PPI Bicara 2 Alasan PDIP Dicecar Koalisi Pemerintah soal 'Kawan atau Lawan'
Jakarta - Hubungan antara PDIP dan partai-partai yang tergabung dalam koalisi pemerintah kembali menunjukkan keretakan. Saling kritik dan sentimen tajam mewarnai dinamika politik belakangan ini, te
Jakarta - Hubungan antara PDIP dan partai-partai yang tergabung dalam koalisi pemerintah kembali menunjukkan keretakan. Saling kritik dan sentimen tajam mewarnai dinamika politik belakangan ini, terutama menyangkut posisi PDIP sebagai 'kawan atau lawan' di luar lingkar kekuasaan.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Ia menilai, setidaknya ada dua alasan yang membuat PDIP terus dicecar oleh partai-partai pendukung pemerintah. Kecaman yang bertubi-tubi dinilainya sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan dari posisi politik PDIP saat ini.
Salah satu alasan utamanya adalah hasil Pemilihan Presiden 2024. Kekalahan yang dialami PDIP dalam kontestasi tersebut menjadi titik balik yang mengubah peta persekusi politik terhadap partai berlambang banteng itu.
"Pertama, karena PDIP kalah pilpres dan tak resmi gabung pemerintah. Makanya dikeroyok partai koalisi pemerintah. Buktinya waktu PDIP menang Pilpres 2014 dan 2019, tak ada yang berani nyerang. Begitulah kalau kalah pilpres, macam yatim piatu tak ada yang mau berkawan dan bahkan suka dikucilkan," ujar Adi Prayitno saat dihubungi media kami, Kamis (25/6/2026).
Adi menggambarkan, fenomena ini seperti hukum alam dalam politik praktis. Ketika berkuasa, semua pihak cenderung merapat. Sebaliknya, ketika kalah, ruang gerak terasa sempit dan tekanan datang dari berbagai arah. Posisi PDIP yang belum menyatakan bergabung secara resmi dengan pemerintah membuat situasi kian pelik.
Situasi ini kontras dengan periode sebelumnya, di mana PDIP menikmati kenyamanan sebagai pemenang Pilpres 2014 dan 2019. Kala itu, kritik terbuka dari partai koalisi hampir tak terdengar. Dinamika berubah drastis pasca-pilpres terbaru, di mana PDIP harus menghadapi realitas sebagai partai yang berada di luar lingkar inti pemerintahan. Serangan dan pertanyaan seputar 'kawan atau lawan' pun terus bergulir di ruang publik.
Comments (0)