Momen Aguero dan Detik Terakhir Gelar Juara Manchester City 2012
Menit ke-90+4, Etihad Stadium meledak. Sergio Aguero, striker Manchester City, melepaskan tendangan rendah dari dalam kotak penalti yang bersarang ke sudut kanan gawang Queens Park Rangers. Skor akhir...
Menit ke-90+4, Etihad Stadium meledak. Sergio Aguero, striker Manchester City, melepaskan tendangan rendah dari dalam kotak penalti yang bersarang ke sudut kanan gawang Queens Park Rangers. Skor akhir 3-2 untuk City, dan gelar Premier League 2011-2012 berpindah ke tangan Manchester City hanya dalam hitungan detik. Drama itu menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah kompetisi sepak bola Inggris, sekaligus penutup musim yang berjalan dengan intensitas luar biasa.
Pertandingan yang menentukan gelar itu awalnya berjalan sesuai skenario tuan rumah. Manchester City tampil dengan formasi 4-2-3-1 di bawah asuhan Roberto Mancini, mengandalkan Aguero sebagai ujung tombak tunggal. Starting XI City saat itu diperkuat Joe Hart di bawah mistar, bek sentral Vincent Kompany dan Joleon Lescott, serta duet lini tengah Yaya Toure dan Gareth Barry. Di sisi lain, QPR yang dilatih Mark Hughes datang dengan pendekatan bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat.
City membuka keunggulan lebih dulu melalui gol Wayne Rooney? Tidak, itu pertandingan lain. Pada laga ini, gol pertama City lahir dari kaki Pablo Zabaleta pada menit ke-39. Bek kanan itu menyelesaikan umpan silang dengan penyelesaian tenang, membawa tuan rumah unggul 1-0 hingga turun minum. Statistik babak pertama menunjukkan City mendominasi dengan penguasaan bola mencapai 72 persen dan enam shots on target, sementara QPR hanya mencatatkan satu percobaan ke arah gawang.
Babak Kedua yang Berbalik Arah
Memasuki babak kedua, pertandingan berubah total. QPR menyamakan kedudukan pada menit ke-48 lewat gol Djibril Cisse setelah memanfaatkan kelengahan lini belakang City. Tidak sampai 20 menit berselang, QPR justru berbalik unggul pada menit ke-66 melalui gol kepala Jamie Mackie. Skor 2-1 untuk tim tamu membuat Etihad Stadium hening. Di kursi pelatih, tekanan terhadap Mancini kian besar karena City sempat kehilangan Joey Barton yang menerima kartu merah setelah melakukan pelanggaran keras, meski Barton sendiri bermain untuk QPR.
Ancaman kartu merah dan ketertinggalan tidak membuat City kehilangan arah. Mancini memasukkan Edin Dzeko untuk menambah daya gedor, sementara Aguero tetap menjadi tumpuan utama di lini depan. Pada menit ke-90+2, Dzeko menyundul bola hasil sepak pojok untuk menyamakan skor menjadi 2-2. Gol itu sempat memberi harapan, namun hasil imbang tetap tidak cukup untuk mengunci gelar karena Manchester United saat itu sedang memimpin di kandang Sunderland. City butuh gol tambahan, dan waktu hampir habis.
Momen Ikonik Aguero di Menit Terakhir
Menit ke-90+4, Mario Balotelli menerima bola di tengah lapangan, menahan sebentar, lalu melepaskan umpan terobosan kepada Aguero yang berlari masuk ke kotak penalti. Tanpa ragu, striker asal Argentina itu menyentuh bola satu kali sebelum menembak rendah ke arah tiang jauh. Kiper QPR, Paddy Kenny, tidak mampu menjangkau bola. Skor akhir 3-2. Gol itu langsung memicu selebrasi besar-besaran, sementara suara komentator legendaris Martin Tyler ikut bergema: "Aguerooo!"
"Saya hanya berpikir untuk menendang bola ke gawang. Saya tidak peduli apa yang terjadi setelahnya. Momen itu adalah hal terbaik yang pernah saya alami dalam karier," ujar Aguero dalam wawancara setelah pertandingan.
Data pertandingan mencatat City menutup laga dengan penguasaan bola 71 persen, 9 shots on target dari total 19 percobaan, serta 12 tendangan sudut. QPR hanya memiliki 29 persen penguasaan bola dan 3 shots on target, namun mampu membuat pertandingan berjalan dramatis hingga detik terakhir. Kartu kuning tercatat untuk beberapa pemain, sementara kartu merah Joey Barton menjadi catatan tersendiri dalam laga tersebut. Sistem VAR belum diterapkan pada era itu, sehingga keputusan wasit sepenuhnya bergantung pada penglihatan langsung di lapangan.
Dampak Gelar Juara bagi Manchester City
Kemenangan 3-2 atas QPR memastikan Manchester City mengoleksi 89 poin, sama dengan Manchester United, tetapi unggul selisih gol. Gelar Premier League 2011-2012 menjadi yang pertama bagi City sejak 1968, sekaligus menandai dimulainya era baru klub di bawah kepemilikan Abu Dhabi United Group. Aguero, yang menyelesaikan musim dengan 23 gol di Premier League, menjadi pahlawan utama. Clean sheet memang tidak tercatat dalam laga itu, tetapi kontribusi Aguero sepanjang musim tidak terbantahkan.
Bagi QPR, kekalahan itu tetap membuat mereka bertahan di Premier League berkat hasil pertandingan lain yang menguntungkan. Sementara itu, Manchester United harus menerima kenyataan pahit kehilangan gelar di menit-menit akhir, meski sempat unggul lebih dulu di kandang Sunderland. Drama di Etihad Stadium pada 13 Mei 2012 itu kini dikenang sebagai salah satu penutup musim paling mendebarkan dalam sejarah sepak bola Inggris, dengan Aguero sebagai tokoh sentral yang namanya terus disebut setiap kali membahas gelar juara Manchester City.
Comments (0)