JAKARTA — PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) resmi mencatatkan saham perdananya di
Berdasarkan prospektus yang dirilis, JECX melepas sebanyak 1,2 miliar lembar saham atau setara 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. Harg
Berdasarkan prospektus yang dirilis, JECX melepas sebanyak 1,2 miliar lembar saham atau setara 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. Harga penawaran awal ditetapkan pada rentang Rp410–Rp490 per saham, namun proses book building yang berakhir pekan lalu menghasilkan harga final di level Rp460 per lembar. Dengan demikian, perseroan berhasil meraup dana segar sebesar Rp552 miliar.
Penggunaan Dana dan Ekspansi
Mayoritas dana IPO akan dialokasikan untuk ekspansi armada dan gudang. Budi Djatmiko menjelaskan bahwa sekitar 60% dari dana hasil penawaran umum diprioritaskan untuk pembelian 200 unit truk kontainer baru serta pembangunan dua pusat distribusi di Surabaya dan Medan. “Kami melihat permintaan layanan logistik nasional masih sangat under-served, terutama di segmen last-mile delivery untuk produk farmasi dan elektronik bernilai tinggi,” ujarnya usai seremoni pencatatan saham.
“Kami melihat permintaan layanan logistik nasional masih sangat under-served, terutama di segmen last-mile delivery untuk produk farmasi dan elektronik bernilai tinggi.” — Budi Djatmiko, Direktur Keuangan JECX
Sisanya, 30% dimanfaatkan untuk modal kerja, termasuk peremajaan sistem teknologi informasi rantai pasok, dan 10% sisanya untuk pelunasan sebagian utang bank jangka menengah. Langkah deleveraging ini diharapkan dapat menurunkan debt-to-equity ratio perusahaan dari 2,1x menjadi sekitar 1,3x pada akhir tahun buku 2026.
Kinerja Keuangan dan Prospek Pasca-IPO
JECX memasuki lantai bursa dengan fundamental yang cukup solid. Laporan keuangan 2025 menunjukkan pendapatan bersih sebesar Rp1,8 triliun, tumbuh 28% secara tahunan (yoy), dengan laba bersih Rp87 miliar. Margin laba bersih memang masih tipis di kisaran 4,8%, namun Budi optimistis ekspansi armada dapat meningkatkan efisiensi operasional dan mendongkrak margin hingga 6–7% dalam dua tahun ke depan.
Industri logistik nasional diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 12,5% hingga 2028, didorong oleh booming e-commerce, hilirisasi mineral, serta relokasi rantai pasok global ke Asia Tenggara. Posisi JECX sebagai penyedia logistik terintegrasi dengan lisensi penanganan bahan berbahaya (B3) menjadi diferensiator penting di tengah persaingan yang semakin ketat.
Respons Pasar dan Investor
Pada debut perdananya, saham JECX dibuka menguat 14% ke level Rp524, mencerminkan minat investor yang tinggi. Analis memperkirakan saham ini akan menjadi salah satu pilihan menarik di sektor transportasi dan logistik, terutama setelah masuknya beberapa emiten logistik digital yang valuasinya dinilai terlalu mahal.
“Dengan dana IPO yang cukup besar, JECX memiliki amunisi untuk mempercepat ekspansi tanpa mengorbankan struktur permodalan. Namun, tantangan terbesarnya adalah eksekusi pembangunan gudang tepat waktu dan integrasi armada baru dengan sistem yang ada,” ujar Rina Anggraini, analis dari Mandiri Sekuritas, dalam riset yang dipublikasikan kemarin.
Dengan resmi melantai di BEI, JECX menjadi emiten logistik ke-15 yang tercatat. Manajemen berharap status perusahaan publik akan meningkatkan kepercayaan mitra bisnis dan akses ke pasar modal untuk pendanaan ekspansi jangka panjang.
Comments (0)