Jalur Cepat Pertamina MRS Lahirkan Pembalap Muda ke Panggung Dunia

Bendera finis berkibar di Sirkuit Mandalika, Minggu (15/6) sore, menandai kemenangan sensasional Ridho Alfarizi di race pamungkas Pertamina Mandalika Racing Series (Pertamina MRS) kelas Sport 250cc. D...

Jul 28, 2026 - 06:10
0 0
Jalur Cepat Pertamina MRS Lahirkan Pembalap Muda ke Panggung Dunia

Bendera finis berkibar di Sirkuit Mandalika, Minggu (15/6) sore, menandai kemenangan sensasional Ridho Alfarizi di race pamungkas Pertamina Mandalika Racing Series (Pertamina MRS) kelas Sport 250cc. Dengan catatan waktu total 19 menit 47,332 detik untuk 12 lap, Alfarizi mengungguli rival terdekatnya, Bayu Nugroho, dengan selisih 1,2 detik. Duel sengit di lap-lap awal menjadi bukti ketatnya persaingan level nasional yang kini menjadi sorotan talent scout mancanegara.

Sejak bendera start, Alfarizi yang memulai dari grid kedua langsung menempel ketat pole sitter Nugroho. Masuk tikungan pertama, ia memanfaatkan slipstream untuk merebut posisi terdepan. Di lap ketiga, catatan waktu sektor 2 Alfarizi menyentuh 34,112 detik — tercepat sepanjang akhir pekan, memperlihatkan keunggulannya di area teknis yang kerap menjadi pembeda antara pembalap berbakat dan sekadar cepat. Kecepatan puncak motornya menembus 187,3 km/jam di trek lurus belakang, hanya selisih 0,7 km/jam dari data motor Nugroho, namun konsistensi pengereman di tikungan hairpin menjadi kunci kemenangannya.

Pertamina MRS musim ini diikuti 32 pembalap reguler di kelas utama, dengan rata-rata usia 17,4 tahun. Dari jumlah itu, 11 pembalap mencatat setidaknya satu kali podium, menandakan kedalaman kompetisi yang makin merata. Panitia penyelenggara mencatat peningkatan signifikan pada sektor pembinaan: tahun ini, setiap seri dilengkapi sesi data analysis wajib, di mana para pembalap mempelajari telemetri, throttle trace, dan brake pressure bersama insinyur balap berpengalaman.

Balutan Data: Dominasi di Setiap Sektor

Jika ditelisik lebih dalam, kemenangan Alfarizi bukan sekadar keberuntungan. Data sektor menunjukkan ia unggul di dua dari tiga sektor secara konsisten. Di sektor 1, selisih waktu hanya 0,087 detik, namun di sektor 2 ia melejit dengan selisih 0,412 detik atas rata-rata para rival. Sektor 3 yang memadukan tikungan cepat dan pengereman keras, Alfarizi mencatat rerata 57,8 km/jam saat entry corner — 1,2 km/jam lebih tinggi dari Nugroho. Angka itu menjadi bukti keberaniannya melakukan trail-braking, teknik yang biasanya hanya dikuasai pembalap yang sudah menimba ilmu di Eropa.

Statistik overtake juga mengesankan. Sepanjang race, terjadi 14 overtake bersih di lima lap pertama, dengan tiga di antaranya terjadi di tikungan 10 yang sempit. Race direction mencatat nol insiden, meski intensitas wheel-to-wheel sangat tinggi — pertanda kedewasaan para pembalap muda yang semakin terasah.

Pintu Emas Menuju Asia Talent Cup dan JuniorGP

Pertamina MRS tidak lagi sekadar kejuaraan nasional. Dalam dua musim terakhir, alumninya telah menembus ajang internasional. Tiga pembalap lulusan 2024 kini berlaga di Idemitsu Asia Talent Cup, sementara satu nama, Dimas Pratama, menjalani wildcard di FIM JuniorGP 2025 dan finis posisi ke-14 — hasil yang langsung memantik tawaran tes dari tim CEV. Direktur Olahraga Pertamina MRS, Rizal Sungkar, menegaskan bahwa ajang ini didesain sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir. “Kami tidak hanya menyiapkan fisik dan teknik, tapi juga mental, kemampuan komunikasi dengan engineer, dan adaptasi budaya balap Eropa,” ujarnya.

Pemenang kelas utama di tiap seri mendapatkan beasiswa pelatihan selama dua pekan di akademi balap di Spanyol, lengkap dengan sesi simulator dan analisis biomekanik. Program ini, yang dimulai 2023, telah menghasilkan lulusan yang kini menjadi test rider pabrikan di Jepang. Rata-rata peningkatan waktu lap peserta program mencapai 1,3% setelah kembali dari Spanyol, berdasarkan data telemetri yang dibandingkan sebelum dan sesudah pelatihan.

Kutipan Langsung: “Kami Bangun Mental Juara”

Di paddock, atmosfer terasa profesional. Mantan pembalap Moto2 yang kini menjadi pelatih kepala, Rafid Topan, membeberkan filosofi pembinaan. “Anak-anak ini kami ajarkan bahwa data adalah teman, bukan musuh. Setiap kali mereka kembali ke pit, kami langsung tunjukkan grafik throttle dan braking point. Mereka belajar membaca balapan bukan hanya dari sensasi, tapi dari angka,” tuturnya di sela sesi debrief. Topan menambahkan, musim ini pihaknya menerapkan program mental coaching wajib dengan psikolog olahraga, karena “di level internasional, 70% pertarungan ada di kepala.”

“Kami tidak mencari sekadar juara nasional. Kami mencari pembalap yang bisa bersaing di World Championship. Dan kami yakin, dalam 2-3 tahun ke depan, akan ada lulusan Pertamina MRS yang naik podium Moto3.”

Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Sebanyak 67% pembalap reguler Pertamina MRS kini menggunakan data logger pribadi, sebuah investasi yang biasanya hanya dilakukan pembalap yang serius mengejar karier profesional. Antusiasme itu juga terlihat dari jumlah peserta seleksi awal musim yang mencapai 214 pendaftar, naik 22% dari tahun lalu. Hanya 32 yang terpilih, dengan tingkat selektivitas 15% — lebih ketat dari tahun sebelumnya.

Proyeksi ke Depan: Lebih Banyak Sirkuit, Lebih Banyak Talenta

Melihat animo yang tinggi, penyelenggara berencana menambah satu seri di sirkuit internasional lain pada 2026, dengan target menjajaki Sepang International Circuit sebagai venue luar negeri pertama. Langkah ini diyakini akan memperkaya pengalaman pembalap menghadapi layout trek berbeda, sekaligus mengekspos mereka ke atmosfer balap yang lebih besar. Sementara itu, kerjasama dengan sponsor global mulai terjalin; dua pabrikan ban asal Eropa dikabarkan tertarik menjadi pemasok resmi musim depan, yang berarti para pembalap akan merasakan kompon dan profil ban yang mendekati standar Kejuaraan Dunia.

Hingga race terakhir, klasemen akhir musim menunjukkan persaingan yang ketat: selisih poin antara juara umum dan runner-up hanya 7 angka dari total 150 poin maksimal. Angka ini menjadi yang terkecil dalam sejarah Pertamina MRS, mengindikasikan bahwa tidak ada lagi dominasi satu pembalap. Kini, lintasan Mandalika tidak hanya menjadi panggung wisata, tapi juga laboratorium hidup bagi bibit-bibit pembalap yang siap diorbitkan ke pentas dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User