Komitmen Polri Hadapi Ancaman Nihilistic Violent Extremism di Tengah Sukses Jaga Nol Serangan Teror

CIKEAS — Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa Polri terus memperkuat langkah antisipasi terhadap berkembangnya fenomena nihilistic v

Jul 06, 2026 - 13:17
0 1
Komitmen Polri Hadapi Ancaman Nihilistic Violent Extremism di Tengah Sukses Jaga Nol Serangan Teror

CIKEAS — Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa Polri terus memperkuat langkah antisipasi terhadap berkembangnya fenomena nihilistic violent extremism di Tanah Air. Penegasan ini disampaikan dalam sambutannya di puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar di Pusat Latihan (Satlat) Korps Brimob, Cikeas, Jawa Barat, pada Rabu (1/7/2026). Acara strategis ini turut dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pejabat tinggi negara lainnya.

Dalam laporan kami, Jenderal Sigit menekankan bahwa meskipun Indonesia tengah menikmati periode panjang tanpa aksi teror besar, bukan berarti potensi ancaman telah sirna sepenuhnya. Perubahan lanskap ideologi kekerasan menuntut adaptasi strategis dari seluruh elemen penegak hukum.

Strategi Dua Jalur dan Bayangan Ancaman Baru

Kapolri memaparkan bahwa keberhasilan Indonesia menekan angka terorisme tidak lepas dari konsistensi penerapan strategi soft approach dan hard approach yang berkelanjutan. Pendekatan lunak melalui deradikalisasi, kontra-radikalisasi, dan pemberdayaan mantan narapidana terorisme berjalan beriringan dengan penindakan tegas terhadap sel-sel teroris aktif. Hasilnya, sejak tahun 2023, Indonesia berhasil mempertahankan status zero terrorist attack atau nol serangan teroris.

"Status zero attack ini adalah prestasi kolektif yang patut kita syukuri. Namun kita tidak boleh terlena, karena ancaman terorisme terus bermetamorfosis. Saat ini kita harus waspada pada fenomena nihilistic violent extremism, di mana kekerasan tidak lagi selalu didasari oleh doktrin ideologis yang matang, melainkan pada dorongan destruktif dan kehampaan makna," ujar Jenderal Sigit dalam paparannya.

Fenomena ini dinilai lebih berbahaya karena pelaku seringkali bergerak sendiri (lone wolf) dan sulit terlacak oleh jaringan intelijen konvensional. Polri, melalui Detasemen Khusus 88 Anti Teror, kini meningkatkan kemampuan deteksi dini terhadap pola-pola radikalisasi yang tidak konvensional, termasuk yang dipicu oleh eksposur konten ekstrem di dunia maya.

"Kami terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk melibatkan tokoh agama, pendidik, dan keluarga, untuk mengawal generasi muda agar tidak jatuh ke dalam pusaran nihilisme yang berujung pada aksi kekerasan. Community policing harus diperkuat hingga ke tingkat paling bawah untuk mendeteksi dan mencegah benih-benih ekstremisme ini sejak dini," tegas Kapolri.

Dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan teknologi di tubuh Polri, komitmen menjaga kedaulatan dan keamanan nasional dari segala bentuk ancaman teror terus diperkokoh. Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 ini sekaligus menjadi tonggak penegasan bahwa Polri terus bertransformasi menghadapi ancaman kejahatan yang semakin kompleks, tanpa mengabaikan keberhasilan yang telah dicapai dalam menciptakan negeri yang aman dari serangan teror.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Pelaksana. Editor pelaksana dan konsistensi editorial.

Comments (0)

User