Lumajang — BPBD Buat Sekat Api Halau Karhutla Bromo Dekati Permukiman
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian memasuki fase krusial. Kepulan asap pe
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian memasuki fase krusial. Kepulan asap pekat dan kobaran api yang membakar vegetasi savana serta vegetasi lereng gunung kini bergerak makin mendekati area pemukiman penduduk. Situasi ini memicu alarm bahaya bagi aparat kebencanaan dan masyarakat setempat, mengingat titik api kini berada dalam jarak yang sangat mengkhawatirkan dari pemukiman warga.
Kondisi cuaca ekstrem yang ditandai dengan angin kencang serta kekeringan panjang akibat puncak musim kemarau menjadi pemicu utama cepat melebarnya frontal api. Lahan kering yang didominasi rumput ilalang dan tanaman rumput teki yang mudah terbakar bertindak bagai bahan bakar alami, mempercepat penyeberangan api antar-bukit di kawasan TNBTS Jawa Timur tersebut.
Ancaman Nyata Hanya Berjarak 3 Kilometer
Berdasarkan pantauan lapangan terkini, posisi lidah api tercatat hanya berjarak 3 kilometer dari pemukiman terdekat di wilayah Kabupaten Lumajang. Jarak ini terbilang sangat dekat dalam skala dinamika karhutla, terutama ketika angin berembus kencang ke arah pemukiman. Risiko paparan asap tebal (ISPA) hingga potensi rambatan fisik api mengancam keselamatan ratusan kepala keluarga di lereng Bromo.
Sebagai langkah penanganan darurat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mengambil tindakan taktis di garis depan. Tim gabungan yang terdiri dari personel BPBD, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, serta relawan masyarakat peduli api dikerahkan untuk membangun parit dan sekat api (firebreak) secara masif.
"Kami berpacu dengan waktu dan pergerakan angin yang sangat dinamis. Pembuatan sekat api sepanjang perbatasan area terbakar dan vegetasi hijau ini merupakan strategi utama untuk memutus suplai bahan bakar api, sehingga kobaran tidak sampai menembus permukiman warga," tegas perwakilan BPBD Lumajang saat mengoordinasikan pemadaman di lapangan.
Strategi Sekat Api dan Evaluasi Risikio Kebakaran
Pembuatan sekat api dilakukan dengan cara membersihkan jalur vegetasi selebar beberapa meter dari daun-daun kering, ranting, dan rumput yang mudah terbakar. Dengan tidak adanya materi organik yang dapat dibakar pada jalur sekat tersebut, api diharapkan akan padam dengan sendirinya saat mencapai titik isolasi.
Berikut adalah matriks analisis situasi dan upaya mitigasi karhutla di kawasan Bromo Lumajang:
| Indikator Evaluasi | Kondisi Eksisting | Tindakan Mitigasi |
|---|---|---|
| Jarak ke Permukiman | ± 3 Kilometer | Pembuatan sekat api dan penjagaan titik batas |
| Kondisi Vegetasi | Sangat Kering & Mudah Terbakar | Pembasahan area rawan (wetting agent) |
| Faktor Cuaca | Angin Kencang & Kelembapan Rendah | Pemantauan udara dan pemadaman darat masif |
| Aksesibilitas Terrain | Tebing Curam & Sulit Dijangkau | Pemadaman manual dan koordinasi water bombing |
Tantangan Geografis dan Dampak Sosial-Ekonomi
Proses pemadaman karhutla Bromo tidak berjalan tanpa hambatan. Medan topografi yang didominasi oleh perbukitan terjal dan jurang yang curam menyulitkan mobilisasi armada pemadam kebakaran maupun personel darat. Seringkali petugas harus berjalan kaki berjam-jam sambil membawa alat pemadam gepyok dan pompa punggung (jet shooter) untuk mencapai titik api yang terisolasi.
Dampak bencana ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga melumpuhkan sektor ekosistem dan ekonomi lokal. Beberapa efek berantai yang kini mulai dirasakan antara lain:
- Kerusakan Ekosistem: Rusaknya habitat flora dan fauna endemik di kawasan konservasi TNBTS.
- Gangguan Kesehatan: Peningkatan risiko penyakit saluran pernapasan akibat paparan asap pekat.
- Ancaman Pariwisata: Penutupan sebagian jalur wisata Bromo yang berdampak pada pendapatan pelaku usaha lokal.
Para ahli lingkungan menegaskan bahwa mitigasi berbasis komunitas dan peningkatan pengawasan terhadap aktivitas manusia di kawasan rawan bencana menjadi kunci utama untuk mencegah terulangnya tragedi karhutla di masa mendatang. Kini, ketangguhan personel di lapangan dalam menjaga sekat api menjadi benteng terakhir masyarakat lereng Bromo dari amukan si jago merah.
Comments (0)