Pavlidis Gagal Penalti, Benfica Gigit Jari di Markas Leverkusen

Skor akhir 1-1 menjadi saksi frustrasi Benfica di BayArena pada matchday kelima Liga Champions. Namun, sorotan tajam tertuju pada Vangelis Pavlidis—penyerang asal Yunani yang gagal mengeksekusi pena...

Aug 07, 2026 - 08:00
0 0
Pavlidis Gagal Penalti, Benfica Gigit Jari di Markas Leverkusen

Skor akhir 1-1 menjadi saksi frustrasi Benfica di BayArena pada matchday kelima Liga Champions. Namun, sorotan tajam tertuju pada Vangelis Pavlidis—penyerang asal Yunani yang gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-60. Padahal, andai gol, Benfica bisa membawa pulang tiga poin berharga. Statistik mencatat, Pavlidis melepaskan 4 tembakan, 2 di antaranya tepat sasaran, tetapi satu momen dari titik putih menjadi mimpi buruk yang mengubah arah pertandingan.

Sejak menit awal, Benfica tampil dengan formasi 4-2-3-1 yang agresif. Pelatih Roger Schmidt memasang Pavlidis sebagai ujung tombak tunggal, didukung trio kreatif di belakangnya: Di Maria, Rafa Silva, dan Joao Mario. Strategi ini langsung membuahkan hasil pada menit ke-12. Umpan terobosan Rafa Silva membelah pertahanan Leverkusen, dan Pavlidis yang lolos dari jebakan offside berhasil menaklukkan kiper Lukas Hradecky dengan tendangan kaki kiri yang melengkung ke sudut kiri gawang. Gol tersebut menjadi gol ke-3 Pavlidis di kompetisi ini musim 2024/2025.

Namun, Leverkusen yang dilatih Xabi Alonso tidak tinggal diam. Mereka merespons dengan penguasaan bola mencapai 61% sepanjang laga. Serangan bertubi-tubi dari sayap kanan melalui Jeremie Frimpong membuat lini belakang Benfica kewalahan. Pada menit ke-34, Frimpong melepaskan umpan silang yang disambut sundulan Florian Wirtz. Bola sempat membentur tiang, tetapi rebound disambar oleh Victor Boniface yang menuntaskan peluang dengan tendangan voli dari jarak 6 meter. Skor berubah 1-1, dan pertandingan memasuki babak kedua dengan tensi meningkat.

Babak Kedua: Drama Penalti dan Keputusan Kontroversial VAR

Memasuki menit ke-55, Benfica mendapat hadiah penalti setelah bek Leverkusen, Jonathan Tah, melanggar Joao Mario di kotak terlarang. Wasit sempat mengecek VAR selama dua menit sebelum memastikan pelanggaran terjadi. Pavlidis yang ditunjuk sebagai eksekutor mengambil napas dalam-dalam. Namun, tendangannya yang mengarah ke sisi kanan gawang berhasil ditebak Hradecky—kiper asal Republik Ceko itu melompat sempurna dan menepis bola dengan telapak tangan. Momen ini menjadi titik balik. Sejak itu, Leverkusen meningkatkan intensitas serangan, sementara Benfica kehilangan kepercayaan diri.

Data penguasaan bola menunjukkan Benfica hanya memiliki 39% sepanjang 90 menit. Mereka juga kalah dalam jumlah shots on target: 4 berbanding 7 milik Leverkusen. Pelatih Schmidt mencoba mengubah keadaan dengan memasukkan Arthur Cabral dan Tiago Gouveia pada menit ke-70, tetapi pertahanan Leverkusen yang dikomandoi Tah dan Edmond Tapsoba tampil solid. Hradecky mencatatkan 3 penyelamatan penting, termasuk satu penyelamatan dari tendangan jarak dekat Di Maria pada menit ke-85.

“Kami seharusnya menang. Penalti itu adalah peluang emas, dan gagal mengeksekusinya adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan di level ini. Namun, saya tetap bangga dengan perjuangan tim,” ujar Roger Schmidt dalam konferensi pers usai laga.

Di sisi lain, Xabi Alonso memuji mentalitas anak asuhnya. “Kami tidak pantas kalah. Kami mendominasi, menciptakan banyak peluang, dan akhirnya hasil imbang adalah hal yang adil. Wirtz dan Boniface tampil luar biasa,” katanya.

Analisis Performa Pavlidis dan Dampaknya pada Klasemen Grup

Pavlidis kini memiliki catatan 3 gol dan 1 assist dalam 5 penampilan Liga Champions musim ini. Namun, kegagalan penalti ini menandai penurunan akurasi eksekusi—dari 5 penalti yang diambil musim ini di semua kompetisi, ia gagal 2 kali. Statistik menunjukkan bahwa tendangan penaltinya sering diarahkan ke sisi kanan kiper, yang mudah ditebak oleh kiper berpengalaman seperti Hradecky. Pelatih Schmidt mungkin perlu mempertimbangkan menunjuk Di Maria sebagai eksekutor utama ke depannya.

Hasil imbang ini membuat Benfica berada di posisi ketiga Grup D dengan 7 poin, tertinggal 2 poin dari Leverkusen di posisi kedua. Sementara itu, Bayern Munich memimpin dengan 12 poin. Dengan dua laga tersisa, Benfica wajib menang melawan Barcelona di kandang dan setidaknya imbang melawan Inter Milan di laga pamungkas untuk memastikan lolos ke babak 16 besar. Tekanan kini berada di pundak Pavlidis, yang harus membuktikan bahwa kegagalan penalti ini tidak menghantuinya di laga-laga krusial mendatang.

Secara taktis, Benfica menunjukkan kelemahan dalam transisi bertahan saat menghadapi serangan balik cepat Leverkusen. Tiga kali mereka tertangkap offside dalam posisi menyerang, menunjukkan kurangnya koordinasi antara lini tengah dan depan. Namun, performa gemilang kiper Anatoliy Trubin—yang mencatatkan 6 penyelamatan—menjadi penyelamat Benfica dari kekalahan. Trubin juga sukses mengantisipasi dua peluang emas Wirtz pada menit ke-78 dan ke-90+2.

Pertandingan ini juga mencatatkan 3 kartu kuning untuk Benfica (Antonio Silva, Fredrik Aursnes, dan Joao Neves) serta 2 untuk Leverkusen (Frimpong dan Tah). Tidak ada kartu merah, tetapi tensi sempat memanas pada menit ke-88 ketika terjadi adu mulut antara Pavlidis dan Tapsoba di tengah lapangan. Wasit asal Rumania, Istvan Kovacs, berhasil menenangkan situasi tanpa mengeluarkan hukuman tambahan.

Dengan hasil ini, Benfica harus segera bangkit. Jadwal padat menanti: mereka akan menghadapi Porto di liga domestik akhir pekan ini, sebelum menjamu Barcelona di Liga Champions. Pavlidis punya kesempatan untuk menebus kesalahan, tetapi ia harus menunjukkan ketenangan dan ketajaman yang menjadi ciri khasnya saat membela PAOK di Yunani. Para penggemar Benfica tentu berharap momen penalti yang gagal itu hanya menjadi noda kecil di musim yang masih panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User