Kemarau Panjang, Ribuan Warga Lampung Gelar Salat Istisqa di Lapangan Korpri
Krisis hidrometeorologi yang dipicu oleh musim kemarau berkepanjangan mendorong ribuan masyarakat bersama jajaran Pemerintah Provinsi Lampung menggelar ikh
Krisis hidrometeorologi yang dipicu oleh musim kemarau berkepanjangan mendorong ribuan masyarakat bersama jajaran Pemerintah Provinsi Lampung menggelar ikhtiar spiritual berskala besar. Lapangan Korpri di Kompleks Kantor Gubernur Lampung dipadati jamaah yang berkumpul untuk menunaikan Salat Istisqa secara berjamaah, memohon diturunkannya hujan di tengah ancaman kekeringan dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Langkah ini mencerminkan keterpaduan antara kesadaran spiritual dan kepedulian sosial dalam merespons tekanan ekologis yang berdampak langsung pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta stabilitas lingkungan di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung.
Kronologi Pelaksanaan Salat Istisqa Bersama
Agenda doa bersama yang diinisiasi oleh pemerintah daerah berlangsung khidmat dengan tahapan pelaksanaan sebagai berikut:
- Pukul 06.30 WIB: Ribuan jamaah dari berbagai elemen masyarakat, aparatur sipil negara (ASN), alim ulama, hingga sivitas akademika mulai memadati saf-saf di Lapangan Korpri Bandar Lampung.
- Pukul 07.15 WIB: Pelaksanaan dua rakaat Salat Istisqa dimulai, dipimpin oleh imam yang ditunjuk Pemprov Lampung, diikuti dengan penyampaian khutbah yang mengajak umat memperbanyak istighfar dan introspeksi diri.
- Pukul 08.00 WIB: Rangkaian doa khusus dilantunkan secara bersama-sama, memohon agar curah hujan yang diturunkan bernilai berkah, mengakhiri kekeringan tanpa menimbulkan bencana hidrometeorologi baru.
Keterlibatan Akademisi dan Tokoh Masyarakat
Hadir langsung di tengah barisan jamaah, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pengelola Masjid Al Hijrah Kota Baru. Keterlibatan unsur perguruan tinggi menegaskan pentingnya kolaborasi moral antara akademisi, umara, dan masyarakat luas dalam menghadapi krisis iklim.
"Salat Istisqa menjadi momentum kita menundukkan hati, memperbanyak doa, dan memohon pertolongan Allah SWT. Kita berharap hujan yang turun membawa manfaat, bukan bencana, serta memberi keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat Lampung," ujar Dr. H.M. Nasrullah Yusuf usai ibadah.
Analisis Dampak Kemarau dan Urgensi Mitigasi
Pemerintah Provinsi Lampung mengusung tema "Mari Tundukkan Hati, Bersama dalam Doa, Memohon Turunnya Hujan sebagai Rahmat, serta Keselamatan dan Keberkahan bagi Kita Semua". Tema ini menyoroti situasi ganda yang dihadapi kawasan: defisit air permukaan akibat kemarau panjang serta kerentanan bencana geologis di sekitar Selat Sunda.
Kekeringan berkepanjangan di wilayah sentra pangan Lampung menuntut respons mitigasi struktural maupun non-struktural yang mencakup beberapa aspek utama:
- Ketahanan Sektor Pangan: Menjaga keandalan pasokan air irigasi untuk mencegah ancaman gagal panen di lahan-lahan pertanian produktif.
- Penyediaan Air Bersih Darurat: Mobilisasi bantuan tangki air ke permukiman warga yang mengalami kekeringan sumur dan sumber mata air utama.
- Penguatan Ikatan Sosial-Spiritual: Membangun resiliensi kolektif melalui doa bersama agar masyarakat tetap solid menghadapi tekanan cuaca ekstrem.
Melalui penyelenggaraan Salat Istisqa ini, Pemprov Lampung dan para pemangku kepentingan berharap terbangun optimisme publik sekaligus kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup demi memitigasi dampak perubahan iklim di masa mendatang.
Comments (0)