Jakarta — Piala Presiden 2026 Hadirkan Delapan Klub Empat Negara

Ruangan Studio Lantai 8 SCTV Tower di Senayan City, Jakarta, Senin (06/07/2026) siang itu dipenuhi optimisme yang nyaris bisa diraba. Di bawah sorot lampu

Jul 09, 2026 - 07:45
0 1
Jakarta — Piala Presiden 2026 Hadirkan Delapan Klub Empat Negara

Ruangan Studio Lantai 8 SCTV Tower di Senayan City, Jakarta, Senin (06/07/2026) siang itu dipenuhi optimisme yang nyaris bisa diraba. Di bawah sorot lampu dan deru kamera, empat figur kunci duduk sejajar: Ketua OC Piala Presiden Tsamara Amany, Ketua Steering Committee (SC) Maruarar Sirait, Ketua Umum PSSI Erick Thohir, dan Direktur Emtek Media Harsiwi Achmad. Mereka tidak sekadar mengumumkan turnamen, melainkan membentangkan peta bisnis sepak bola regional yang menjanjikan. Piala Presiden 2026 resmi hadir dengan format baru: delapan klub dari empat negara, sebuah langkah yang mengerek level kompetisi sekaligus membuka keran ekonomi yang lebih lebar.

Format Baru yang Menggoda Pasar

Kehadiran empat negara dalam turnamen ini langsung mengubah skala komersial. Jika edisi-edisi sebelumnya lebih bersifat domestik, Piala Presiden 2026 menjelma menjadi panggung sepak bola kawasan. Penyelenggara masih merahasiakan nama-nama klub peserta, namun bocoran yang beredar menyebut tim-tim dari Asia Tenggara dan Asia Timur akan meramaikan kompetisi. Implikasi ekonominya jelas: pangsa pemirsa melompat dari nasional ke regional, dan potensi hak siar naik berlipat. Nilai kontrak media bisa menembus angka yang belum pernah dicapai turnamen persahabatan di Indonesia sebelumnya.

Mesin Penggerak Industri Pendukung

Bagi pemerintah dan swasta, Piala Presiden 2026 bukan sekadar event olahraga, melainkan stimulus ekonomi kerakyatan. Gelaran ini diproyeksikan memutar roda bisnis perhotelan, transportasi, kuliner, dan ritel di kota-kota penyelenggara. Merchandise resmi, sponsor, dan penjualan tiket menjadi tulang punggung pendapatan langsung. Yang lebih signifikan adalah efek berganda (multiplier effect) dari belanja suporter asing yang datang. “Turnamen ini ibarat menggelar pesta ekonomi. Satu rupiah yang dibelanjakan penonton akan berputar beberapa kali lipat di tengah masyarakat,” ujar Maruarar Sirait, menekankan bahwa dampak ekonomi tidak akan berhenti di dalam stadion.

“Kami mendesain Piala Presiden bukan hanya sebagai ajang adu gengsi, tetapi juga katalisator ekonomi yang menyentuh UMKM dan pekerja informal,” tambah Erick Thohir saat sesi tanya jawab.

Data dan Proyeksi Awal

Meski angka resmi belum dirilis, hitung-hitungan kasar berdasarkan penyelenggaraan serupa di kawasan menunjukkan potensi pendapatan agregat mencapai Rp300–500 miliar dari seluruh ekosistem turnamen. Komponen utamanya berasal dari penjualan hak siar (estimasi 60%), sponsorship (25%), dan tiket plus pendapatan hari pertandingan (15%). Jika rata-rata penonton per laga mencapai 20 ribu orang dan suporter asing menyumbang 10% okupansi hotel selama dua pekan, sektor akomodasi saja bisa meraup tambahan puluhan miliar rupiah. Ini adalah proyeksi konservatif; angka sebenarnya bisa lebih besar bila animo pasar sesuai ekspektasi.

Kehadiran Harsiwi Achmad sebagai representasi Emtek Media juga menjadi sinyal kuat bahwa distribusi siaran akan maksimal. Emtek, yang menguasai sejumlah kanal televisi dan platform digital, diproyeksikan menggenjot pendapatan iklan lewat paket komersial premium. Sinergi antara PSSI, pemerintah, dan konglomerasi media inilah yang membuat Piala Presiden 2026 dibaca sebagai proyek bisnis olahraga dengan fondasi kokoh.

Di penghujung konferensi pers, Tsamara Amany menyampaikan bahwa pihaknya akan segera merilis detail peserta dan jadwal pertandingan. Namun satu hal sudah pasti: gelaran ini akan menjadi barometer baru bagi industri sepak bola Indonesia—tak hanya di lapangan, melainkan di neraca ekonomi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User