya berujung pada janji-janji kosong. Darah yang menetes di atas kertas itu seakan menjadi jeritan visual bahwa nyawa dan masa depan mereka benar-benar terancam jika infrastruktur dasar ini terus diabaikan.

“Puluhan tahun belum ada perbaikan, sudah parah,” ujar Sujana kepada Beritainti.com, Senin (22/6/2026).

Menurut laporan yang dihimpun media kami, ke-59 warga itu berasal dari perwakilan lima kampung terpencil yang secara ekonomi sangat bergantung pada kelancaran jalur distribusi hasil bumi. Penggunaan darah, jelas Sujana, dipilih bukan untuk sensasi, melainkan sebagai simbol kedaruratan yang tak bisa lagi ditawar. Setiap musim hujan, jalan tanah dan bebatuan di wilayah itu berubah menjadi rawa lumpur yang nyaris mustahil dilalui, bahkan oleh pejalan kaki sekalipun. Kondisi ini telah memakan korban—baik berupa nyawa warga yang terlambat mendapatkan pertolongan medis, maupun kerugian material akibat hasil pertanian yang membusuk sebelum sempat dijual ke pasar kecamatan.

Lebih dari itu, anak-anak usia sekolah harus menempuh perjalanan berbahaya dengan berjalan kaki hingga bermil-mil, sering kali tiba di kelas dalam keadaan berlumpur dan kelelahan. Warga merasa seolah hak-hak dasar mereka sebagai warga negara terampas oleh ketidakpedulian yang sistematis. Petisi berdarah ini, menurut Sujana, ingin menyampaikan pesan keras: lebih baik mengorbankan beberapa tetes darah untuk menuntut perubahan, daripada terus-menerus kehilangan darah karena kecelakaan atau penyakit akibat akses transportasi yang terputus total.

Hingga berita ini diturunkan, Tim Beritainti.com masih berupaya mengonfirmasi respons resmi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pandeglang maupun pemerintah provinsi. Warga berharap aksi nekat ini menjadi titik balik. “Kami tidak ingin lagi darah yang keluar dari tubuh kami karena kecelakaan di jalan rusak. Biarlah darah ini cukup untuk petisi saja,” tambah Sujana dengan nada penuh harapan sekaligus kemarahan yang terpendam.

Kondisi infrastruktur di wilayah selatan Pandeglang memang telah lama menjadi borok yang tak kunjung diperbaiki. Ruas-ruas jalan desa di Kecamatan Cimanggu dan sekitarnya masih banyak yang berupa jalur tanah liat yang licin dan berbahaya. Petisi berwarna merah yang kini dipegang warga itu adalah bukti nyata bahwa kesabaran memiliki batas, dan darah manusia—dalam bentuknya yang paling literal—kini digunakan sebagai tinta untuk menulis penderitaan yang telah berlangsung seumur hidup.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Editor Politik. Editor ringkasan kebijakan dan pemilu.

Comments (0)

User