Prabowo Desak Negara BRICS Integrasikan Mitigasi Bencana dalam Pembangunan
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan perlunya transformasi cara pandang global terhadap peristiwa bencana alam. Dalam forum internasio
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan perlunya transformasi cara pandang global terhadap peristiwa bencana alam. Dalam forum internasional bersama aliansi negara-negara berkembang (BRICS), Presiden menyampaikan bahwa bencana tidak boleh lagi dipandang secara pasif sebagai musibah semata atau peristiwa fatalistik yang sekadar mendatangkan kerugian ekonomi.
Menurut analisis Presiden, terdapat keterkaitan struktural yang sangat erat antara pola pembangunan, degradasi lingkungan, dan risiko kerentanan bencana. Oleh karena itu, arsitektur pembangunan di negara-negara berkembang harus mengintegrasikan ketahanan iklim dan manajemen risiko komprehensif sejak tahap perencanaan awal.
"Bencana bukan sekadar musibah yang datang tiba-tiba lalu ditangisi. Kerugian yang ditimbulkan mencerminkan bagaimana kita merancang tata ruang, mengelola sumber daya, dan membangun infrastruktur. Kita harus memahami kaitan mendasar bencana dengan pola pembangunan," tegas Presiden Prabowo Subianto.
Paradigma Baru: Menghubungkan Mitigasi dan Pembangunan Berkelanjutan
Pendekatan analitis ini menempatkan mitigasi bencana bukan lagi sebagai pos pengeluaran darurat reaktif, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang. Kegagalan memahami hubungan kausal antara eksploitasi ruang tanpa kendali dan intensitas bencana dinilai hanya akan menjebak negara berkembang dalam siklus kerugian ekonomi yang berulang.
Presiden menggarisbawahi bahwa pemulihan pascabencana sering kali menyerap porsi signifikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tanpa perubahan paradigma konstruksi dan tata ruang, anggaran publik akan terus terkuras untuk rekonstruksi darurat, alih-alih dialokasikan ke sektor produktif seperti pendidikan, teknologi, dan industrialisasi bernilai tambah.
Kronologi dan Urutan Arahan Strategis Presiden
Guna mewujudkan kerangka kerja yang terukur di tingkat nasional maupun multilateral, Presiden Prabowo merumuskan tahapan strategis bagi negara-negara anggota:
- Audit Ketahanan Infrastruktur: Meninjau ulang seluruh standar proyek infrastruktur publik agar adaptif terhadap potensi cuaca ekstrem dan aktivitas seismik.
- Harmonisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW): Membatasi konversi lahan kritis serta memperketat izin pembangunan pada kawasan rawan bencana demi menjaga daya dukung ekologis.
- Mobilisasi Pendanaan Berkelanjutan: Mengajak lembaga keuangan BRICS, seperti New Development Bank (NDB), untuk membiayai proyek infrastruktur hijau berorientasi mitigasi risiko.
- Penguatan Sistem Peringatan Dini: Mengembangkan transfer teknologi antarmitra BRICS untuk meningkatkan akurasi deteksi dini dan kesiapsiagaan masyarakat lokal.
Urgensi Solidaritas dan Kerja Sama Multilateral di Blok BRICS
Kemitraan strategis antarnegara anggota BRICS dipandang sebagai instrumen krusial untuk menghadapi tantangan krisis iklim global. Mengingat sebagian besar anggota BRICS merupakan negara berkembang dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang masif, kerentanan terhadap anomali iklim menjadi ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi makro.
Presiden Prabowo mendorong agar blok kerja sama ini tidak hanya berfokus pada perdagangan komoditas dan dedolarisasi finansial semata, melainkan memelopori standar baru dalam resilient infrastructure development. Dengan transfer teknologi pemantauan geospasial serta skema asuransi risiko bencana bersama, beban fiskal masing-masing negara ketika menghadapi krisis lingkungan dapat ditekan secara signifikan.
Comments (0)