Conte Resmi Latih Napoli, Bawa Misi Scudetto ke Naples
Antonio Conte akhirnya menemukan pelabuhan baru. Setelah sempat menganggur sejak meninggalkan Tottenham Hotspur pada Maret 2023, pelatih asal Italia berusia 54 tahun itu resmi ditunjuk sebagai nahkoda...
Antonio Conte akhirnya menemukan pelabuhan baru. Setelah sempat menganggur sejak meninggalkan Tottenham Hotspur pada Maret 2023, pelatih asal Italia berusia 54 tahun itu resmi ditunjuk sebagai nahkoda baru Napoli. Penunjukan ini menjadi babak kelima Conte di Serie A setelah sebelumnya menangani Atalanta, Siena, Juventus, dan Inter Milan. Keputusan Napoli mendatangkan Conte bukan tanpa alasan: manajemen Partenopei ingin mengembalikan klub ke jalur persaingan gelar setelah musim 2023/24 berakhir tanpa trofi dan hanya finis di peringkat ke-10 klasemen Serie A dengan koleksi 53 poin dari 38 pertandingan.
Conte datang dengan rekam jejak yang tidak perlu diragukan. Statistik berbicara sendiri: dari 329 pertandingan Serie A yang ia jalani sebagai pelatih, Conte mengumpulkan 224 kemenangan, 63 hasil imbang, dan hanya 42 kekalahan. Persentase kemenangannya mencapai 68,1 persen, salah satu yang tertinggi di era sepak bola modern Italia. Tidak hanya itu, ia telah meraih empat gelar scudetto bersama tiga klub berbeda, sebuah pencapaian yang menempatkannya dalam jajaran elite pelatih Serie A.
Tantangan Pertama: Bangkitkan Kejayaan yang Sempat Hilang
Napoli saat ini berada di titik nadir. Setelah musim gemilang 2022/23 yang berakhir dengan scudetto pertama dalam 33 tahun, performa tim justru anjlok drastis pada musim berikutnya. Penguasaan bola rata-rata Napoli sempat menyentuh 57,8 persen di musim juara, namun turun menjadi 55,1 persen musim lalu. Lebih memprihatinkan lagi, shots on target per pertandingan turun dari 6,2 menjadi 4,8. Angka-angka ini menunjukkan permasalahan mendasar dalam transisi menyerang dan ketajaman lini depan, aspek yang menjadi spesialisasi Conte sepanjang kariernya.
Conte dikenal dengan formasi andalannya 3-5-2 atau 3-4-2-1, skema yang membawa Inter Milan meraih scudetto ke-19 pada 2020/21 dengan total 91 poin. Sepanjang musim itu, Inter mencetak 89 gol dan hanya kebobolan 35 gol, dengan 10 clean sheet di paruh kedua musim. Pendekatan taktis ini menuntut bek sayap yang agresif naik ke atas dan gelandang bertahan yang mampu memecah permainan lawan. Di Napoli, Conte akan mengandalkan pemain seperti Stanislav Lobotka sebagai metroplitan permainan serta mengembangkan potensi pemain muda hasil akademi.
"Saya ingin membangun kembali mentalitas juara. Napoli adalah kota sepak bola yang luar biasa, dan tifosi berhak melihat tim mereka bertarung di papan atas," tegas Conte dalam pernyataan pertamanya usai penandatanganan kontrak berdurasi tiga tahun.
Aspek Taktis dan Rombakan Starting XI
Pekerjaan pertama Conte adalah merombak lini belakang yang musim lalu kebobolan 48 gol, terburuk dalam lima musim terakhir Napoli. Dengan formasi tiga bek, Conte memerlukan bek tengah yang kuat dalam duel udara dan cerdik membaca pergerakan lawan. Klub dikabarkan tengah berburu pemain berkarakter seperti yang pernah ia bentuk di Juventus bersama Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini, trio BBC yang menjadi fondasi tujuh gelar liga beruntun.
Di lini depan, Conte harus memaksimalkan Victor Osimhen selama penyerang Nigeria itu masih bertahan di Naples. Osimhen mencatat 15 gol di Serie A musim lalu dengan rata-rata 3,4 tembakan per pertandingan, masih menjadi ancaman nyata bagi pertahanan lawan. Conte dikenal mampu mengasah naluri striker: Romelu Lukaku berkembang pesat di Inter, begitu pula Diego Costa di Chelsea. Dengan formasi dua penyerang, Osimhen berpotensi mencetak 20 gol lebih jika jeda musim panas dimanfaatkan untuk menemukan tandem yang tepat.
Faktor kebugaran fisik juga menjadi perhatian utama. Metode latihan Conte terkenal keras, dengan sesi double training selama pramusim. Ia menuntut pemain berlari minimal 11 kilometer per pertandingan. Sebagai perbandingan, rata-rata jarak tempuh pemain Napoli musim lalu hanya 10,4 kilometer. Peningkatan beban ini kerap menjadi awal dari kebangkitan tim, meski juga berisiko memicu cedera otot di awal musim jika tidak dikelola dengan cermat.
Persaingan Serie A yang Makin Sengit
Tantangan Conte tidak ringan. Inter Milan masih diperkuat skuad yang solid di bawah Simone Inzaghi, AC Milan terus berinvestasi, sementara Juventus dan Atalanta juga menunjukkan konsistensi. Napoli harus melewati kompetisi Eropa yang bisa menguras energi jika tidak dirotasi dengan bijak. Namun sejarah mencatat, Conte tidak pernah gagal membawa klubnya finis di tiga besar pada musim pertamanya, kecuali saat menangani Tottenham yang berkompetisi di Premier League.
Dengan 3 tahun kontrak dan target minimal kembali ke Liga Champions, proyek Conte di Napoli akan menjadi salah satu narasi paling menarik di Serie A musim depan. Jika pola kebangkitan yang sama terulang seperti di Juventus dan Inter, jangan kaget bila scudetto keempat bagi Conte datang dari kaki Gunung Vesuvius. Statistik mendukung, sejarah berpihak, dan sekarang bola ada di kaki para pemain Napoli untuk membuktikannya di lapangan.
Comments (0)