Drama UEFA Super Cup: Van de Ven Cetak Gol Lalu Gagal Penalti

Bluenergy Stadium di Udine, Italia, menjadi saksi drama brutal sepak bola modern ketika Paris Saint-Germain memastikan trofi UEFA Super Cup 2025 melalui babak tos-tosan menegangkan melawan Tottenham H...

Oct 08, 2026 - 00:08
0 0
Drama UEFA Super Cup: Van de Ven Cetak Gol Lalu Gagal Penalti

Bluenergy Stadium di Udine, Italia, menjadi saksi drama brutal sepak bola modern ketika Paris Saint-Germain memastikan trofi UEFA Super Cup 2025 melalui babak tos-tosan menegangkan melawan Tottenham Hotspur. Pertandingan elite penanda pembuka kompetisi Eropa ini harus dituntaskan lewat adu penalti usai kedua tim bermain imbang 2-2 hingga peluit panjang berbunyi. Ironi terbesar malam itu jatuh ke pundak bek tengah Tottenham, Micky van de Ven, yang bertransformasi dari pahlawan pencetak gol pembuka menjadi sosok penentu kegagalan dalam drama adu penalti dengan skor akhir 4-3 untuk kemenangan sang raksasa Prancis.

Duel Taktikal Babak Pertama: Skema Bola Mati Spurs Berbuah Hasil

Memulai laga dengan tempo luar biasa tinggi, manajer Ange Postecoglou menurunkan formasi agresif 4-3-3, mengandalkan Micky van de Ven dan Cristian Romero sebagai dinding sentral pertahanan. Di kubu lawan, Luis Enrique menandinginya lewat starting XI berkarakter penguasaan bola tinggi berporos pada trio Vitinha, Warren Zaire-Emery, dan Fabian Ruiz. Sepanjang 30 menit awal, PSG mendominasi aliran bola dengan penguasaan bola mencapai 61 persen, namun disiplin zonal marking Tottenham membuat Les Parisiens gagal mencatatkan clean sheet ancaman berbahaya.

Momen krusial pecah pada menit ke-38. Berawal dari sepak pojok terukur James Maddison, bola liar di kotak penalti disambar oleh Van de Ven lewat sontekan kaki kiri keras yang merobek jala Gianluigi Donnarumma. Gol tersebut merupakan buah manis dari skema bola mati yang dirancang matang, sekaligus menjadi bukti ancaman vertikal sang bek Belanda. Tottenham unggul 1-0 hingga turun minum, membukukan total 3 shots on target dari 5 percobaan berbanding 1 tembakan tepat sasaran milik PSG.

PSG Menekan Tanpa Henti dan Drama VAR Babak Kedua

Memasuki babak kedua, intensitas benturan fisik kian memanas di lini tengah. Wasit terpaksa mencabut kartu kuning untuk Yves Bissouma di menit ke-52 setelah melanggar keras Ousmane Dembele yang menyisir sisi kanan. PSG merespons ketertinggalan dengan menaikkan garis pertahanan. Upaya tersebut membuahkan hasil di menit ke-63 ketika Dembele menyodorkan assist mendatar kepada Bradley Barcola yang sukses menaklukkan Guglielmo Vicario di tiang dekat.

Ketegangan memuncak di menit ke-74 saat Tottenham sempat kembali bersorak usai Brennan Johnson menceploskan bola rebound. Namun, intervensi VAR membatalkan gol tersebut setelah tayangan ulang membuktikan sang penyerang sayap sudah berdiri dalam posisi offside tipis beberapa sentimeter. PSG kemudian berbalik unggul 2-1 di menit ke-82 lewat sundulan Marquinhos memanfaatkan umpan sepak pojok Vitinha. Akan tetapi, determinasi tanpa henti Spurs menyamakan kedudukan 2-2 secara dramatis pada menit ke-89 melalui sundulan Romero menyambut umpan silang Son Heung-min, memaksa laga langsung ditentukan lewat adu penalti.

Adu Penalti Berdarah: Titik Nadir Micky van de Ven

Adu penalti menjadi medan pembuktian ketenangan mental di bawah sorotan tajam puluhan ribu penonton di Bluenergy Stadium. Tiga penendang pertama dari masing-masing kesebelasan berhasil menuntaskan tugas dengan dingin. Donnarumma dan Vicario berulang kali membaca arah bola, namun eksekusi penendang utama terlalu presisi untuk dijangkau.

Petaka bagi Tottenham hadir pada giliran penendang keempat. Micky van de Ven, yang sepanjang 90 menit bermain solid dengan catatan 4 intersep dan 1 gol krusial, melangkah maju menghadapi Donnarumma. Bek berusia 24 tahun itu melepaskan tendangan kaki kiri menyusur tanah ke arah kanan gawang. Namun, arah tembakan terbaca sempurna oleh kiper jangkung asal Italia tersebut yang sukses menepis bola keluar. Penendang kelima PSG lantas mengunci kemenangan tanpa cela, memastikan kekalahan pahit bagi The Lilywhites.

Inilah sepak bola pada level tertinggi; batas antara pahlawan dan patah hati begitu tipis. Micky tampil fantastis malam ini, mencetak gol hebat, dan kekalahan lewat adu penalti tidak mendefinisikan kontribusinya bagi tim.

Statistik Pertandingan dan Evaluasi Pasca Laga

Secara keseluruhan, statistik pertandingan merefleksikan pertarungan berimbang di kedua kubu. PSG mengakhiri laga dengan penguasaan bola sebesar 58 persen berbanding 42 persen milik Tottenham. Dari segi agresivitas, PSG melepaskan 15 tembakan dengan 6 shots on target, sementara Spurs menghasilkan 11 tembakan dengan 5 shots on target. Disiplin keras kedua kubu juga tergambar dari total 4 kartu kuning yang dikeluarkan sang pengadil lapangan sepanjang 90 menit waktu normal.

Kekalahan ini menjadi pil pahit bagi Tottenham Hotspur yang mengincar trofi kontinental perdana mereka di era modern. Kendati demikian, penampilan solid di waktu normal membuktikan bahwa sistem racikan Ange Postecoglou mampu bersaing di level teratas Eropa. Sementara bagi PSG, gelar UEFA Super Cup 2025 ini menegaskan dominasi mereka sekaligus memperkaya lemari trofi internasional klub ibu kota Prancis tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User