Lautan Manusia di Teheran: Pemakaman Khamenei Jadi Panggung Demonstrasi Kekuatan Rezim

Beritainti.com, Jakarta — Jalan-jalan utama di Teheran berubah menjadi sungai manusia pada Rabu waktu setempat, ketika jutaan warga Iran turun ke jalan mengiringi prosesi pemakaman Pemimpin Terti

Jul 08, 2026 - 04:44
0 1
Lautan Manusia di Teheran: Pemakaman Khamenei Jadi Panggung Demonstrasi Kekuatan Rezim

Beritainti.com, Jakarta — Jalan-jalan utama di Teheran berubah menjadi sungai manusia pada Rabu waktu setempat, ketika jutaan warga Iran turun ke jalan mengiringi prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Kehadiran massa dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini langsung memicu spekulasi: apakah ini sekadar luapan duka, atau sebuah unjuk kekuatan yang dikalkulasi secara matang oleh rezim yang sedang terpojok?

Pantauan media kami di lapangan menggambarkan pemandangan yang dramatis. Peti mati Khamenei dan beberapa anggota keluarganya diarak perlahan melewati kerumunan yang membentang sejauh beberapa kilometer. Bendera-bendera Iran dan spanduk bertuliskan kecaman terhadap Amerika Serikat serta Israel berkibar di mana-mana. Teriakan "Marg bar Amrika" — Mati Amerika — menggema di tengah isak tangis para pelayat yang berpakaian serba hitam.

Khamenei tewas bersama sejumlah kerabat dekatnya dalam serangan udara pada 28 Februari lalu, hanya beberapa jam setelah AS dan Israel secara resmi memulai operasi militer terhadap Republik Islam Iran. Serangan yang menghantam kompleks kepemimpinan di pusat kota Teheran itu langsung melumpuhkan struktur komando tertinggi negara tersebut dan menjadi titik balik yang memaksa Iran masuk ke meja perundingan.

Skala mobilisasi massa ini tidak mungkin terjadi secara spontan. Ini adalah pesan yang dikirimkan Teheran kepada Washington dan Tel Aviv: kami mungkin terluka, tetapi kami belum tumbang.

Para analis yang dihubungi Beritainti.com menilai bahwa prosesi pemakaman ini memang dirancang sebagai instrumen diplomasi publik. Di saat negosiasi gencatan senjata permanen sedang berlangsung di Jenewa, citra soliditas nasional menjadi kartu penting yang coba dimainkan oleh rezim penerus Khamenei. Mereka ingin menunjukkan bahwa transisi kekuasaan berjalan mulus dan rakyat tetap berdiri di belakang pemerintah — sebuah narasi yang kontras dengan laporan-laporan intelijen Barat tentang keretakan internal di kalangan elit Garda Revolusi.

Namun, tidak semua pihak melihat pemandangan ini secara seragam. Sejumlah pengamat independen mencatat bahwa aparat keamanan secara sistematis menutup akses ke wilayah pemakaman dan mewajibkan partisipasi pegawai negeri serta mahasiswa. "Ini lebih mirip parade yang diatur daripada ekspresi duka organik," ujar seorang sumber yang enggan disebut namanya mengingat situasi keamanan yang masih mencekam pascaperang.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa Khamenei — yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade — tetap memiliki basis pendukung yang loyal, terutama di kalangan masyarakat tradisional dan jaringan masjid yang menjadi tulang punggung legitimasi sistem Velayat-e Faqih. Kematiannya yang dramatis dalam serangan militer asing justru berpotensi mengubahnya menjadi martir dan simbol perlawanan, sebuah dinamika yang kini coba dimanfaatkan oleh penerusnya untuk memperkuat posisi tawar di meja perundingan.

Perang yang meletus pada akhir Februari itu sendiri telah menewaskan ribuan warga sipil dan menghancurkan infrastruktur vital Iran. Di tengah puing-puing dan sanksi yang melumpuhkan, rezim baru kini berjalan di atas tali yang sangat tipis: antara menunjukkan kekuatan di dalam negeri dan memberikan konsesi di luar negeri. Prosesi pemakaman Khamenei mungkin adalah babak pembuka dari pertarungan politik yang jauh lebih kompleks di masa depan Republik Islam ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Fact Checker. Memverifikasi berita ringkas agar tetap akurat.

Comments (0)

User