Messi: Dua Perpisahan, Dua Nasib Berbeda di Barcelona dan Argentina
Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela di Stadion Monumental, Buenos Aires, Jumat (5/9/2025) dini hari WIB, menjadi panggung emosional bagi Lionel Messi. Laga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona ...
Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela di Stadion Monumental, Buenos Aires, Jumat (5/9/2025) dini hari WIB, menjadi panggung emosional bagi Lionel Messi. Laga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONMEBOL itu ia konfirmasi sebagai pertandingan terakhirnya di tanah Argentina bersama La Albiceleste. Kontras dengan momen perpisahannya dari Barcelona empat tahun silam, yang berlangsung tanpa penonton dan penuh air mata getir.
Malam Sempurna di Monumental: Dua Gol danStanding Ovation
Menit ke-39, Messi membuka keunggulan lewat tendangan chip elegan memanfaatkan umpan terobosan Julian Alvarez. Statistik mencatat ia melepaskan 5 shots on target dari total 7 percobaan, dengan akurasi umpan mencapai 89 persen. Penguasaan bola Argentina mendominasi 67 persen berbanding 33 persen milik Venezuela.
Memasuki menit ke-80, Messi mencetak gol keduanya melalui sepakan kaki kiri dari luar kotak penalti. Tidak ada selebrasi berlebihan. Ia hanya menengadah, mencium lambang negaranya, lalu memeluk rekan-rekan setimnya. Pelatih Lionel Scaloni menariknya keluar pada menit ke-90+2, memberi ruang bagi stadion untuk berdiri memberikan standing ovation. Wasit meniup peluit panjang, dan tangis pun pecah di pinggir lapangan.
"Saya bermain di sini sejak kecil. Meninggalkan lapangan ini dengan kemenangan adalah cara terbaik yang bisa saya bayangkan," ujar Messi usai laga, dikutip dari konferensi pers. "Ini keputusan sulit, tapi saya ingin pergi dengan kepala tegak."
Empat Tahun Lalu: Barcelona dan Perpisahan Tanpa Penonton
Bandingkan dengan Agustus 2021. Messi meninggalkan Barcelona bukan karena keinginannya sendiri. Masalah finansial klub memaksa La Blaugrana melepasnya meski kesepakatan baru telah disiapkan. Konferensi pers perpisahan digelar di Auditori 1899, Camp Nou, tanpa kehadiran suporter. Ia menangis di depan meja, sementara tidak ada tepuk tangan tribun yang mengiringi.
Selama 17 tahun berseragam Barcelona, Messi mencatat 778 penampilan, 672 gol, dan 303 assist di semua kompetisi. Ia meraih 10 gelar La Liga, 4 Liga Champions, dan 7 Ballon d'Or saat masih di Spanyol. Namun pada laga perpisahannya, ia tidak mendapat kesempatan mencetak gol terakhir di hadapan pendukungnya sendiri.
Perbandingan statistik keduanya bak langit dan bumi. Di Barcelona, Messi pergi tanpa satu pun laga perpisahan resmi. Di Argentina, ia mendapatkan 180 menit penuh kualifikasi CONMEBOL, dua gol, dan satu malam yang bisa ia kenang selamanya bersama 80.000 penonton yang memadati Monumental.
Analisis Taktik: Bagaimana Messi Bermain di Dua Era Berbeda
Di Barcelona, Messi terakhir dilatih Ronald Koeman dengan formasi 4-3-3. Ia biasanya bermain sebagai false nine, turun ke lini tengah untuk membangun serangan. Namun di Argentina, Scaloni menempatkannya dalam 4-4-2 diamond yang lebih fleksibel. Messi diberi kebebasan bergerak antara lini tengah dan depan, dengan Lautaro Martinez dan Alvarez sebagai penyerang murni yang menarik bek lawan.
Pada laga melawan Venezuela, Messi rata-rata menyentuh bola 78 kali, dengan 4 key passes dan 1 assist untuk gol ketiga Nicolas Gonzalez. Ia juga mencatatkan 3 dribel sukses dari 4 percobaan. Statistik ini menunjukkan Messi tetap menjadi otak permainan, meski usianya sudah 38 tahun saat laga berlangsung.
Menarik dicatat, di Barcelona Messi tidak pernah mendapat kesempatan bermain di kualifikasi Piala Dunia bersama Argentina dalam kondisi klub yang stabil. Perpisahannya dari Camp Nou bertepatan dengan krisis finansial yang membuat klub harus melepasnya secara free transfer ke Paris Saint-Germain. Sementara perpisahannya dari Argentina terjadi saat ia masih aktif bermain di Inter Miami.
Warisan yang Tak Terbandingkan
Dua perpisahan ini menggambarkan dua sisi karier Messi yang tak terpisahkan. Barcelona adalah rumah yang membesarkannya, tempat ia menorehkan sejarah. Argentina adalah tanah kelahiran yang akhirnya memberinya trofi Piala Dunia 2022 di Qatar, melengkapi koleksi yang sempat kosong.
Perbedaan paling mencolok terletak pada kendali. Di Barcelona, Messi tidak punya pilihan. Di Argentina, ia yang memilih. Dan pada malam di Monumental, ia memilih perpisahan yang layak bagi seorang legenda. Skor akhir 3-0, dua gol, satu assist, dan satu standing ovation dari 80.000 suporter. Sebuah kontras yang akan dikenang sebagai penutup babak akhir dari salah satu karier terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Comments (0)