Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama Abadi dalam Mural Bali

Sabtu (18/7/2026) menjadi hari istimewa di kawasan Bali Collection, Nusa Dua. Di salah satu toko souvenir, sapuan kuas bergerak penuh perhitungan, persis racing line yang dilalui para pembalap di lint...

Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama Abadi dalam Mural Bali

Sabtu (18/7/2026) menjadi hari istimewa di kawasan Bali Collection, Nusa Dua. Di salah satu toko souvenir, sapuan kuas bergerak penuh perhitungan, persis racing line yang dilalui para pembalap di lintasan. Sedikit demi sedikit, dua wajah mulai hidup di atas dinding: Mario Suryo Aji dari kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama dari kelas Moto3. Dua nama yang selama ini menghiasi papan klasemen kini berubah menjadi mural abadi yang bisa disaksikan ribuan wisatawan mancanegara yang melintas setiap hari.

Mural Dua Generasi di Jantung Nusa Dua

Proses pengerjaan mural itu bukan pekerjaan sembarangan. Sang pelukis harus menangkap detail-detail kecil yang membuat dua pembalap itu dikenali dari kejauhan: lekuk helm, angka start di fairing, hingga gestur khas saat keduanya berdiri di starting grid. Hasilnya, dinding toko souvenir itu menjelma menjadi kanvas kebanggaan yang merangkum perjalanan panjang balap Indonesia di kejuaraan dunia. Dua generasi, dua kelas berbeda, satu dinding yang sama — itulah inti dari karya seni yang hadir di tengah kawasan wisata tersibuk di Bali tersebut.

Bagi penggemar yang kebetulan sedang berlibur, mural ini menjadi pengingat bahwa Indonesia kini punya wakil reguler di dua kelas bergengsi MotoGP. Bukan hanya sekali tampil, melainkan berkompetisi penuh satu musim, dari seri pembuka hingga balapan penutup.

Mario Suryo Aji: Pembuka Jalan di Kelas Menengah

Lahir di Bantul, Yogyakarta, pada 5 Januari 2005, Mario Suryo Aji menapaki jenjang balap dengan disiplin. Ia melewati Red Bull MotoGP Rookies Cup dan Asia Talent Cup sebelum akhirnya merebut gelar juara pada 2019 — sebuah pencapaian yang membawanya naik kelas ke Moto3 bersama Honda Team Asia pada 2022. Debut Moto3-nya langsung bersentuhan dengan tekanan tertinggi di kejuaraan dunia, dan Mario menjawabnya dengan konsistensi yang membuatnya dipercaya naik ke Moto2 pada musim 2023.

Momen itu mencatatkan sejarah: Mario menjadi pembalap Indonesia pertama yang membalap full-time di kelas Moto2, kelas yang dikenal kejam karena persaingan motornya sangat ketat dan margin kesalahannya sangat tipis. Setiap akhir pekan balap, ia harus beradu strategi dengan pembalap-pembalap senior yang berlaga di kejuaraan dunia sejak jauh sebelum ia lahir. Dari sinilah namanya mulai melekat di benak penggemar, bukan hanya sebagai harapan, tetapi sebagai bukti bahwa Indonesia bisa bersaing di panggung tertinggi.

Veda Ega Pratama: Estafet Generasi di Kelas Terkecil

Jika Mario sudah malang melintang di kelas menengah, Veda Ega Pratama mewakili wajah baru yang tengah menanjak. Kariernya melewati rute yang tidak jauh berbeda: menjuarai kompetisi junior Asia sebelum akhirnya mendapat tiket ke kejuaraan dunia. Di Moto3, Veda bergulat dengan kelas yang paling ramai di grid — sering kali lebih dari 25 pembalap berebut satu garis balap, dan selisih waktu antarpembalap hanya sepersekian detik. Tidak ada tempat untuk lengah; satu kesalahan kecil di tikungan bisa mengubah posisi di lap terakhir.

Bagi Veda, setiap seri adalah pelajaran. Pengalaman melawan pembalap-pembalap muda tercepat dari seluruh dunia membuatnya tumbuh cepat, dan publik Indonesia mulai menjadikannya salah satu nama yang dinantikan di setiap grand prix. Kehadirannya di mural Nusa Dua seolah menjadi pengakuan: estafet pembalap Indonesia tidak berhenti di satu generasi.

Menanti Pekan Balap di Rumah Sendiri

Kehadiran mural ini terasa makin bermakna karena digarap jelang seri Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok. Setiap tahun, puluhan ribu penonton memadati tribun untuk menyaksikan para pembalap meliuk di tikungan khas sirkuit tepi pantai itu, dan dua nama Indonesia dipastikan menjadi sorotan utama di kelas masing-masing.

"Ketika wajah kalian dilukis di dinding, artinya publik sudah menganggap kalian milik mereka. Itu kehormatan, sekaligus tanggung jawab yang besar," ujar salah satu manajer tim yang mendampingi kedua pembalap di Nusa Dua.

Balapan di rumah sendiri selalu membawa dua sisi: tekanan ekstra dari ekspektasi penonton, dan motivasi berlipat dari dukungan yang membahana di tribun. Mario dan Veda tahu persis itu. Namun justru di situlah peluang besar mereka — sejarah balap Indonesia mencatat banyak momen emosional terjadi ketika pembalap tampil di depan publiknya sendiri, mulai dari sesi kualifikasi hingga tikungan terakhir lap penutup.

Mural, Doa, dan Arah Baru Balap Indonesia

Pada akhirnya, mural di toko souvenir Bali Collection itu bukan sekadar karya seni. Ia adalah potret kepercayaan publik, peta perjalanan dua pembalap dari sirkuit-sirkuit kecil di Indonesia menuju kejuaraan dunia, sekaligus pengingat bahwa perjalanan mereka baru dimulai. Selama Mario dan Veda masih mengaspal di Moto2 dan Moto3, dinding itu akan terus menjadi saksi bisu bahwa Indonesia punya nama-nama yang layak diperhitungkan di pentas balap paling bergengsi di dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User