Infantino dan Revolusi FIFA: Statistik di Balik Mandat Sang Presiden

Skor akhir dari Kongres FIFA di Kigali, Rwanda, Maret 2023, terbaca seperti laga tanpa perlawanan: Gianni Infantino kembali terpilih sebagai Presiden FIFA secara aklamasi, mengamankan mandat ketiga hi...

Aug 12, 2026 - 02:02
0 0
Infantino dan Revolusi FIFA: Statistik di Balik Mandat Sang Presiden

Skor akhir dari Kongres FIFA di Kigali, Rwanda, Maret 2023, terbaca seperti laga tanpa perlawanan: Gianni Infantino kembali terpilih sebagai Presiden FIFA secara aklamasi, mengamankan mandat ketiga hingga 2027 tanpa satu pun kandidat penantang. Tidak ada gol kebobolan, tidak ada intervensi VAR, tidak ada kartu merah — sebuah clean sheet politik yang sempurna di hadapan 211 federasi anggota. Bagi pria kelahiran Swiss, 23 Maret 1970, itu, pertandingan kepemimpinannya memasuki babak perpanjangan waktu dengan penuh percaya diri.

Perjalanan Infantino menuju kursi nomor satu sepak bola dunia dimulai pada 26 Februari 2016, ketika ia memenangi pemilihan di Zurich menggantikan era Sepp Blatter yang runtuh oleh skandal korupsi. Mantan Sekretaris Jenderal UEFA itu datang membawa playbook reformasi, dan hampir satu dekade kemudian, angka-angka menjadi saksi bisu transformasi besar-besaran yang ia pimpin.

Babak Pertama: Reformasi dan Gol-Gol Awal 2016

Menit-menit awal kepemimpinan Infantino langsung menghasilkan gol. Pada pemungutan suara putaran kedua 2016, ia unggul 115 berbanding 88 suara atas Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa — margin yang cukup untuk memulai era baru. Formasi organisasi pun dirombak: Komite Eksekutif dibubarkan, digantikan Dewan FIFA dengan batas masa jabatan maksimal 12 tahun, plus audit keuangan yang lebih transparan.

Piala Dunia 2018 Rusia menjadi ujian perdana, dan Infantino menjawabnya dengan keputusan berani: debut VAR (Video Assistant Referee) di panggung terbesar sepak bola. Hasilnya? Ratusan insiden diperiksa, belasan peninjauan ulang di lapangan, dan rekor penalti yang memecahkan catatan edisi-edisi sebelumnya. Dari sisi bisnis, pendapatan FIFA melonjak hingga menembus 7,5 miliar dolar AS pada siklus 2019-2022 — naik signifikan dibanding siklus sebelumnya.

Babak Kedua: Ekspansi Piala Dunia 48 Tim

Inilah gol terbesar dalam karier Infantino: Piala Dunia 2026 akan tampil dengan format revolusioner 48 tim, melonjak dari tradisi 32 tim yang bertahan sejak 1998. Turnamen yang digelar di tiga negara — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — ini akan memainkan 104 pertandingan di 16 stadion, jauh melampaui 64 laga pada format lama. Laga pembuka dijadwalkan di Estadio Azteca, sementara partai final akan digelar di MetLife Stadium, New Jersey.

Statistik pendukungnya tak kalah mencolok. Piala Dunia 2022 Qatar, edisi pamungkas format 32 tim, menutup era dengan 172 gol — rekor tertinggi sepanjang sejarah — termasuk final epik Argentina kontra Prancis yang berakhir 3-3 sebelum adu penalti, lengkap dengan hat-trick Kylian Mbappé. Bagi Infantino, angka-angka itu menjadi amunisi bahwa ekspansi akan memperluas peta kekuatan sepak bola global, membuka slot bagi negara-negara yang selama ini hanya menjadi penonton.

Menit Akhir: Piala Dunia Antarklub dan Tantangan 2027

Memasuki menit-menit akhir mandatnya, Infantino masih menyimpan satu kartu truf: Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat yang untuk pertama kalinya diikuti 32 klub dari enam konfederasi, memainkan 63 pertandingan dalam sebulan penuh. Proyek ambisius ini menuai reaksi beragam — federasi pemain dan sejumlah liga menyoroti kepadatan jadwal serta risiko cedera, layaknya bek yang kelelahan di ujung laga.

Namun Infantino terus menekan seperti tim yang mengejar gol kemenangan. Sepak bola putri mendapat suntikan besar: Piala Dunia Wanita 2023 diikuti 32 tim dengan total hadiah 110 juta dolar AS, hampir empat kali lipat dari edisi 2019. Proyeksi pendapatan FIFA untuk siklus 2023-2026 bahkan dipatok menembus 11 miliar dolar AS.

Kini, dengan peluit akhir baru akan berbunyi pada 2027, warisan Infantino masih terus ditulis. Piala Dunia 2030 edisi seratus tahun sudah menanti di tiga benua. Seperti komentator yang menanti statistik akhir, dunia sepak bola menanti apakah angka-angka raksasa itu akan berbanding lurus dengan kualitas di lapangan hijau. Satu hal pasti: pertandingan ini belum selesai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User