Messi Pamit di Monumental, Argentina Hempas Venezuela 3-0
Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela di Stadion Monumental, Buenos Aires, Selasa (6/10) malam waktu setempat. Namun angka itu nyaris menjadi catatan kaki. Yang terjadi di atas lapangan jauh l...
Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela di Stadion Monumental, Buenos Aires, Selasa (6/10) malam waktu setempat. Namun angka itu nyaris menjadi catatan kaki. Yang terjadi di atas lapangan jauh lebih besar dari sekadar tiga poin: Lionel Messi menuntaskan laga terakhirnya bersama Tim Tango di tanah air, dan 83.000 pasang mata di tribun menjadi saksi momen bersejarah tersebut.
Sejak wasit meniup peluit kick-off, atmosfer Monumental terasa berbeda. Setiap sentuhan Messi disambut gemuruh yang menggetarkan struktur beton stadion. Menit ke-11, ia menerima bola di ruang sempit antara garis tengah dan kotak penalti, melewati dua pemain lawan dengan perubahan arah tipis, lalu melepaskan umpan terobosan yang memaksa kiper Venezuela, Wuilker Faríñez, keluar dari sarangnya. Bola belum berbuah gol, tetapi pesan sudah terkirim: malam ini bukan pertandingan biasa.
Babak Pertama: Dominasi Total La Albiceleste
Argentina tampil dengan formasi 4-3-3 di bawah asuhan Lionel Scaloni. Messi ditempatkan sebagai false nine, dengan Julián Álvarez dan Nicolás González mengisi kedua sayap. Penguasaan bola babak pertama mencapai 68 persen untuk Argentina, dengan 7 shots on target berbanding hanya 1 milik Venezuela.
Gol pembuka lahir pada menit ke-23. Álvarez menekan bek tengah Venezuela, merebut bola di area pertahanan lawan, lalu menyodorkan umpan pendek kepada Messi. Tanpa ragu, kapten Argentina itu melepaskan tendangan kaki kiri dari sudut sempit ke tiang jauh. Faríñez tidak berkutik. Skor 1-0, dan Monumental meledak.
Menit ke-38, Argentina menggandakan keunggulan. Kali ini Messi berperan sebagai pemberi assist. Tendangan bebas dari sisi kanan ia kirimkan dengan akurasi milimeter ke kepala Cristian Romero, yang menyundul bola ke sudut bawah gawang. Assist itu tercatat sebagai kontribusi gol ke-58 Messi untuk tim nasional dalam laga kompetitif.
Venezuela nyaris memperkecil kedudukan menjelang turun minum. Menit ke-44, Salomón Rondón melepaskan sundulan setelah umpan silang Yeferson Soteldo. Namun Emiliano Martínez melakukan penyelamatan refleks gemilang, menjaga clean sheet di babak pertama.
Babak Kedua: Penghormatan dan Standing Ovation
Memasuki babak kedua, ritme Argentina sedikit menurun. Scaloni menarik Álvarez pada menit ke-60 dan memasukkan Lautaro Martínez untuk menambah daya gedor. Venezuela mencoba menekan dengan formasi 4-4-2, tetapi lini tengah Argentina yang dikendalikan Enzo Fernández dan Rodrigo De Paul tetap mendominasi.
Menit ke-67, momen yang ditunggu seluruh stadion tiba. Papan skor menampilkan nomor punggung 10. Messi ditarik keluar, digantikan Thiago Almada. Ia berjalan perlahan meninggalkan lapangan, mengangkat kedua tangan ke arah tribun. Standing ovation bergema selama lebih dari dua menit. Pemain Venezuela pun ikut bertepuk tangan. Bahkan pelatih mereka, Fernando Batista, memberikan penghormatan dari pinggir lapangan.
Tanpa Messi di lapangan, Argentina tetap menambah gol. Menit ke-79, Lautaro Martínez memanfaatkan kesalahan antisipasi bek Venezuela dan menyarangkan bola dari jarak dekat. Skor berubah 3-0, sekaligus memastikan kemenangan telak La Albiceleste.
Statistik akhir pertandingan menunjukkan total penguasaan bola 64 persen untuk Argentina, dengan 11 shots on target berbanding 3 milik Venezuela. Argentina juga mencatatkan 87 persen akurasi passing, angka tertinggi mereka dalam lima laga terakhir. Venezuela hanya mampu menciptakan 2 peluang emas, keduanya digagalkan Emiliano Martínez.
Warisan Messi dan Masa Depan Argentina
"Malam ini bukan tentang saya. Ini tentang rakyat Argentina yang selalu mendukung saya selama dua dekade. Saya hanya berterima kasih," ujar Messi kepada awak media usai laga.
Pelatih Scaloni menambahkan,
"Sulit membayangkan tim ini tanpa Leo. Tapi pertandingan tadi menunjukkan bahwa generasi baru siap melanjutkan warisan yang ia tinggalkan."
Sepanjang laga terakhirnya di tanah Argentina, Messi mencatatkan 1 gol, 1 assist, 4 peluang tercipta, dan 3 dribel sukses sebelum ditarik keluar. Ia juga mencatatkan 71 sentuhan bola dan 92 persen akurasi umpan di area sepertiga akhir lapangan.
Kemenangan ini memperkuat posisi Argentina di puncak klasemen kualifikasi. Namun bagi para penggemar, tiga poin hanyalah bonus. Yang mereka saksikan adalah babak akhir dari sebuah era: seorang pemain yang telah mengenakan seragam albiceleste sejak 2005, menutup perjalanan internasionalnya di hadapan publik sendiri dengan cara paling sempurna.
Saat peluit panjang berbunyi, Messi kembali ke lapangan untuk berkeliling. Ia mengelilingi Monumental bersama anak-anaknya, melambai ke setiap sudut tribun. Tidak ada konfeti, tidak ada panggung. Hanya tepuk tangan, nyanyian, dan air mata. Laga terakhir Messi di Argentina bukan sekadar pertandingan sepak bola — ia adalah perpisahan yang ditulis dengan gol, assist, dan penghormatan dari 83.000 orang yang tak akan pernah melupakannya.
Comments (0)