JAWA TIMUR — Karhutla Gunung Buthak Hanguskan 800 Hektare Lahan

SURABAYA — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat kembali melanda kawasan pegunungan di Provinsi Jawa Timur. Gunung Buthak dan Gunung Kawinajan

Sep 15, 2026 - 20:03
0 0
JAWA TIMUR — Karhutla Gunung Buthak Hanguskan 800 Hektare Lahan

SURABAYA — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat kembali melanda kawasan pegunungan di Provinsi Jawa Timur. Gunung Buthak dan Gunung Kawinajang kini menjadi pusat krisis ekologi setelah si jago merah melahap sedikitnya 800 hektare lahan vegetasi rimba dan sabana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama tim gabungan terus berpacu dengan waktu untuk memadamkan kobaran api yang kian meluas akibat dorongan cuaca ekstrem serta tiupan angin kencang di dataran tinggi tersebut.

Krisis lingkungan ini tidak hanya memusnahkan keanekaragaman hayati lokal, tetapi juga memicu ancaman sekunder berupa penurunan kualitas resapan air tanah dan peningkatan risiko erosi bagi pemukiman warga di kaki pegunungan. Akses darat yang sangat terbatas akibat kecuraman tebing memaksa para petugas dan relawan mengandalkan pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar (*firebreak*) guna menahan pergerakan lidah api agar tidak meluas ke area pemukiman.

Kronologi Penyebaran Api dan Upaya Penanganan Lapangan

Pergerakan api yang relatif cepat di kawasan dataran tinggi ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Berdasarkan data rekapitulasi penanganan bencana dari tim BPBD Jawa Timur, berikut adalah alur kronologis kejadian dan tindakan mitigasi yang telah ditempuh:

  1. Deteksi Awal Panas (Hotspot): Titik api pertama kali terdeteksi di sekitar lereng terjal Gunung Kawinajang sebelum akhirnya merambat cepat menuju kawasan vegetasi kering di puncak Gunung Buthak akibat dorongan angin berkecepatan tinggi.
  2. Mobilisasi Tim Gabungan: BPBD Jatim mengoordinasikan pembentukan tim pemadam yang melibatkan unsur Perhutani, TNI/Polri, relawan lokal, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk menyisir titik api dari jalur darat.
  3. Pembuatan Sekat Bakar: Mengingat peralatan berat tidak dapat menjangkau medan, petugas membuat isolasi bahan bakar berupa pembersihan vegetasi secara melingkar untuk memutus rantai penyebaran api.
  4. Evaluasi dan Kendala Cuaca: Tingkat kelembapan udara yang sangat rendah dan suhu udara yang tinggi terus memicu letupan titik api baru (*spotting*) di beberapa jurang yang sulit dijangkau manusia.

Analisis Kendala Lapangan dan Dampak Kerusakan

Secara analitis, penanganan karhutla di kawasan pegunungan memiliki tingkat risiko dan kompleksitas yang jauh lebih tinggi ketimbang kebakaran di lahan gambut datar. Faktor topografi ekstrem menjadi penghalang utama yang membatasi efektivitas armada pemadam kebakaran darat.

Indikator Parameter Detail Data Lapangan
Total Area Terdampak 800 Hektare (Gunung Buthak & Kawinajang)
Faktor Pemicu Utama Cuaca ekstrem, kelembapan rendah, dan vegetasi kering
Hambatan Operasional Kecuraman medan >60 derajat dan keterbatasan sumber air
Metode Pemadaman Manual (gepyok), sekat bakar, dan pemantauan koordinat satelit

Pengamatan kritis dari ahli kebencanaan menunjukkan bahwa kombinasi faktor alam dan topografi memperparah situasi ini. Menurut analisis pakar lingkungan, kondisi kemarau panjang telah mengeringkan lapisan humus dan ranting kayu secara masif.

"Vegetasi pegunungan yang kering di musim kemarau berubah menjadi bahan bakar potensial berenergi tinggi. Ketika dipicu oleh angin kencang di puncak gunung, kecepatan perambatan api dapat meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan area datar, membuat pemadaman manual menjadi sangat berbahaya bagi keselamatan personel," ungkap Dr. Suryo Prabowo, peneliti senior bidang mitigasi bencana lingkungan.

Langkah Strategis Mitigasi dan Ancaman Jangka Panjang

Dampak dari musnahnya 800 hektare kawasan tutupan hutan ini diprediksi akan berlangsung lama jika penanganan pascabencana tidak dilakukan secara presisi. Ekosistem pegunungan berfungsi sebagai penangkap air hujan alami yang menjaga keseimbangan hidrologi kawasan sekitarnya.

  • Peningkatan Sistem Peringatan Dini: Memperkuat jaringan pemantauan satelit *real-time* untuk mendeteksi kenaikan suhu permukaan tanah sebelum api membesar.
  • Dukungan Teknologi Air (Water Bombing): Mengusulkan pemanfaatan helikopter pemadam air dari BNPB untuk menjangkau area jurang terjal yang mustahil ditembus oleh personel darat.
  • Rehabilitasi Vegetasi Pasca-Bencana: Melakukan program reboisasi cepat menggunakan spesies tanaman lokal yang memiliki ketahanan tinggi terhadap api serta sistem perakaran kuat untuk memulihkan struktur tanah.

Langkah taktis yang diambil BPBD Jatim saat ini sangat krusial untuk menahan laju kerusakan yang lebih luas. Namun, keberlanjutan pemulihan kawasan Gunung Buthak dan Kawinajang memerlukan komitmen lintas sektor, mulai dari penegakan hukum hingga edukasi masyarakat sekitar hutan guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User