Infantino Tertawa saat Ditanya Kontroversi Jual Saham Piala Dunia

Menit ke-14 konferensi pers di markas FIFA, Zurich, Presiden Gianni Infantino akhirnya membuka suara untuk pertama kalinya dalam 47 hari terakhir. Namun alih-alih menjawab tegas soal kontroversi penju...

Aug 24, 2026 - 05:57
0 0
Infantino Tertawa saat Ditanya Kontroversi Jual Saham Piala Dunia

Menit ke-14 konferensi pers di markas FIFA, Zurich, Presiden Gianni Infantino akhirnya membuka suara untuk pertama kalinya dalam 47 hari terakhir. Namun alih-alih menjawab tegas soal kontroversi penjualan saham penyelenggaraan Piala Dunia, pria asal Swiss itu justru melontarkan candaan dan tertawa lepas di hadapan puluhan jurnalis dari 40 negara. Momen inilah yang kini menjadi sorotan utama dunia sepak bola: publik menunggu kejelasan, dan yang mereka dapat hanyalah tawa. Skor akhir sesi tanya jawab itu, jika boleh dibilang: 0 jawaban substansial, 1 tawa, dan puluhan pertanyaan yang menggantung di udara.

47 Hari Bungkam, Media Dihadiahi Candaan

Sebelum konferensi pers digelar, Infantino tercatat menghindari setiap pertanyaan media selama 47 hari berturut-turut. Data dari sejumlah kantor berita internasional mencatat sedikitnya 32 permintaan wawancara resmi ditolak atau tidak direspons humas FIFA sejak kontroversi jual saham Piala Dunia mencuat. Angka itu menjadi semacam rekor “clean sheet” yang sama sekali tidak membanggakan: bungkam total, tanpa satu pun klarifikasi yang keluar dari mulut presiden.

Kontroversi ini berawal dari rencana FIFA melepas sebagian hak komersial dan saham penyelenggaraan Piala Dunia 2030 dan 2034 kepada pihak investor. Kritik datang bertubi-tubi dari federasi anggota, pengamat tata kelola, hingga suporter. Banyak pihak menilai langkah tersebut mengancam transparansi, sementara FIFA belum merilis rincian nilai transaksi maupun identitas pembeli secara terbuka. Ini bukan kali pertama Infantino menghadapi isu semacam ini; jika dihitung, ini adalah periode bungkam ketiganya dalam lima tahun terakhir — semacam hat-trick yang tidak ingin dirayakan siapa pun.

Ketika akhirnya tampil di depan media, Infantino justru mengubah formasi komunikasinya. Alih-alih memainkan gaya defensif dengan pernyataan tertulis yang berhati-hati, ia memilih menyerang dengan humor. “Pertanyaan bagus. Tapi saya lebih suka membahas trofi yang bobotnya lebih ringan daripada pertanyaan ini,” ujarnya sambil tertawa, merujuk pada Piala Dunia.

Menit ke-14: Saat Tawa Menggantikan Substansi

Menit ke-14 menjadi titik balik konferensi pers tersebut. Sebelumnya, Infantino menjawab lancar soal jadwal Piala Dunia Antarklub dan program pengembangan sepak bola akar rumput. Namun begitu topik saham Piala Dunia dilontarkan, nada pembicaraan berubah drastis. Ia tidak menyebut angka, tidak menyebut nama investor, dan tidak memberikan batas waktu publikasi dokumen transaksi. Setiap pertanyaan lanjutan dijawab dengan candaan, seolah-olah tim humas FIFA menganggap bola-bola tajam itu offside dan boleh diabaikan.

Para analis tata kelola olahraga menilai respons tersebut kontraproduktif. “Ini seperti wasit yang bercanda di tengah pemeriksaan VAR,” kata seorang pengamat yang enggan disebut namanya. “Publik butuh kepastian, bukan komedi. Setiap menit yang dihabiskan untuk candaan adalah assist bagi para kritikus untuk terus menekan.”

Statistik komunikasi dari konferensi pers itu menunjukkan ketimpangan yang mencolok: dari 45 menit sesi tanya jawab, hanya 3 menit yang membahas kontroversi saham. Sisanya, 42 menit, dihabiskan untuk topik-topik netral seperti teknologi garis gawang dan turnamen sepak bola wanita. Seolah-olah bola terus dioper ke area aman, jauh dari kotak penalti pertanyaan-pertanyaan tajam.

Kartu Kuning dari Publik dan Tekanan yang Menguat

Respons publik nyaris serempak: kecaman. Media sosial dibanjiri kritik, dan sejumlah federasi anggota dilaporkan meminta FIFA membuka dokumen transaksi secara utuh. Tekanan ini semacam kartu kuning yang melayang di depan Infantino: belum berbuah hukuman, tetapi peringatan jelas bahwa kesabaran publik punya batas. Jika ia kembali menghindar, bukan tidak mungkin peringatan moral itu berubah menjadi investigasi formal oleh badan pengawas independen.

Perbandingan dengan pendahulunya sulit dihindari. Saat krisis serupa mengguncang FIFA pada 2015, presiden saat itu justru menggelar konferensi pers terbuka tanpa batas jumlah pertanyaan. Infantino memilih jalur berbeda: maksimal dua pertanyaan per jurnalis, tanpa sesi lanjutan, dan tidak ada konferensi pers susulan yang dijadwalkan.

Di sisi lain, pendukung Infantino menilai candaan itu justru meredakan ketegangan. Menurut mereka, belum ada bukti pelanggaran hukum, dan penjualan saham hanyalah bagian dari strategi diversifikasi pendapatan FIFA. “Starting XI FIFA harus solid secara finansial untuk membiayai turnamen yang melibatkan 48 negara,” kata seorang sumber internal yang dekat dengan presiden. Namun argumen itu belum didukung data terbuka, dan itulah persoalannya.

Apa Langkah Berikutnya?

Yang jelas, tawa Infantino tidak mengubah fakta di lapangan. Hingga berita ini ditulis, FIFA belum merilis nilai transaksi, identitas investor, maupun mekanisme pengawasan penjualan saham. Penguasaan bola narasi memang masih berada di tangan Infantino, tetapi shots on target dari para kritikus terus berdatangan tanpa henti.

Pertanyaan besar kini menggantung di udara: akankah Infantino kembali bungkam seperti 47 hari sebelumnya, atau akankah ia bersedia menjawab tuntas di depan publik? Jika pilihan pertama yang diambil, konferensi pers kemarin akan tercatat sebagai kesempatan emas yang disia-siakan — momen ketika sepak bola dunia membutuhkan jawaban, dan yang diberikan hanyalah tawa.

“Publik tidak butuh komedian; mereka butuh presiden yang menjawab. Tawa bukanlah transparansi.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User