Lima Tempat Wisata Ikonik Indonesia Kini Sepi Bak Kuburan
Pernah menjadi magnet liburan keluarga, kini beberapa destinasi wisata di Indonesia hanya menyisakan bangunan lapuk, wahana berkarat, dan keheningan yang m
Pernah menjadi magnet liburan keluarga, kini beberapa destinasi wisata di Indonesia hanya menyisakan bangunan lapuk, wahana berkarat, dan keheningan yang mencekam. Tragedi kepunahan tempat rekreasi ini bukan hanya cerita lokal, melainkan potret pahit industri pariwisata yang limbung dihantam pandemi, tergerus tren digital, dan minim inovasi. Berdasarkan penelusuran, setidaknya lima tempat wisata yang dahulu ramai kini berubah bak kuburan terbengkalai. Apa saja dan mengapa bisa terjadi?
1. Kampung Gajah Wonderland, Bandung
Diresmikan pada 2008, taman rekreasi seluas 60 hektare ini sempat menjadi salah satu wahana terbesar di Jawa Barat. Dengan kolam renang, waterpark, area outbound, dan flying fox, Kampung Gajah Wonderland menarik lebih dari 10.000 pengunjung per akhir pekan. Namun perlahan operasionalnya meredup. Beban finansial, konflik internal manajemen, dan bencana banjir bandang di awal 2020-an memperparah keadaan. Kini, hanya kolam renang terbengkalai, patung gajah raksasa yang memudar, dan rerumputan tinggi yang menutupi bekas wahana menjadi pemandangan yang bisa disaksikan. Warga sekitar menyebutnya sebagai “kuburan hiburan” yang sesekali dikunjungi fotografer urban explorer.
2. SnowBay Waterpark, Jakarta
Terletak di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah, SnowBay Waterpark pernah menjadi ikon wisata air ibukota dengan kolam ombak dan seluncuran terpanjang di Asia Tenggara. Meski TMII telah direvitalisasi, nasib SnowBay justru terpuruk. Pandemi Covid-19 menjadi pukulan telak—penutupan berkepanjangan membuat pengelola tak mampu menutupi biaya perawatan. Mesin-mesin pompa rusak, keramik kolam retak, dan perosotan berjamur. Setelah pembukaan kembali TMII pada 2023, SnowBay tak kunjung dibenahi total dan hanya menyisakan bekas kejayaan yang dipagari spanduk usang.
3. Taman Rekreasi Wiladatika, Depok
Berbeda dari yang lain, Wiladatika atau lebih dikenal sebagai “Cibubur Fantasyland” masih beroperasi, namun tingkat kunjungannya anjlok hingga 80 persen dibanding masa jayanya di awal 2000-an. Dikelola oleh Yayasan, taman ini sempat menjadi tujuan utama rombongan sekolah dan keluarga berkat kebun binatang mini serta permainan anak. Persaingan dengan waterpark modern dan pusat perbelanjaan yang menawarkan konsep one-stop entertainment membuat Wiladatika kehilangan pamor. Beberapa wahana macet, kebun binatang minim koleksi, dan suasana suram kini lebih sering terlihat daripada gelak tawa pengunjung.
4. The Jungle Waterpark, Bogor
Sempat menjadi salah satu waterpark outdoor terbesar di Bogor, The Jungle Waterpark di kawasan Wisata Matahari ditutup permanen pada 2020. Pandemi mempercepat kejatuhan bisnis yang sudah sekarat akibat utang dan manajemen yang buruk. Kolam renang luas yang dahulu dipenuhi pelampung warna-warni kini kering kerontang, seluncuran dihiasi lumut, dan restoran terapung hanya tinggal bangkai. Area parkir yang biasanya penuh kini menjadi tempat pembuangan sampah liar.
“Tempat wisata itu seperti makhluk hidup; mereka butuh perawatan konstan dan adaptasi. Begitu pandemi mempercepat kematian mereka yang sudah sakit,” ujar Aditya Pratama, pengamat pariwisata dari Universitas Trisakti.
5. Taman Wisata Matahari, Cisarua, Bogor
Puncak kejayaan taman rekreasi ini adalah pada dekade 1990-an hingga 2010-an. Dikenal dengan panorama pegunungan dan wahana keluarga seperti perahu angsa dan kereta mini, lokasi ini kerap menjadi tujuan wisata murah meriah bagi warga Jabodetabek. Sayang, pengelolaan yang stagnan, bencana longsor, dan kemunculan alternatif wisata Puncak yang lebih kekinian membuat Taman Wisata Matahari perlahan ditinggalkan. Bangunan utama kini menganga tanpa atap, kolam perahu angsa dipenuhi eceng gondok, dan loket tiket berubah menjadi gubuk reot. Beberapa fasilitas sempat diambil alih untuk acara komunitas, namun tak mampu mengembalikan massa pengunjung.
Apakah Ada Harapan Bangkit Kembali?
Pengamat menyebut bahwa kebangkitan tempat wisata mati suri ini memerlukan lebih dari sekadar renovasi fisik. Diperlukan suntikan investasi, strategi pengalaman digital (seperti augmented reality), dan kemitraan dengan kreator konten untuk membangun citra baru. Pemerintah daerah pun didesak untuk memberikan insentif pajak atau mengadopsi skema public-private partnership. Namun, tanpa perubahan fundamental dalam manajemen, tempat-tempat ini mungkin hanya akan menjadi monumen bisnis yang gagal—dan pelajaran pahit bagi industri yang mengabaikan keberlanjutan.
[SOCIAL_TWEET]: Dulu tempatnya penuh tawa, kini tinggal puing. Lima destinasi wisata ikonik Indonesia seperti Kampung Gajah Wonderland dan SnowBay berubah bak kuburan. Pandemi hanya pemicu, pengelolaan buruk jadi akar. Nasib miris industri wisata lokal. #WisataTerbengkalai #Indonesia[SOCIAL_TG]: 😔 Dulu destinasi favorit keluarga, sekarang cuma tinggal bangkai bangunan. 5 tempat wisata hits di Indonesia terbengkalai: dari Bandung sampai Bogor. Pandemi dan salah urus bikin mereka mati. Pernah ke salah satunya? Nostalgia bareng yuk.
Comments (0)