Pramono Anung Kukuhkan Akademi Jakarta, Gaungkan Kembali Taman Ismail Marzuki sebagai Pusat Kebudayaan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi mengukuhkan para anggota Akademi Jakarta untuk periode 2026 hingga 2031 dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Balai Kota DKI Jakarta. Pengukuhan ini
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi mengukuhkan para anggota Akademi Jakarta untuk periode 2026 hingga 2031 dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Balai Kota DKI Jakarta. Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni kelembagaan, melainkan menjadi titik tolak ambisi besar Gubernur untuk merevitalisasi wajah kebudayaan ibu kota. Dalam pidatonya, Pramono menegaskan bahwa geliat Jakarta sebagai kota global tidak boleh semata-mata diukur dari gemerlap dan kecepatan pembangunan infrastruktur fisik.
Menurut laporan yang diterima media kami, Pramono menyoroti bahwa fondasi sesungguhnya dari sebuah kota metropolitan yang berkelas dunia adalah identitas budaya yang kuat serta keberpihakan pada ruang-ruang ekspresi bagi para pelaku seni. Ia menilai sudah saatnya Jakarta menyeimbangkan pencapaian ekonominya dengan kedalaman ekosistem kesenian yang inklusif.
"Jakarta betul-betul saya ingin membuat ruang untuk budaya, seni, dan orang berekspresi itu terbuka cukup lebar. Salah satunya adalah pengelolaan bersama panggung-panggung utama, termasuk Taman Ismail Marzuki," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Visi Besar Mengembalikan Kejayaan TIM
Pernyataan tegas Pramono tersebut menandakan adanya potensi perombakan besar dalam tata kelola pusat kesenian legendaris, Taman Ismail Marzuki (TIM). Gubernur memiliki visi untuk mengembalikan kejayaan TIM seperti era 1970-an hingga 1990-an, saat kawasan itu menjadi magnet utama bagi para sastrawan, dramawan, perupa, dan musisi Tanah Air. Pramono ingin memastikan bahwa panggung-panggung utama di ibu kota tidak hanya berfungsi sebagai gedung pertunjukan komersial, melainkan menjadi laboratorium kreatif yang dapat diakses oleh seniman dari berbagai strata.
Pengukuhan Akademi Jakarta ini diharapkan menjadi katalisator untuk mewujudkan mimpi tersebut. Keberadaan para akademisi dan budayawan di lembaga itu diyakini mampu merumuskan strategi kebudayaan yang lebih progresif, menjembatani aspirasi akar rumput dengan kebijakan pemerintah provinsi. Pramono menekankan bahwa pengelolaan ruang budaya harus bersifat kolaboratif, mengedepankan semangat gotong royong antara pemerintah dan komunitas.
Lebih lanjut, transformasi TIM ditargetkan menjadi cetak biru bagi pengembangan ruang-ruang ketiga di seluruh penjuru Jakarta. Selain memodernisasi fasilitas, pemerintah ingin menghidupkan ekosistem di sekitarnya agar terus bergeliat tanpa kehilangan ruh historis sebagai pusat literasi dan seni avant-garde. Dengan dikukuhkannya Akademi Jakarta, Pramono berharap segera tercipta peta jalan pemajuan kebudayaan yang membuat Jakarta tidak hanya menjadi kota tujuan investasi, tetapi juga barometer peradaban seni di Asia Tenggara.
Comments (0)