Maroko Tahan Brasil 1-1: Duel Alot dan Drama VAR di New Jersey
Peluit panjang baru saja ditiup di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, dan pemandangan di atas lapangan merangkum betapa menguras tenaganya pertandingan ini: Raphinha tergeletak lemas di ata...
Peluit panjang baru saja ditiup di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, dan pemandangan di atas lapangan merangkum betapa menguras tenaganya pertandingan ini: Raphinha tergeletak lemas di atas rumput sebelum gelandang Maroko, Ayoub Amaimouni, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Duel pembuka Grup C Piala Dunia 2026 antara Tim Samba melawan Singa Atlas berakhir tanpa pemenang dengan skor akhir 1-1 pada Sabtu, 13 Juni 2026. Hasil ini memaksa kedua tim berbagi satu poin sekaligus menggagalkan ambisi kedua kubu menorehkan clean sheet pada partai perdana.
Secara statistik, Brasil sejatinya mendikte tempo permainan lewat penguasaan bola mencapai 62 persen berbanding 38 persen milik Maroko. Skuad asuhan Brasil menghujani pertahanan lawan dengan 18 tembakan dan membukukan 7 shots on target. Namun, efektivitas serangan balik serta kekokohan sistem bertahan Maroko terbukti menjadi ujian berat yang gagal dipecahkan sepenuhnya oleh barisan penyerang Selecao.
Intensitas Babak Pertama: Tusukan Sayap dan Gol Pemecah Kebuntuan
Memulai laga, Brasil langsung menurunkan starting XI agresif dengan formasi 4-2-3-1, menempatkan Raphinha dan Vinicius Junior melebar untuk mengeksploitasi sisi flank lawan. Di sisi lain, Maroko merespons dengan formasi 4-3-3 yang bertransformasi menjadi blok pertahanan rapat 4-5-1 saat kehilangan penguasaan bola. Taktik tersebut membuat Brasil sempat frustrasi mencari celah di sepertiga akhir lapangan.
Peluang bersih pertama Brasil tercipta pada menit ke-18 saat Raphinha menusuk dari sisi kanan dan melepaskan tembakan melengkung ke sudut gawang, namun kiper Maroko sukses menepis bola keluar. Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-34. Berawal dari pergerakan cepat di lini tengah, Rodrygo mengirimkan assist mendatar yang membelah barisan bek Maroko. Raphinha yang berlari dari second line menyambar umpan tersebut lewat sontekan first-time kaki kiri untuk membawa Brasil unggul 1-0. Hingga peluit jeda dibunyikan, Brasil mengendalikan ritme dengan mencatat 4 tembakan tepat sasaran berbanding 1 milik Maroko.
Babak Kedua: Respons Taktikal Singa Atlas dan Drama VAR
Memasuki 45 menit kedua, Maroko meningkatkan garis tekanan mereka. Transisi kilat yang dibangun Singa Atlas mulai merepotkan poros ganda Brasil. Masuknya energi segar di lini tengah, termasuk disiplin posisi Ayoub Amaimouni dalam memutus aliran distribusi bola Brasil, memberi Maroko momentum untuk melancarkan ancaman terukur.
Hasilnya terlihat pada menit ke-68. Memanfaatkan kelengahan antisipasi bek sayap Brasil, umpan silang akurat dari sisi kanan berhasil disundul dengan sempurna oleh penyerang Maroko ke tiang jauh tanpa bisa dijangkau kiper, mengubah kedudukan menjadi imbang 1-1. Maroko membuktikan efisiensinya dengan mengoleksi total 4 shots on target dari 9 percobaan sepanjang 90 menit laga berjalan.
Ketegangan memuncak pada menit ke-82 ketika Brasil sempat merayakan gol usai memanfaatkan situasi bola mati di kotak penalti. Namun, wasit utama menunda restart pertandingan setelah berkomunikasi dengan petugas VAR. Setelah tinjauan video berlangsung selama lebih dari dua menit, layar monitor mengonfirmasi adanya posisi offside tipis dari ujung sepatu pemain Brasil sebelum kemelut terjadi. Gol tersebut dianulir, memicu protes keras yang berujung pada hadiah kartu kuning dari wasit.
Disiplin Ekstrem Maroko dan Respek di Detik Akhir
Memasuki masa injury time selama enam menit, tensi laga berada di titik didih. Wasit terpaksa mengeluarkan total empat kartu kuning sepanjang laga akibat benturan fisik keras demi memperebutkan bola. Brasil mengurung total area pertahanan Maroko dengan melancarkan gelombang serangan bertubi-tubi dari kedua sayap, namun Amaimouni dan barisan bek Maroko melakukan empat sapuan krusial di dalam kotak penalti untuk meredam gempuran tersebut.
Ketika wasit meniup peluit panjang, Raphinha langsung terduduk dan merebahkan tubuhnya di lapangan, kehabisan tenaga setelah bekerja tanpa henti sepanjang 96 menit pertandingan. Di saat itulah Amaimouni menghampiri sang winger Brasil, menawarkan gestur sportivitas dengan menarik tangannya hingga kembali berdiri. Hasil imbang 1-1 ini menempatkan Brasil dan Maroko di posisi setara pada klasemen sementara Grup C, menyisakan dua laga krusial berikutnya untuk memastikan tiket ke fase gugur.
Comments (0)