LIMA — Presiden Argentina Javier Milei resmi mencatatkan kehadirannya dalam pelantikan Presiden terpilih Peru, Keiko Fujimori, di Lima pada 28 Juli 2026. Kehadiran Milei bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa. Ini adalah starting XI dari formasi politik baru di Amerika Latin: poros kanan yang semakin solid menjelang bergulirnya musim politik kawasan.
Momen kedatangan Milei di bandara internasional Jorge Chávez menjadi sorotan. Dengan gaya khasnya yang energik, ia melangkah keluar dari pesawat mengenakan setelan gelap, disambut protokol kenegaraan Peru. Bagi publik Lima yang sejak pagi memadati area sekitar Plaza de Armas, kehadiran Milei ibarat signing besar di bursa transfer politik: sosok yang selama ini identik dengan kebijakan pemangkasan anggaran dan deregulasi ekonomi itu datang membawa agenda ideologisnya.
Fujimori Menang Tipis, Milei Jadi Tamu Kehormatan
Keiko Fujimori, yang kembali mencalonkan diri setelah beberapa kali gagal dalam pemilu sebelumnya, akhirnya mengunci kemenangan. Dalam lanskap politik Peru yang terbelah, hasil ini menjadi clean sheet bagi koalisi kanan-tengah yang mengusung agenda keamanan dan stabilitas ekonomi. Fujimori dikenal sebagai figur yang getol mendorong investasi asing dan reformasi birokrasi, dua hal yang sejalan dengan platform Milei di Argentina.
Kedatangan Milei di acara pelantikan menegaskan bahwa kedua negara kini berada dalam koalisi ideologis yang sama. Dalam konteks geopolitik regional, ini adalah umpan manis bagi terbentuknya poros ekonomi liberal di Amerika Selatan, melengkapi langkah serupa yang tengah dijajaki di Paraguay dan Ekuador. Penguasaan bola politik kawasan yang sebelumnya banyak dipegang kekuatan kiri kini mulai bergeser ke sayap kanan.
“Peru dan Argentina memiliki visi yang sama tentang masa depan: ekonomi yang bebas, negara yang hadir secara efisien, dan kerja sama yang saling menguntungkan,” ujar seorang pejabat delegasi Argentina dalam keterangan resmi di Lima, tanpa menyebut nama.
Agenda Bilateral: Investasi, Energi, dan Keamanan
Di sela rangkaian pelantikan, Milei dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Fujimori. Sejumlah isu krusial masuk dalam daftar pembicaraan. Pertama, kerja sama sektor energi dan pertambangan, mengingat Peru adalah produsen tembaga terbesar kedua dunia dan Argentina tengah menggenjot ekspor lithium serta Vaca Muerta. Kombinasi ini berpotensi menjadi assist besar bagi rantai pasok mineral kritis global.
Kedua, isu keamanan regional. Fujimori berkampanye dengan janji memberantas kejahatan terorganisir, sementara Milei membawa pengalaman kebijakan tangan keras di Argentina. Ketiga, penyederhanaan regulasi perdagangan antarnegara. Langkah ini bisa mempercepat integrasi ekonomi bilateral yang selama ini terhambat birokrasi.
Dalam konteks analisis taktik politik, kehadiran Milei di Lima adalah high pressing simbolik: ia ingin menekan dominasi narasi kiri di forum-forum multilateral Amerika Latin. Dukungan terbuka kepada Fujimori juga mengirim pesan bahwa Argentina di bawah Milei tidak ragu bermain agresif dalam politik regional.
Respons Publik dan Peta Politik Kawasan
Di Peru sendiri, respons publik terbelah. Pendukung Fujimori menyambut antusias, menganggap kedatangan Milei sebagai validasi internasional. Namun kalangan oposisi menilai kehadiran tersebut sebagai intervensi simbolik yang berlebihan. Sejumlah analis mencatat bahwa tingkat penerimaan Fujimori di kota-kota besar masih di bawah 50 persen, angka yang mirip dengan margin kemenangan tipisnya.
Data elektoral memperlihatkan Fujimori menang dengan selisih yang tidak terlalu lebar, setara dengan kemenangan lewat injury time. Ini berarti pemerintahan barunya akan menghadapi tekanan oposisi yang kuat di parlemen. Dukungan Milei, dalam hal ini, bisa menjadi kartu kuning bagi lawan politik, sekaligus kartu merah jika dianggap terlalu mencampuri urusan domestik Peru.
Bagi Milei, lawatan ini juga punya dimensi domestik. Hubungan luar negeri yang intens dengan negara-negara berpandangan sama membantu memperkuat narasi keberhasilan politiknya di mata pemilih Argentina. Setiap lawatan kenegaraan adalah peluang mencetak shots on target politik, terutama saat isu ekonomi dalam negeri masih menjadi sorotan.
Yang jelas, pelantikan 28 Juli 2026 di Lima menandai babak baru. Aliansi Argentina-Peru di bawah Milei dan Fujimori bukan sekadar seremonial. Ia adalah sinyal bahwa keseimbangan kekuatan politik di Amerika Latin sedang direkayasa ulang, satu pertemuan bilateral pada satu waktu. Babak pertama telah dimainkan di Lima. Babak berikutnya akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan dan hasil nyata di lapangan ekonomi masing-masing negara.
Skor akhir politik? Masih panjang. Tetapi jika melihat formasi yang dipasang Milei dan Fujimori, keduanya jelas tidak berniat bermain aman. Penguasaan bola regional sedang mereka rebut.
Comments (0)