Paredes Picu Kerusuhan di Final Piala Dunia 2026
Skor akhir 2–2 bertahan hingga peluit panjang perpanjangan waktu dibunyikan di MetLife Stadium, New Jersey. Namun, cerita sesungguhnya baru dimulai beberapa detik setelah tendangan penalti terakhir ...
Skor akhir 2–2 bertahan hingga peluit panjang perpanjangan waktu dibunyikan di MetLife Stadium, New Jersey. Namun, cerita sesungguhnya baru dimulai beberapa detik setelah tendangan penalti terakhir yang mengantar Spanyol menjadi kampiun dunia. Leandro Paredes, gelandang veteran Argentina, menjadi aktor utama dalam kericuhan yang langsung menarik sorotan global.
Pertandingan Sengit Dua Raksasa
Duel klasik Eropa versus Amerika Selatan ini menyajikan tempo tinggi sejak menit pertama. Argentina membuka skor lewat Julian Álvarez pada menit ke-23. Berawal dari umpan terobosan Enzo Fernández, Álvarez melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu dijangkau kiper Spanyol. Assist brilian itu menyempurnakan skema formasi 4-3-3 yang diusung Lionel Scaloni. Spanyol yang juga memakai pola 4-3-3 langsung merespons. Di penghujung babak pertama, tepatnya menit ke-45+1, Pedri menyamakan kedudukan setelah memanfaatkan kemelut di kotak penalti. Skor 1–1 menutup paruh pertama.
Babak kedua kembali berjalan ketat. Lionel Messi nyaris membawa Argentina unggul lewat eksekusi bebas di menit ke-67, tetapi bola hanya membentur mistar. Namun, lima belas menit kemudian, tim La Albiceleste benar-benar di depan setelah Messi akhirnya mencetak gol dari situasi serupa. Sayangnya, euforia hanya bertahan empat belas menit. Menit ke-81, sundulan Álvaro Morata memaksakan skor 2–2 setelah umpan silang akurat Jordi Alba. Penguasaan bola Spanyol unggul jauh 58% berbanding 42%. Dari segi tembakan tepat sasaran, Spanyol mencatat 7 shots on target, sementara Argentina hanya 5. Kedua tim sama-sama mencatatkan 3 offside. Babak tambahan 30 menit tak mengubah papan skor. Kartu kuning menghampiri Rodrigo De Paul, Rodri, dan juga Leandro Paredes yang diganjar di menit ke-105 setelah tekel keras pada Gavi. Adu penalti pun tak terelakkan.
Letupan Emosi dan Kartu Merah untuk Paredes
Argentina gagal menjaga ketenangan setelah penendang keempat Spanyol sukses menuntaskan eksekusi. Saat para pemain La Roja merayakan gelar juara dunia kedua mereka, tensi di lapangan meletup. Video rekaman menunjukkan Leandro Paredes tiba-tiba berkonfrontasi dengan Gavi. Pertukaran kata-kata panas dengan cepat berubah menjadi adu fisik. Dalam panasnya momen, Paredes terlihat melepaskan tendangan ke arah bangku cadangan Spanyol—sebuah gestur yang segera ditinjau melalui VAR meski laga sudah usai.
Wasit utama yang memimpin laga, bersama asisten video, menganulir bahwa insiden tersebut dapat diterima. Setelah meninjau ulang rekaman, Paredes dihadiahi kartu merah langsung setelah pertandingan berakhir—sebuah pemandangan sangat langka di final Piala Dunia. Tindakan itu dinilai sebagai “perilaku tidak sportif dan provokatif” oleh perangkat pertandingan. Federasi Sepak Bola Argentina sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun pelatih Lionel Scaloni tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Kami kecewa dengan apa yang dilakukan Leandro. Hal seperti ini tidak seharusnya muncul di panggung sebesar ini. Final Piala Dunia seharusnya menjadi perayaan sepak bola, bukan malah dibayangi aksi yang tidak pantas,”
Pernyataan Scaloni disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung dengan atmosfer tegang. Sementara itu, kubu Spanyol menolak berkomentar banyak, memilih fokus pada kemenangan dan menjaga sportivitas. Paredes sendiri meninggalkan lapangan dengan pengawalan ketat, tanpa sepatah kata pun kepada awak media.
Statistik dan Konsekuensi
Dari kacamata data, laga ini memperlihatkan dominasi Spanyol dalam penguasaan bola dan kreasi peluang. Argentina yang dikenal dengan semangat juang tinggi justru sedikit kehilangan disiplin. Selama 120 menit, La Albiceleste mencatat 14 pelanggaran, lebih banyak tiga dari Spanyol yang hanya 11. Selain kartu merah kontroversial Paredes, wasit mengeluarkan tiga kartu kuning—masing-masing untuk De Paul, Rodri, dan Paredes sebelumnya. Starting XI Argentina andalkan Emiliano Martínez di bawah mistar, dengan lini belakang Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martínez, dan Nicolás Tagliafico. Duo Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister menemani De Paul di lini tengah, sementara Messi, Lautaro Martínez, dan Álvarez menjadi trisula. Tak satu pun mencatat clean sheet; Martínez kebobolan dua gol reguler plus lima penalti sukses Spanyol.
Insiden ini nyaris pasti berujung sanksi berat untuk Paredes. Regulasi FIFA memungkinkan larangan bertanding minimal tiga laga internasional untuk tindakan kekerasan di luar permainan. Kartu merah setelah laga usai akan dicatat dalam laporan resmi dan berpengaruh pada partai pembuka kualifikasi Piala Dunia berikutnya. Bagi Argentina, kekalahan di final disertai kericuhan seperti ini mengundang perbandingan dengan memori kelam masa lalu—namun kali ini sorotan tertuju pada satu nama: Leandro Paredes.
Rekan setimnya di tim nasional dan klub, Rodrigo De Paul, saat dimintai tanggapan singkat hanya menggeleng. “Saya tidak bisa bicara lebih banyak. Yang jelas, semua ini sangat menyakitkan dan seharusnya tidak terjadi,” ujarnya lirih sebelum bergegas menuju bus tim. Publik Argentina kini terbelah: sebagian menyesali ulah pemain 32 tahun itu, sementara sebagian lagi menyebut momen kepanasan di final adalah bagian dari sepak bola. Namun satu hal yang pasti, sejarah akan mencatat final Piala Dunia 2026 tidak hanya tentang adu penalti dramatis, tetapi juga tentang satu tendangan penuh emosi yang mengubah panggung terbesar sepak bola menjadi panggung kontroversi.
Comments (0)