Jakarta — Rupiah Betah di Level Rp18.000, Ini Pemicunya
Ruang pasar keuangan domestik kembali bergolak. Bukan oleh sentimen sesaat, melainkan karena satu angka yang kian nyaman bercokol: Rp18.000 per dolar AS. B
Ruang pasar keuangan domestik kembali bergolak. Bukan oleh sentimen sesaat, melainkan karena satu angka yang kian nyaman bercokol: Rp18.000 per dolar AS. Bagi sebagian pelaku pasar, level ini menandakan bahwa pelemahan rupiah bukan lagi episode singkat, melainkan sebuah tren yang mulai terinternalisasi. Kekhawatiran pun menjalar—dari lantai bursa hingga ke meja rapat para pemilik usaha yang tengah menghitung ulang biaya impor bahan baku.
Badai Sempurna dari Sisi Global
Tekanan terbesar datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank sentral AS, The Federal Reserve, masih bertahan pada sikap hawkish-nya, mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun terus naik, menjadi magnet bagi arus modal global. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,8%, menarik dana keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. Aliran modal asing yang keluar dari pasar obligasi domestik pun meningkat, tercatat capital outflow mencapai Rp12,7 triliun dalam dua pekan terakhir menurut data BI.
"Kondisi ini menciptakan badai sempurna bagi rupiah. Ekspektasi suku bunga tinggi AS berpadu dengan harga komoditas unggulan yang sedang melandai, terutama batu bara dan minyak sawit," ujar Aditya Pratama, Ekonom Senior Lembaga Riset Mitra Bahana, dalam diskusi virtual awal pekan ini. "Investor global cenderung risk-off, sehingga aset berdenominasi dolar menjadi tujuan utama."
Tak hanya itu, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut menambah ketidakpastian. Lonjakan harga minyak mentah dunia membuat ongkos impor energi Indonesia membengkak. Ironisnya, saat harga minyak naik, pendapatan devisa dari ekspor komoditas seperti batu bara justru turun karena penurunan permintaan global. Rasio keterkaitan ini menjadi pukulan ganda bagi fondasi nilai tukar rupiah.
Cermin Domestik yang Buram
Dari dalam negeri, persoalan struktural turut melemahkan daya tahan rupiah. Neraca perdagangan yang sebelumnya menjadi tameng, kini mulai menunjukkan kerentanan. Surplus neraca dagang menyusut signifikan menjadi hanya USD1,2 miliar pada kuartal terakhir, jauh di bawah rerata tahun lalu yang mencapai USD3 miliar per bulan. Pelemahan ini terjadi karena impor bahan baku dan barang konsumsi tetap tinggi di tengah ekspor yang melambat. Pelaku usaha manufaktur, khususnya di sektor makanan dan minuman, mulai merasakan dampak lonjakan biaya impor gandum dan bahan pangan lainnya.
Di sisi lain, persepsi pasar terhadap risiko fiskal turut membebani. Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) menghadapi tantangan pembiayaan yang lebih mahal seiring kenaikan yield obligasi pemerintah. Yield SUN 10 tahun domestik kini menyentuh 7,2%, level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Tingginya imbal hasil ini mencerminkan ekspektasi investor terhadap risiko inflasi dan potensi pelebaran defisit fiskal, yang secara psikologis menambah tekanan pada rupiah.
Langganan Intervensi yang Makin Intens
Bank Indonesia jelas tak tinggal diam. Gubernur BI, Perry Warjiyo, berulang kali menegaskan bahwa bank sentral akan terus melakukan "triple intervention"—yaitu di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian obligasi di pasar sekunder. Cadangan devisa Indonesia, yang saat ini berada di kisaran USD136 miliar, masih menjadi amunisi yang cukup untuk meredam volatilitas. Namun, pakar pasar keuangan mengingatkan bahwa intervensi terus-menerus memiliki keterbatasan.
"Intervensi hanya bisa menahan guncangan jangka pendek, bukan mengubah fundamental. Selama suku bunga acuan BI tertinggal dari Fed dan inflasi domestik belum sepenuhnya terkendali, rupiah akan terus tertekan," tegas Aditya.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa BI berpotensi menaikkan kembali suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang, sebagai sinyal untuk menahan arus dana keluar. Langkah ini memang bisa menopang rupiah dalam jangka pendek, namun di saat yang sama dapat menekan laju pertumbuhan kredit dan konsumsi domestik—sebuah dilema klasik yang belum menemukan penyelesaian mudah.
Dengan begitu, kisaran Rp18.000 mungkin akan tetap menjadi the new normal bagi rupiah untuk beberapa waktu ke depan, setidaknya hingga ada titik terang dari ketidakpastian global atau gebrakan reformasi struktural yang lebih nyata dari pemerintah.
Comments (0)