Ketua Umum PSSI Buka Suara Soal Penundaan Debut Hubner di AFF 2026
Menjelang laga ketiga Grup B Piala AFF 2026 melawan Thailand, Ketua Umum PSSI Erick Thohir akhirnya angkat bicara mengenai status teka-teki Justin Hubner. Hingga kemarin, bek kiri andalan tim nasional...
Menjelang laga ketiga Grup B Piala AFF 2026 melawan Thailand, Ketua Umum PSSI Erick Thohir akhirnya angkat bicara mengenai status teka-teki Justin Hubner. Hingga kemarin, bek kiri andalan tim nasional itu belum juga merapat ke pemusatan latihan, memicu spekulasi publik. Erick memastikan bahwa absennya pemain naturalisasi itu murni karena kendala pelepasan dari klub, bukan karena masalah teknis di tubuh tim. “Kami sudah melakukan komunikasi intensif, tetapi klub belum memberikan izin. Ini di luar kendali kami,” ujar Erick menegaskan posisi PSSI.
Duduk Perkara: Tumbukan Jadwal dan Regulasi FIFA
Piala AFF 2026 berlangsung di luar kalender resmi FIFA, sehingga klub tidak memiliki kewajiban melepas pemain. Cerezo Osaka, klub tempat Hubner bermain di J1 League, masih menjalani rangkaian laga padat menuju penutupan musim domestik. Data menunjukkan Hubner telah tampil dalam 19 dari 22 pekan terakhir bersama Cerezo, mencatat rata-rata 3,2 sapuan dan 1,8 intersep per pertandingan, menjadikannya pilar pertahanan yang sulit dilepas. Situasi ini mirip dengan kasus Egy Maulana Vikri pada edisi 2022, ketika FK Senica menahan sang gelandang karena kekhawatiran cedera di luar agenda resmi.
Menurut sumber internal PSSI, federasi telah mengirim surat resmi sejak dua pekan lalu, bahkan melibatkan jalur diplomatik melalui Kedutaan Besar Indonesia di Jepang. Namun, respons klub tetap dingin. “Klub mengacu pada aturan FIFA bahwa pemain di luar jendela internasional adalah hak penuh klub. Kami menghormati itu, tapi kami menyesalkan situasinya,” tambah Erick. Ia juga mengindikasikan bahwa negosiasi masih terbuka, namun peluang Hubner bergabung di sisa turnamen sangat kecil.
Bobot Absensi pada Skema Pertahanan Garuda
Kehilangan Justin Hubner bukan sekadar hilangnya satu nama. Dalam dua laga awal Grup B, Indonesia telah kebobolan total empat gol – dua dari skema bola mati yang biasanya menjadi tanggung jawab Hubner sebagai pemain dengan tinggi 187 cm dan keunggulan duel udara. Statistik Timnas tanpa Hubner di enam laga uji coba sepanjang 2025 mencatat rata-rata kebobolan 1,7 gol per laga, naik signifikan dibanding angka 0,8 gol saat ia menjadi starter dalam kualifikasi Piala Asia U-23 tahun lalu.
Pelatih timnas menggeser Rizky Ridho ke posisi bek kiri untuk menutup lubang, namun hasilnya belum maksimal. Analisis formasi menunjukkan bahwa duet Ridho-Jordi Amat di jantung pertahanan kehilangan distribusi progresif yang biasa dihadirkan Hubner. “Kami kehilangan kemampuan membangun serangan dari belakang. Justin biasanya menjadi exit pass pertama,” komentar asisten pelatih yang enggan disebutkan namanya. Data menunjukan performa build-up Indonesia turun dari rata-rata 52 operan maju per laga menjadi 41 operan di dua laga awal turnamen.
Reaksi Pelatih Shin Tae-yong dan Adaptasi Taktik
Shin Tae-yong, yang masih dipercaya menukangi skuad Garuda hingga Piala Dunia 2026, merespons dengan menggeser formasi menjadi tiga bek sejajar. Uji coba dalam sesi latihan tertutup memperlihatkan skema 3-4-3 yang mengandalkan Pratama Arhan dan Asnawi Mangkualam sebagai wingback agresif. Namun, data panas dari sesi internal menunjukkan peningkatan intensitas lari Arhan sebesar 12% untuk menutupi area vertikal yang biasanya diisi Hubner, risiko cedera pun membayangi.
“Saya sudah bicara dengan Justin via video call. Dia ingin sekali membela negara, tapi situasi kontrak dan kepercayaan klub membuat ini rumit. Saya menghargai profesionalismenya,” ujar Shin dalam konferensi pers menjelang laga kontra Thailand. Pelatih asal Korea Selatan itu juga menolak menyalahkan siapa pun, sembari menekankan bahwa kedalaman skuad saat ini sudah jauh lebih baik dibanding edisi-edisi sebelumnya. Di atas kertas, Indonesia masih memiliki stok empat bek tengah, namun ke-fleksibelan Hubner yang bisa beroperasi sebagai bek kiri atau gelandang bertahan menjadi kehilangan tak tergantikan.
Dampak Jangka Panjang pada Kebijakan Naturaliasi
Ketegangan dengan klub pemain naturalisasi membuka diskusi lebih luas tentang strategi jangka panjang PSSI. Erick Thohir menegaskan bahwa federasi tengah menggodok aturan internal yang mengharuskan klausul pelepasan dalam kontrak pemain naturalisasi dengan tim nasional, mirip dengan model yang diterapkan Asosiasi Sepak Bola Jepang. “Kami belajar dari kasus ini. Kami tidak akan memaksakan sesuatu yang melanggar aturan, tetapi ke depan kami ingin kepastian lebih besar,” katanya.
Sinyal dari Cerezo Osaka sendiri belum sepenuhnya tertutup. Negosiasi masih membuka celah andai Indonesia lolos ke semifinal yang baru dimainkan bulan depan, di mana jeda domestik J1 League bisa dimanfaatkan. Namun, target realistis saat ini adalah memaksimalkan skuad yang ada. Dengan penguasaan bola yang masih stabil di angka 54% pada dua laga awal, dan jumlah tembakan tepat sasaran rata-rata 4,5 per laga, serangan Indonesia masih cukup tajam untuk bersaing. Lini belakang menjadi pekerjaan rumah terberat tanpa sang jenderal muda. Seluruh mata kini tertuju pada laga melawan Thailand yang bisa menjadi penentu langkah Indonesia ke fase gugur, dengan atau tanpa Hubner.
Comments (0)