Messi Tertunduk di Final 2026: Spanyol Juara, Argentina Puaskan Mimpi

Peluit panjang berbunyi di Stadion MetLife, New Jersey, dan kamera langsung menyorot satu sosok: Lionel Messi. Kapten Argentina itu tertunduk lama di tengah lapangan, sementara di ujung lainnya skuad ...

Messi Tertunduk di Final 2026: Spanyol Juara, Argentina Puaskan Mimpi

Peluit panjang berbunyi di Stadion MetLife, New Jersey, dan kamera langsung menyorot satu sosok: Lionel Messi. Kapten Argentina itu tertunduk lama di tengah lapangan, sementara di ujung lainnya skuad Spanyol meledak dalam selebrasi juara dunia. Skor akhir 2-1 untuk La Roja memastikan gelar Piala Dunia 2026 jatuh ke tangan tim asuhan pelatih asal Spanyol, sekaligus mengubur mimpi Argentina mempertahankan trofi yang mereka rebut empat tahun lalu.

Babak Pertama: Spanyol Mendominasi, Argentina Bertahan

Sejak menit awal, Spanyol keluar dengan formasi 4-3-3 yang mengandalkan penguasaan bola. Statistik babak pertama menunjukkan angka yang sangat timpang: 62 persen penguasaan bola milik Spanyol, berbanding 38 persen untuk Argentina. Namun, starting XI Argentina yang tampil dengan formasi 4-4-2 bertahan rapat, menutup ruang di antara lini tengah dan pertahanan.

Menit ke-23, tembakan pertama Spanyol mengarah tepat sasaran. Gelandang serang La Roja melepaskan tendangan dari tepi kotak penalti, namun kiper Argentina masih sigap menepis. Empat menit kemudian, giliran Argentina membalas lewat serangan balik cepat, meski upaya tersebut masih melambung di atas mistar.

Kebuntuan pecah di menit ke-31. Umpan terobosan dari lini tengah menemui sayap kanan Spanyol, yang kemudian melepaskan assist silang ke tiang jauh. Striker andalan La Roja menyambutnya dengan sundulan keras — 1-0 untuk Spanyol. Gol itu lahir setelah proses panjang 18 operan beruntun, membuktikan betapa sabarnya permainan Spanyol menghadapi blok bertahan Argentina.

Babak pertama ditutup dengan shots on target 4-1 untuk keunggulan Spanyol. Argentina yang kesulitan keluar dari tekanan hanya mencatat 41 persen akurasi umpan di area lawan, angka terendah mereka sepanjang turnamen.

Babak Kedua: Kebangkitan Argentina dan Drama VAR

Argentina keluar dari ruang ganti dengan wajah berbeda. Pelatih melakukan dua pergantian sekaligus di awal babak kedua, menambah satu penyerang dan melebarkan serangan lewat sayap. Hasilnya langsung terlihat di menit ke-52, saat Messi melepaskan tendangan bebas dari jarak 25 meter yang hanya bisa ditepis kiper Spanyol.

Menit ke-58, gol penyama kedudukan akhirnya lahir. Umpan terobosan Messi menembus garis pertahanan Spanyol, dan penyerang Argentina yang lolos dari jebakan offside menuntaskan dengan tembakan first-time ke sudut gawang. Skor imbang 1-1, dan suporter Argentina di tribun langsung bergemuruh.

Namun euforia itu hanya bertahan delapan menit. Di menit ke-66, Spanyol mencetak gol kedua yang sempat diperiksa VAR selama hampir dua menit karena dugaan offside pada fase awal serangan. Setelah meninjau ulang, wasit mengesahkan gol tersebut: 2-1 untuk Spanyol. Keputusan itu memicu protes keras pemain Argentina, dan satu pemain bertahan harus menerima kartu kuning karena membantah terlalu berlebihan.

Sisa pertandingan berjalan sengit. Argentina menekan dengan penguasaan bola 57 persen di 20 menit terakhir dan menciptakan dua peluang emas, termasuk sundulan yang membentur tiang gawang di menit ke-83. Namun, Spanyol bertahan dengan disiplin dan mencatat clean sheet di babak kedua untuk mengunci kemenangan.

Analisis: Messi, Tekanan, dan Taktik Kedua Tim

Bagi Messi, final ini menjadi salah satu malam paling pahit dalam kariernya. Sepanjang laga, ia hanya mencatat 2 tembakan tepat sasaran dan 68 persen akurasi umpan — jauh di bawah rata-ratanya di turnamen ini. Spanyol secara cerdik menempatkan dua gelandang bertahan untuk mengawalnya, membatasi ruang geraknya di antara lini.

Dari sisi taktik, kemenangan Spanyol adalah kemenangan identitas. Total 71 persen penguasaan bola sepanjang pertandingan dan 612 operan sukses menjadi bukti dominasi mereka, sementara Argentina yang menunggu lewat serangan balik hanya mencatat 9 tembakan total berbanding 14 milik Spanyol. Shots on target akhir: 5-3 untuk keunggulan La Roja.

Kami tahu Argentina adalah juara bertahan dan tim terbaik di dunia dalam transisi, tetapi malam ini anak-anak bermain tanpa rasa takut. Ini kemenangan untuk seluruh generasi pemain Spanyol, ujar pelatih Spanyol dalam konferensi pers seusai laga.

Di sisi lain, pelatih Argentina tak menyembunyikan kekecewaannya. Kami kalah dari tim yang lebih baik malam ini. Statistik tidak berbohong — mereka lebih menguasai bola dan lebih efektif di depan gawang. Ini pahit, tapi tim ini akan bangkit, katanya.

Hasil ini menutup salah satu final terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Spanyol menuntaskan perjalanan sempurna dengan 7 kemenangan dari 7 laga, sementara Argentina harus menelan pil pahit — dan menatap era baru tanpa kapten yang selama 20 tahun menjadi pusat segalanya. Bagi Messi, tertunduk di MetLife mungkin bukan akhir, melainkan penutup yang menyakitkan dari kisah terindah sepak bola Argentina.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User