PHRI: Erupsi Gunung Anak Krakatau Pukul Okupansi Hotel di Selat Sunda

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali memberikan pukulan nyata bagi lanskap industri perhotelan dan pariwisata di kawasan

Sep 09, 2026 - 18:43
0 1
PHRI: Erupsi Gunung Anak Krakatau Pukul Okupansi Hotel di Selat Sunda

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali memberikan pukulan nyata bagi lanskap industri perhotelan dan pariwisata di kawasan pesisir Banten dan Lampung. Peningkatan status kewaspadaan serta kepulan abu vulkanik tidak hanya memicu kekhawatiran keselamatan pelayaran, tetapi juga secara instan mengikis kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara yang berencana menghabiskan waktu di destinasi pesisir.

Pelaku usaha akomodasi di sekitar Anyer, Carita, hingga Kalianda mencatatkan tren pembatalan pemesanan (cancellation rate) yang cukup signifikan sesaat setelah erupsi terjadi. Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya sensitivitas sektor pariwisata terhadap kabar kebencanaan, terutama di wilayah yang memiliki memori kolektif terhadap ancaman tsunami dan bencana geologi.

Tekanan Okupansi dan Gelombang Pembatalan Reservasi

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencermati bahwa erupsi berkala ini langsung berimbas pada penurunan tingkat keterisian kamar (occupancy rate). Pada akhir pekan normal, okupansi hotel tepi pantai bisa mencapai 70 hingga 90 persen. Namun, pasca-erupsi, angka tersebut anjlok hingga di bawah 30 persen akibat kepanikan calon tamu.

"Setiap kali terjadi erupsi atau peningkatan aktivitas seismik di Anak Krakatau, dampak pertamanya adalah gelombang pembatalan kamar hotel. Persepsi risiko di mata publik sering kali melebihi radius bahaya sebenarnya yang telah ditetapkan oleh otoritas resmi," ungkap perwakilan asosiasi perhotelan.

Kondisi ini semakin menantang bagi para pengelola akomodasi mandiri yang bergantung penuh pada arus wisatawan akhir pekan untuk menutupi biaya operasional bulanan, mulai dari beban gaji karyawan hingga pemeliharaan fasilitas properti.

Distorsi Informasi dan Pentingnya Komunikasi Krisis

Secara analitis, tantangan terbesar industri perhotelan bukan semata-mata pada erupsi fisik gunung api, melainkan pada manajemen komunikasi krisis yang kerap terdistorsi di media sosial. Sering kali informasi mengenai radius aman yang diterbitkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) disalahartikan sebagai penutupan total seluruh wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Untuk menekan kerugian ekonomi yang lebih luas tanpa mengabaikan aspek keselamatan, pelaku usaha mendesak adanya koordinasi informasi terpadu antara pemerintah daerah, badan penanggulangan bencana, dan asosiasi industri pariwisata. Beberapa poin krusial yang diperlukan meliputi:

  • Penyampaian data zona aman: Memberikan kejelasan batas radius berbahaya agar wisatawan memahami hotel atau destinasi mana saja yang tetap aman dikunjungi.
  • Standar operasional mitigasi hotel: Menjamin setiap properti hotel memiliki jalur evakuasi, sistem peringatan dini, dan staf yang terlatih dalam tanggap darurat bencana.
  • Transparansi pemantauan cuaca dan laut: Sinergi bersama BMKG untuk memperbarui data tinggi gelombang dan sebaran abu secara berkala.

Strategi Pemulihan dan Kesiapsiagaan Sektor Wisata

Menghadapi ketidakpastian alamiah di wilayah Ring of Fire, pengusaha hotel dituntut bertransformasi dari sekadar penyedia akomodasi menjadi entitas yang memiliki resiliensi tinggi terhadap bencana. Edukasi kepada publik mengenai jarak aman pesisir dari pulau vulkanik—yang umumnya berkisar di luar 5 kilometer—menjadi kunci utama mengembalikan keyakinan pelancong.

Dukungan regulasi berupa relaksasi pajak daerah maupun bantuan promosi terintegrasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sangat diharapkan guna mempercepat kurva pemulihan ekonomi pasca-erupsi mereda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User