Kemenangan Argentina Diwarnai Keributan Gavi dan Paredes di Final

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 langsung berubah menjadi arena pertikaian sesaat setelah wasit meniup peluit panjang di MetLife Stadium, East Rutherfor...

Jul 28, 2026 - 08:22
0 0
Kemenangan Argentina Diwarnai Keributan Gavi dan Paredes di Final

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 langsung berubah menjadi arena pertikaian sesaat setelah wasit meniup peluit panjang di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7) malam waktu setempat. Gavi, gelandang energi Spanyol, terlibat dorong-mendorong sengit dengan Leandro Paredes dan Thiago Almada dari kubu Argentina, menciptakan pemandangan panas yang mengakhiri laga puncak penuh tensi tinggi itu. Pertandingan sendiri menyajikan duel taktik kelas dunia dengan Argentina tampil klinis memanfaatkan peluang, sementara Spanyol mendominasi penguasaan bola namun gagal menaklukkan soliditas pertahanan lawan.

Babak Pertama: Serangan Cepat Argentina dan Respons Spanyol

Argentina membuka skor melalui pola serangan kilat di menit ke-23. Berawal dari sapuan Emiliano Martinez, bola cepat beralih ke kaki Lionel Messi yang mengirim umpan terobosan akurat kepada Lautaro Martinez. Penyerang Inter Milan itu melewati Unai Simon dengan penyelesaian tenang ke sudut kiri gawang, mencatatkan gol ke-10-nya sepanjang turnamen, sekaligus menempatkannya sebagai kandidat Sepatu Emas. Spanyol yang mengandalkan formasi 4-2-3-1 dengan Rodri dan Pedri sebagai poros ganda berusaha menguasai ritme. Penguasaan bola 62% mereka di 30 menit awal tak cukup membongkar blok rendah Argentina yang dimotori Lisandro Martinez dan Cristian Romero. Momen penyama kedudukan datang di menit ke-41 lewat skema umpan pendek vertikal: Gavi menusuk dari lini kedua, mengirim assist terukur kepada Pedri yang tanpa ragu melepaskan tendangan first-time dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras ke pojok kanan gawang, tak terjangkau Martinez. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum, dengan statistik shots on target 3-2 untuk Spanyol.

Babak Kedua: Gol Penentu Julian Alvarez dan Dominasi yang Sia-sia

Argentina kembali memimpin di menit ke-67 melalui gol khas transisi. Rodrigo De Paul mencuri bola di lini tengah dari kaki Gavi, langsung mengirim umpan terobosan ke ruang kosong yang disambar Julian Alvarez. Penyerang Manchester City itu melewati Robin Le Normand dan menaklukkan Unai Simon lewat sepakan mendatar ke tiang dekat. Shot on target Argentina baru mencatatkan dua tembakan tepat sasaran hingga gol itu terjadi, menunjukkan efisiensi mematikan. Spanyol merespons dengan gelombang serangan: Nico Williams nyaris menyamakan skor di menit ke-78 lewat tendangan melengkung yang berhasil diblok Martinez, dan peluang emas di menit ke-89 saat Lamine Yamal melepaskan tembakan membentur tiang gawang. Pelatih Spanyol memasukkan pemain ofensif tambahan seperti Ansu Fati dan Alex Baena, namun kukuhnya duet Romero-Lisandro dengan 12 sapuan berhasil meredam setiap umpan silang. Total shots 14-9 untuk Spanyol, dengan 5 tepat sasaran berbanding 4 milik Argentina. Wasit menambahkan 6 menit injury time, namun tak ada gol tambahan. Kontroversi sempat muncul saat bola mengenai tangan Romero di kotak penalti pada menit ke-90+3, tetapi VAR memutuskan tidak ada pelanggaran.

Reaksi Pelatih, Statistik, dan Keributan Pasca-Peluit Panjang

Statistik pertandingan menunjukkan Spanyol unggul dalam penguasaan bola 58% dan jumlah umpan sukses mencapai 672 berbanding 389 milik Argentina. Namun, pelanggaran lebih keras dilakukan Argentina dengan total 18, berbanding 15 dari Spanyol. Kartu kuning dikeluarkan untuk Romero (menit 35), De Paul (menit 71), dan Paredes (pasca-laga) dari Argentina; sementara Rodri (menit 56) dan Gavi (menit 90+4) dari kubu Spanyol.

Pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengakui keunggulan lawan. “Kami mengontrol bola, menciptakan peluang lebih banyak, tetapi tidak cukup klinis. Argentina sangat disiplin dan memanfaatkan momen transisi dengan sempurna. Saya bangga pada para pemain, meski hasil ini sangat menyakitkan,” ujarnya.

Di sisi Argentina, Lionel Scaloni memuji karakter timnya. “Final bukan hanya soal taktik, tapi soal hati. Para pemain memberikan segalanya. Lautaro dan Julian tampil luar biasa, begitu juga pertahanan kami. Keributan di akhir adalah bagian dari emosi yang meluap, tapi itu tak mengurangi rasa hormat kami kepada Spanyol,” katanya. Keributan dipicu oleh dorongan Gavi kepada Paredes setelah percikan ketegangan di menit-menit akhir. Thiago Almada yang mencoba melerai justru terlibat adu fisik. Wasit langsung memberikan kartu kuning kepada Gavi dan Paredes, mengakhiri insiden yang sempat membuat ofisial kedua tim turun tangan. Meski tensi panas, tidak ada kartu merah yang dikeluarkan. Kemenangan ini mengantar Argentina meraih gelar Piala Dunia ketiganya setelah 1978 dan 2022, sekaligus mempertegas dominasi generasi emas di bawah asuhan Scaloni. Bagi Spanyol, ini adalah kekalahan final kedua dalam tiga edisi terakhir setelah semifinal 2010, menambah catatan pahit meski merevolusi gaya bermain dengan generasi muda berbakat seperti Gavi, Pedri, dan Yamal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User