Kim Sang Sik Tanggung Jawab Penuh Kegagalan Vietnam di ASEAN Cup 2026
Skor akhir tidak berbohong: Vietnam harus puas mengakhiri FIFA ASEAN Cup 2026 di posisi keempat. Kegagalan yang langsung mendapat respons tegas dari kursi kepelatihan. Kim Sang Sik, arsitek di balik s...
Skor akhir tidak berbohong: Vietnam harus puas mengakhiri FIFA ASEAN Cup 2026 di posisi keempat. Kegagalan yang langsung mendapat respons tegas dari kursi kepelatihan. Kim Sang Sik, arsitek di balik skema permainan The Golden Star, tak mencari kambing hitam. Dengan dada terbuka, pelatih asal Korea Selatan itu menyatakan bahwa seluruh hasil buruk timnas Vietnam adalah tanggung jawab pribadinya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan utama dalam konferensi pers pascalaga. Bagi Kim, finis di peringkat keempat bukan sekadar angka di klasemen, melainkan cermin dari sejumlah kekurangan yang harus segera dibenahi sebelum agenda yang jauh lebih besar menanti. Piala Asia 2027 kini menjadi target utama yang tidak bisa ditawar.
Evaluasi Tajam: Penguasaan Bola Tinggi, Penyelesaian Tumpul
Menelisik statistik sepanjang turnamen, Vietnam sejatinya bukan tim yang pasif. Rata-rata penguasaan bola mereka menyentuh angka 58 persen, angka yang mengindikasikan dominasi di lini tengah. Umpan-umpan pendek menjadi senjata utama, terlihat dari akurasi passing yang stabil di kisaran 84 persen per pertandingan.
Namun, dominasi itu kerap berujung pada kebuntuan. Catatan shots on target Vietnam hanya rata-rata 3,8 per laga, jauh di bawah tim-tim yang melaju ke babak final. Menit ke-23 di laga krusial melawan tim peringkat ketiga menjadi contoh sempurna: Nguyen Hoang Duc melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti, tetapi kiper lawan masih mampu menepisnya. Peluang emas yang gagal dikonversi menjadi gol.
Formasi 3-4-3 yang kerap diterapkan Kim Sang Sik menuntut mobilitas tinggi dari para winger. Sayangnya, transisi dari bertahan ke menyerang sering kali terlalu lambat. Ketika lawan menumpuk pemain di sepertiga akhir, Vietnam kesulitan menembus blok pertahanan rapat. Ini menjadi PR besar bagi staf pelatih.
"Kegagalan ini tanggung jawab saya. Pemain sudah berjuang maksimal, tetapi keputusan taktik dan persiapan tim adalah ranah saya. Kami harus lebih tajam dan lebih sabar dalam membangun serangan," ujar Kim dalam sesi jumpa pers.
Starting XI dan Rotasi: Ketergantungan pada Pemain Senior
Sepanjang turnamen, Kim cenderung mempertahankan starting XI yang sama. Ketergantungan pada pemain senior seperti Que Ngoc Hai dan Nguyen Tien Linh terlihat jelas. Meski memberikan stabilitas, rotasi yang minim membuat intensitas menurun di babak kedua. Beberapa kali Vietnam kehilangan momentum setelah menit ke-60, ketika energi pemain mulai terkuras.
Data menunjukkan Vietnam hanya mencetak 2 dari 6 golnya di 15 menit terakhir pertandingan. Sebaliknya, mereka kebobolan 4 gol di periode yang sama. Ini menandakan masalah kebugaran dan konsentrasi di menit-menit krusial. Kartu kuning yang menumpuk, total 11 sepanjang turnamen, juga memaksa beberapa pemain bermain lebih hati-hati dan mengurangi agresivitas pressing.
Kim menyadari hal ini. Dalam evaluasinya, ia menyebut pentingnya regenerasi dan memperluas kedalaman skuad. Piala Asia 2027 akan menjadi panggung bagi wajah-wajah baru untuk unjuk gigi, sembari tetap menjaga tulang punggung tim yang sudah ada.
Jalan Terjal Menuju Piala Asia 2027
Finis keempat di ASEAN Cup memang mengecewakan, tetapi bukan akhir dari segalanya. Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) dilaporkan tetap memberikan kepercayaan penuh kepada Kim Sang Sik setidaknya hingga putaran final Piala Asia 2027. Target minimal adalah lolos dari fase grup, sebuah misi yang tidak mudah mengingat lawan-lawan Asia yang jauh lebih fisik dan taktis.
Kim menegaskan bahwa dirinya tidak akan berlama-lama larut dalam kekecewaan. Evaluasi menyeluruh sedang berjalan, mulai dari pola latihan, pendekatan mental, hingga pemilihan pemain naturalisasi yang bisa memperkuat lini serang. Ia juga menyoroti pentingnya efisiensi dalam memanfaatkan peluang, terutama dari situasi bola mati.
"Sepak bola tidak memberi ruang untuk menyesali hasil. Kami harus bangkit, belajar dari setiap detail, dan tampil lebih baik di Piala Asia. Saya percaya dengan potensi tim ini," tambahnya.
Dengan clean sheet yang hanya tercipta sekali di ASEAN Cup 2026, lini belakang Vietnam jelas butuh perombakan. Kim berjanji akan melakukan eksperimen formasi, termasuk kemungkinan beralih ke 4-2-3-1 yang lebih seimbang. Ujian sesungguhnya baru akan dimulai. Dan seperti kata Kim, semua tanggung jawab ada di pundaknya.
Comments (0)