Pires Kenang Panasnya Rivalitas Arsenal vs Manchester United
JAKARTA — Robert Pires tersenyum lebar ketika namanya disebut dalam sesi konferensi pers jelang laga Battle of the Legends di Jakarta. Legenda Arsenal itu langsung melempar gurauan tentang absennya ...
JAKARTA — Robert Pires tersenyum lebar ketika namanya disebut dalam sesi konferensi pers jelang laga Battle of the Legends di Jakarta. Legenda Arsenal itu langsung melempar gurauan tentang absennya Gary Neville, bek kanan Manchester United yang menjadi musuh bebuyutannya di era 2000-an. "Saya senang dia tidak datang ke sini. Kalau dia ada, mungkin kami sudah berdebat lagi," ujar Pires disambut tawa hadirin. Kalimat itu bukan sekadar lelucon. Ia membuka kembali memori rivalitas terpanas Premier League antara Arsenal dan Manchester United.
Duel Pires vs Neville: Ketika Sayap Kiri Bertemu Bek Kanan
Pada awal 2000-an, posisi sayap kiri Arsenal selalu menjadi medan pertempuran. Pires berdiri di sana, sementara Neville, bek kanan United, bertugas meredamnya. Keduanya berhadapan minimal dua kali per musim di Premier League, ditambah laga-laga Piala FA dan Community Shield. Statistik memperlihatkan betapa ketat duel itu: Pires tercatat mencetak 14 gol dan menyumbang 21 assist dalam 58 penampilan melawan United di semua kompetisi. Sementara Neville, meski jarang masuk papan skor, dikenal sebagai bek yang tak memberi ruang. Ia sering menghentikan laju Pires dengan tekel bersih maupun tekel yang membuat wasit mengeluarkan kartu.
Musim 2003-2004 menjadi puncak cerita. Arsenal menutup liga sebagai juara tanpa terkalahkan dalam 38 pertandingan—prestasi The Invincibles. Pires menyumbang 14 gol dan 10 assist di liga, sementara United finis peringkat ketiga. Pertemuan kedua tim di Old Trafford pada September 2003 berakhir 0-0, tetapi pertandingan itu diwarnai enam kartu kuning dan tensi yang tinggi. Neville berulang kali beradu badan dengan Pires di sisi kanan pertahanan United. Penguasaan bola saat itu relatif seimbang: Arsenal 51 persen, United 49 persen, tetapi shots on target hanya lima—bukti duel taktik yang ketat.
Battle of the Legends: Ajang Reuni Rivalitas
Laga Battle of the Legends di Jakarta mempertemukan kembali para mantan pemain Arsenal dan Manchester United. Pires masuk dalam skuad legenda Arsenal bersama beberapa nama lain, sementara Neville absen karena komitmen lain. Menurut Pires, absennya Neville justru membuat lapangan terasa lebih aman. "Dulu saya harus melewati dia dulu sebelum bisa masuk ke kotak penalti. Sekarang, tanpa dia, saya bisa lebih santai," katanya sambil tertawa. Namun, ia menegaskan rasa hormatnya tetap tinggi. Menurutnya, rivalitas itu membentuk karakter Arsenal dan United pada era emas Premier League.
Dalam sesi latihan ringan di Jakarta, Pires terlihat masih memiliki sentuhan kelas satu. Ia beberapa kali melepaskan umpan terobosan dan tendangan bebas yang membuat kiper legenda United harus bekerja keras. Meski usia tak lagi muda, tempo permainan tetap menarik. Formasi 4-4-2 yang kemungkinan besar dipakai kedua tim bakal mengembalikan nuansa sepak bola awal 2000-an: umpan panjang, duel fisik, dan sayap-sayap cepat.
Statistik dan Warisan Rivalitas yang Tak Lekang
Rivalitas Arsenal vs United pada periode itu melahirkan sejumlah angka menarik. Dari 12 pertemuan Premier League antara 2000 dan 2004, Arsenal menang lima kali, United menang empat kali, dan tiga laga berakhir imbang. Total gol tercipta 25—rata-rata 2,08 gol per laga. Menariknya, Arsenal mencatat penguasaan bola rata-rata 53 persen, tetapi United unggul dalam efisiensi shots on target dengan rasio 48 persen. Pires dan Neville nyaris selalu tampil dalam duel tersebut. Neville tercatat 10 kartu kuning dalam laga melawan Arsenal sepanjang kariernya, menjadikannya salah satu bek paling sering dihukum wasit dalam derbi ini.
The Invincibles menjadi bukti bahwa Arsenal mampu mengubah rivalitas menjadi bahan bakar performa. Pires mengaku rivalitas dengan Neville membuatnya terus meningkatkan kualitas umpan dan pergerakan tanpa bola. "Kalau Anda menghadapi bek seperti Gary, Anda tidak bisa diam. Anda harus terus bergerak, mencari ruang, dan mengambil keputusan cepat," ujarnya. Pernyataan itu sejalan dengan data: Pires rata-rata melakukan 2,3 dribel sukses per laga melawan United, lebih tinggi dari rata-rata liga saat itu.
Laga Battle of the Legends ini tak akan mengubah klasemen apa pun, tetapi menjadi pengingat bahwa rivalitas Arsenal dan United pernah menjadi magnet utama Premier League. Kehadiran Pires di Jakarta, meski tanpa Neville, cukup untuk membawa penonton kembali ke era ketika setiap duel di sayap kiri terasa seperti pertarungan pribadi. Kick-off dijadwalkan malam ini, dan Pires berjanji akan memberikan hiburan terbaik—sekaligus mengenang lawan yang paling ia hormati dan paling ia hindari.
"Gary Neville adalah bek terbaik yang pernah saya lawan. Saya senang dia tidak di sini, tapi saya juga berharap dia ada," tutup Pires.
Dengan segala cerita dan statistik yang menyertai, Battle of the Legends tak sekadar laga eksibisi. Ia adalah jendela ke masa ketika Arsenal dan Manchester United mendominasi Inggris, dan ketika Pires serta Neville menjadi simbol persaingan yang tak pernah usai.
Comments (0)