MANILA — ACT Sebut Nilai PISA Filipina Abaikan Realitas Kemiskinan Guru

Di tengah keriuhan selebrasi atas meningkatnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) di Filipina, kritik tajam justru mencuat dari bal

Sep 10, 2026 - 05:34
0 0
MANILA — ACT Sebut Nilai PISA Filipina Abaikan Realitas Kemiskinan Guru

Di tengah keriuhan selebrasi atas meningkatnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) di Filipina, kritik tajam justru mencuat dari balik ruang-ruang kelas. Organisasi guru terkemuka di negara tersebut, Alliance of Concerned Teachers (ACT), menegaskan bahwa kenaikan angka statistik tersebut bukanlah cerminan mutlak dari keberhasilan sistem pendidikan nasional. Sebaliknya, capaian tersebut dinilai sebagai buah dari pengorbanan luar biasa yang harus dibayar mahal oleh para pendidik, murid, dan orang tua di tengah impitan ekonomi.

Realitas Gelap di Balik Angka Statistik PISA

PISA, yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sering kali dijadikan tolok ukur tunggal bagi mutu pendidikan global. Namun, analisis mendalam terhadap kondisi di Filipina menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara skor tes formal dengan realitas kehidupan sehari-hari. Peningkatan skor PISA Filipina pada periode terbaru dianggap gagal memotret ketimpangan sosio-ekonomi yang masih melanda sektor pendidikan.

Berdasarkan catatan ACT, penilaian internasional tersebut cenderung mengabaikan variabel kritis seperti tingkat pendapatan keluarga, kecukupan gizi anak, serta ketersediaan sarana dan prasarana dasar di sekolah. Peningkatan performa akademik siswa yang tercatat dalam data sering kali didorong oleh dorongan swadaya masyarakat, di mana para guru merogoh kocek pribadi untuk membeli alat peraga dan orang tua bekerja melampaui batas kemampuan demi biaya operasional sekolah anak-anak mereka.

Parameter Evaluasi Fokus Penilaian PISA Kondisi Riil Pendidikan Filipina
Latar Belakang Ekonomi Diukur sebagai variabel kontrol sekunder Menjadi penentu utama akses dan keberlanjutan sekolah
Kesejahteraan Pendidik Tidak masuk dalam skala perhitungan Gaji guru di bawah standar hidup layak dengan beban kerja ganda
Infrastruktur Kelas Diasumsikan memenuhi standar minimal Kekurangan ruang kelas dan buku teks di berbagai wilayah pelosok

Kemiskinan dan Ketimpangan Akses Pendidikan

Kritik utama yang disuarakan oleh ACT berpusat pada keterkaitan erat antara kondisi sosial-ekonomi dengan capaian pembelajaran. Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat proses belajar-mengajar itu berlangsung. Ketika seorang siswa datang ke sekolah dalam kondisi lapar atau seorang guru terbebani masalah finansial akibat gaji yang minim, efektivitas transfer ilmu pengetahuan secara otomatis merosot tajam.

"Kondisi sosio-ekonomi guru dan siswa selama proses belajar dan mengajar tidak dapat dipisahkan begitu saja. Menilai mutu pendidikan tanpa memperhitungkan faktor kemiskinan adalah bentuk pengabaian terhadap realitas di lapangan," tegas perwakilan Alliance of Concerned Teachers (ACT).

Banyak pendidik di Filipina yang terpaksa bertahan dengan pengorbanan tanpa jaminan kesejahteraan yang memadai. Mereka tidak hanya bertindak sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penyokong logistik di sekolah-sekolah publik yang minim anggaran. Fenomena ini menciptakan representasi yang keliru jika pemerintah hanya mengklaim skor PISA yang naik sebagai keberhasilan kebijakan tanpa mereformasi struktur penganggaran pendidikan.

Perlunya Reformasi Struktural, Bukan Sekadar Angka

Guna mencapai pembenahan pendidikan yang sejati dan berkelanjutan, para pengamat dan aliansi guru mendesak Department of Education (DepEd) Filipina agar tidak terjebak dalam euforia angka semata. Pembacaan terhadap skor PISA seharusnya menjadi alat evaluasi untuk membongkar akar masalah, bukan sekadar komoditas politik atau pencitraan kelembagaan.

Beberapa poin perbaikan struktural yang didesak oleh aliansi guru mencakup:

  • Peningkatan Gaji Pokok Guru: Menyesuaikan kompensasi tenaga pendidik agar setara dengan standar hidup layak nasional.
  • Pemerataan Alokasi Anggaran: Memastikan sekolah-sekolah di daerah terpencil menerima fasilitas dan teknologi yang setara dengan wilayah perkotaan.
  • Program Intervensi Gizi Anak: Mengatasi masalah stunting dan gizi buruk yang secara langsung menumpulkan kemampuan kognitif murid.
  • Debirokratisasi Tugas Mengajar: Mengurangi beban administrasi non-akademik yang kerap menyita waktu guru dalam mempersiapkan materi pembelajaran.

Pada akhirnya, kenaikan angka dalam lembar evaluasi internasional tidak akan berarti banyak jika tidak diiringi dengan perubahan nyata pada taraf hidup para pelaku pendidikan. Filipina membutuhkan strategi komprehensif yang menempatkan kemanusiaan dan kesejahteraan di atas sekadar perolehan skor numerik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User