Presiden Prabowo: Polisi Harus Makin Dekat dengan Rakyat, Ingat Gaji dari Uang Rakyat
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kedekatan institusi kepolisian dengan masyarakat dalam sebuah amanat yang disampaikan pada puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Di had
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kedekatan institusi kepolisian dengan masyarakat dalam sebuah amanat yang disampaikan pada puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Di hadapan para perwira dan anggota Polri, ia mengingatkan bahwa sumber penghidupan seluruh aparat berasal dari rakyat, sehingga orientasi pelayanan harus sepenuhnya berpihak kepada kepentingan publik. Menurut pantauan media kami di lokasi, pesan tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah dari peserta upacara.
Momentum usia ke-80 Korps Bhayangkara ini dijadikan titik refleksi oleh Kepala Negara. Ia mengajak seluruh jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk kembali mengevaluasi sejauh mana kehadiran mereka dirasakan manfaatnya oleh masyarakat lapisan bawah. “Jadilah polisi yang dekat dengan rakyat. Gaji kita semuanya berasal dari uang rakyat, maka prioritas tertinggi kita adalah kebahagiaan dan rasa aman mereka,” ujar Presiden di hadapan ribuan peserta.
Datangi, Dengarkan, dan Lindungi Masyarakat
Dalam arahannya, Presiden Prabowo tidak hanya menuntut kedekatan secara seremonial. Ia memerintahkan agar setiap personel kepolisian memiliki inisiatif untuk turun langsung ke tengah masyarakat yang membutuhkan. Konsep keamanan yang ia bayangkan bukanlah sekadar penegakan hukum dari balik meja, melainkan sebuah kerja kemanusiaan yang hadir secara fisik di tengah problematika warga. Polisi diminta “datang” sebelum diminta, “mendengarkan” sebelum menindak, serta “melayani” dan “melindungi” tanpa pamrih.
Presiden dengan tegas menarik garis pemisah antara pola kerja lama dan tuntutan zamannya. Di era yang penuh tantangan sosial dan ekonomi saat ini, ia mengingatkan jangan sampai aparat justru menjadi sumber keluhan dan kesusahan baru bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan rekaman laporan dari berbagai daerah yang ia terima, di mana birokrasi pelaporan dan oknum yang arogan kerap menjadi hambatan utama kepercayaan publik terhadap institusi.
“Saya ingin seluruh anggota Polri benar-benar hadir untuk rakyat. Jangan sampai kita yang digaji oleh rakyat justru menyusahkan rakyat. Datangilah mereka yang kesulitan, dengarkan keluhan mereka, dan lindungi mereka sepenuh hati,” tegas Presiden dalam pidatonya.
Arahan untuk Reformasi Kultural Polri
Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 ini dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai panggung peneguhan arah kebijakan keamanan dalam negeri. Presiden tidak secara spesifik menyebutkan program baru, namun arahannya secara jelas mendorong reformasi kultural di tubuh Polri. Kedekatan dengan rakyat bukan sekadar jargon, melainkan keharusan institusional yang menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa keamanan dan kenyamanan di tingkat akar rumput, target pertumbuhan ekonomi akan sulit tercapai.
Lebih lanjut, Kepala Negara juga menekankan bahwa profesionalisme polisi harus berbanding lurus dengan empati. Mengutip laporan internal yang diterima oleh tim kepresidenan, masih terdapat celah antara harapan dan kenyataan di lapangan. Oleh karena itu, ia berharap agar peringatan ini menjadi titik balik yang nyata, bukan sekadar seremoni tahunan. “Kepolisian yang kuat adalah kepolisian yang dipercaya, dan kepercayaan hanya lahir dari kedekatan dan ketulusan melayani,” tutupnya.
Comments (0)